<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235</id><updated>2011-12-25T09:24:00.453-08:00</updated><title type='text'>belajar memaknai hidup dan mengartikulasikannya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-6070288493314484711</id><published>2010-01-02T23:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T00:26:19.644-08:00</updated><title type='text'>Be Your Self  !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/S0BTqeSQDqI/AAAAAAAAAHY/O21KWymSn5Y/s1600-h/IMG_3966.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/S0BTqeSQDqI/AAAAAAAAAHY/O21KWymSn5Y/s320/IMG_3966.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422425940503301794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku bertemu mantan pacar secara online. Pada saat yang bersamaan itu adalah momen tahun baru. Aku mengucapkan selamat tahun baru padanya disertai doa dan harapan untuknya. Diantaranya, semoga selalu sehat, panjang umur, dan menjadi diri sendiri. Harapan dan doa itu tentu saja tulus dari hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon darinya agak sinis –tentu saja itu persepsiku, dan mungkin bukan yang sesungguhnya—dan lucu. Katanya,” memang kalo bukan jadi diri sendiri mau jadi apa? Pujangga cinta?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya saya memang jarang mendengar atau hampir tidak pernah mendengar doa semacam itu. Tidak heran kalau reaksi teman saya itu demikian. Tapi buat saya itu sangat penting dan mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, semoga selalu sehat. Apa yang bisa kita lakukan untuk hidup kita seandainya kebutuhan ini tidak terpenuhi. Bisakah kita bekerja dengan optimal, berpikir dengan jernih,  dan memberikan yang terbaik bagi diri kita apalagi bagi orang-orang yang kita cintai. Tentu saja tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, panjang umur. Hingga detik ini, bagaimanapun situasinya, menjalani hidup ini bagiku gampang-gampang susah dan seru-seru aja. Rasa syukur atas anugerah yang tak terhingga yang hidup berikan buatku. Potensi atau asset diri yang banyak dan akses untuk mengenal dunia dan kehidupannya secara lebih luas. Di Dubai aku belajar ragam budaya dan bahasa. Belajar hidup mandiri. Belajar bersabar. Belajar lebih mengenal diri sendiri melalui orang lain. Dan buatku itu seru. Dulu, aku cenderung menghindari masalah-masalah hidup. Tapi semakin aku dewasa, justru masalah yang berat semakin tampak biasa saja. Hidup yang seru ini rasanya sayang untuk diabaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menjadi diri sendiri. Ini yang sulit. Pernahkan kita mengalami keadaan dimana hati kecil kita bertentangan dengan apa yang kita kerjakan? Pernahkah kita merasa gengsi untuk meminta maaf padahal hati kecil kita mengatakan kita salah ? pernahkah kita merasa bukan diri kita? Saya pastikan. Bukan hanya pernah, tapi itulah kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ini berlangsung akrab dalam keseharian dan hidup kita. Sejak kecil kita senantiasa digiring untuk melakukan hal-hal yang jadi standar orang dewasa. Sudah dewasa pun kita lagi-lagi digiring untuk mengikuti standar orang-orang kebanyakan. Orang-orang kebanyakan pun sebenarnya sedang digiring untuk mengikuti standar siapa yang paling mempunyai kekuasaan untuk menentukan standar. Standar penguasa negarakah, standar pemimpin agamakah, standar yang punya modal kah, dan lain-lain. Manusia dan kehidupannya semakin terseret jauh berputar-putar di dalam arus yang sama. Hingga kita tidak punya waktu untu lebih mengenal diri kita lebih dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah luangkan waktu untuk mengenal diri kita lebih dekat. Saya percaya, dalam setiap diri kita ini ada pesan tuhan yang tersembunyi. Setiap diri kita ini adalah mahluk spiritual yang memiliki aspek-aspek ketuhanan di dalamnya. Hanya saja seringkali ego kita sebagai manusia yang tidak berani mengakuinya. Kita sering terlalu malas untuk merawat aspek kedirian itu. Terlalu angkuh untuk mengakui kekeliruan dan kelemahan diri, terlalu takut untuk ditolak karena berbeda, dan terlalu-terlalu yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita sejenak merenung, bagaimana seandainya kita lahir bukan dari perut ibu kita. Atau kita dibesarkan bukan oleh orang tua kita. Atau kita terlahir bukan dari tanah air kita. Dan lain-lain. Tentu saja kita bukan akan menjadi kita yang sekarang. Itu sudah pasti. Tapi kenapa kita berasal dari ibu kita, besar dilingkungan itu. Sementara semakin dewasa kita semakin melihat keragaman dengan segala aspek rinciannya. Apa hikmahnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak pernah berkata, “ we live in a house of mirrors and think we are looking out of the windows “. Kita ini hidup di rumah kaca yang saling menjiplak satu sama lain. Tapi kita selalu berpikir bahwa kita lah yang paling tahu. Kita sering merasa yang paling benar. Padahal kita hanya meniru satu sama lain. Sadar tidak sadar. Suka tidak suka. Itulah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebaskan diri kita dari kungkungan kewajiban-kewajiban yang tidak perlu. Kumpulkan keberanian untuk mengikuti kata hati. Tidak ada kata terlambat. Semua bisa dimulai kapanpun. Dari pada tidak sama sekali. Tidak menjadi diri kita maupun menjadi diri kita adalah persoalan memilih. Dan setiap pilihan tentu ada resikonya masing-masing. Lagi-lagi, pada saatnya nanti setiap kita akan kembali menjadi tanah dan tulang belulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Dibutuhkan kearifan untuk berani menjadi diri sendiri. Dan dibutuhkan proses yang lama untuk menemukan kearifan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru 2010. Be your Self !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-6070288493314484711?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/6070288493314484711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2010/01/be-your-self.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/6070288493314484711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/6070288493314484711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2010/01/be-your-self.html' title='Be Your Self  !'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/S0BTqeSQDqI/AAAAAAAAAHY/O21KWymSn5Y/s72-c/IMG_3966.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-3275588680008274097</id><published>2009-08-16T11:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-19T09:45:07.079-07:00</updated><title type='text'>“You can buy almost anything in Dubai, and now You can buy a friend !!”</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SohQTYYMVUI/AAAAAAAAAHA/yiPNJd69m2k/s1600-h/IMG_3750.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SohQTYYMVUI/AAAAAAAAAHA/yiPNJd69m2k/s320/IMG_3750.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370630849530975554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah tren yang muncul belakangan di Dubai. Yaitu sebuah jasa penyaluran TEMAN. Jasa ini hanya diperuntukan bagi perempuan yang membutuhkan teman di Dubai. Harga yang di tawarkan mulai dari 800 dirham atau kira-kira dua juta rupiah perhari untuk menemani belanja di mal dan ngobrol sambil minum kopi. Jasa penyaluran TEMAN EKSLUSIF  atau &lt;em&gt;‘Exlusively yours’&lt;/em&gt; ini harganya dapat bervariasi tergantung permintaan dari klien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan usaha ini professional. May Russel sebagai pemilik dan menejernya mengatakan bahwa banyak para pebisnis yang datang ke Dubai mengajak istri mereka dan tidak dapat menemani sang istri berkeliling karena bekerja. Sementara itu, sebagai pendatang baru, tidak mudah untuk menemukan teman yang dapat dipercaya untuk menemani. Jasa inilah bisa dijadikan alternatif yang aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, jasa ini juga melayani para perempuan yang hidupnya kesepian. Sebagai kota besar yang sedang pesat membangun, dimana orang banyak disibukkan oleh pekerjaan, hingga tidak ada waktu berteman, jasa ini pun salah satu cara mengatasinya. Dan banyak alasan lain yang mendasari usaha ini di jalankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun industri ini relatif baru di Dubai, namun ini lumrah berlaku di kota-kota besar di Amerka. Jasa ini dinamakan &lt;em&gt;the female chaperone service.&lt;/em&gt; Bagi perempuan yang ingin datang ke sini dan membutuhkan TEMAN, bisa kunjungi websitenya di www.eyint.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa usaha ini hanya diperuntukkan bagi perempuan, sebab kota ini memang tidak terlalu ramah terutama terhadap perempuan. Untuk tidak  mengeneralisasi, banyak fakta yang menunjukkan keadaan dimana perempuan masih begitu rentan berjalan sendirian di tempat-tempat tertentu termasuk pergi dengan jasa taksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tentu saja informasi ini hanya berlaku bagi mereka yang berkantong tebal. Kondisi dimana orang butuh teman, kesepian, malu, takut, adalah keadaan alamiah manusia tak terkecuali mereka yang hidupnya pas-pasan.  Lalu bagaimana bila mereka tidak sanggup menyewa sebuah jasa TEMAN EKSLUSIF ini? Tidak usah gelisah. Percayakan pada diri sendiri untuk mengatasinya. Masih banyak cara untuk mengatasi rasa sepi, bosan, malu, takut dan lain-lain meskipun dalam keadaan kantong yang pas-pasan. Tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Apalagi membeli seorang teman. Uang bukanlah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat, suatu hari aku pernah mempunyai pekerjaan sampingan sebagai TEMAN perempuan lokal. Sebagai seorang muslim konservatif, Ia tidak diperbolehkan berjalan jauh sendirian. Ia pun mempercayaiku untuk menemaninya. Hingga saat ini aku tidak pernah tahu rupa wajahnya karena selalu ditutupi cadar. Seluruh pakaiannya hitam yang lazimnya dinamakan abaya. Kami bertemu secara tidak sengaja saat ia berkunjung ke restoranku. Saat itu aku tidak berniat menjadi TEMAN perjalanannya. Aku hanya menawarkan diri untuk mencarikan TEMAN untuknya melalui teman-temanku. Sebab saat itu aku berpikir pekerjaan ini pasti membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menawari teman-temanku untuk pekerjaan ini di sela-sela hari libur mereka, awalnya mereka antusias tapi kemudian mereka merasa ragu saat tahu bahwa pekerjaan mereka hanya menemani sang nyonya selama perjalanan. Rata-rata temanku itu non muslim dan bagi mereka tradisi berbusana yang dikenakan sang nyonya ini aneh meskipun tidak bagiku. Bukan hanya caranya berpakaian namun alasan menemani ini pun buat mereka terdengar aneh. Meskipun pada akhirnya mereka mengerti saat kujelaskan. Akan tetapi bukan berarti mereka menerima pekerjaan ini. Apa boleh buat, akulah yang jadi teman sang nyonya ini pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal menarik yang tidak dapat kuceritakan secara khusus di sini bagaimana bentuk perTEMANan kami. Singkatnya, karena ia butuh TEMAN yang bisa di panggilnya setiap saat ia melakukan perjalanan, dan akupun tidak selalu punya waktu untuk menemaninya ( hanya hari libur ), perTEMANan kamipun hanya berlangsung beberapa saat. Yang aku tahu hanya namanya dan nomor telepon. Mungkin kalau suatu saat kami berpapasan di suatu tempat, aku tidak dapat mengenalinya. Hanya ia yang mengenaliku. Kadang-kadang lucu juga kalau ingat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana bila rasa bosan dan sepi hinggap atau kadang-kadang merasa takut sendiri ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa menggambarkan secara umum. Hal yang paling mendasari untuk melakukan sesuatu apapun itu adalah tujuan. &lt;strong&gt;Tentukan tujuan utama kita&lt;/strong&gt;. Biasanya adalah untuk memperoleh lebih banyak uang dan pengalaman. Pertama kali aku berencana untuk bekerja dan tinggal di sini, hal yang aku siapkan sejak awal adalah informasi tentang hal yang terkait dengan tempat yang aku diami saat ini. Mulai dari budaya, masyarakatnya, detail pekerjaan, peraturan-peraturan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mental. Setelah mengetahui dengan jelas informasi yang dibutuhkan, siapkanlah &lt;strong&gt;mental yang positif.&lt;/strong&gt; Buatlah serangkaian alternatif positif yang bisa dijadikan antisipasi bila hal-hal tidak menyenangkan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental yang positif diantaranya &lt;strong&gt;respek&lt;/strong&gt;. Jangan berusaha menghakimi sesuatu yang tampak berbeda dengan apa yang biasa kita pahami. Berusaha untuk &lt;strong&gt;berpikir terbuka&lt;/strong&gt; terhadap orang lain yang berbeda. Belajarlah untuk &lt;strong&gt;fleksibel&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membuat kita &lt;strong&gt;merasa bosan&lt;/strong&gt; adalah &lt;strong&gt;tujuan hidup yang kabur&lt;/strong&gt;. Biasanya lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh yang kuat atas cara berpikir kita dan atas setiap keputusan yang kita ambil. Berusahalah untuk tidak terpengaruh dan bangunlah rasa percaya dengan kemampuan diri sendiri untuk dapat mengubah keadaan betapapun buruknya. Tentu saja &lt;strong&gt;dalam prosesnya ini tidak mudah&lt;/strong&gt;. Satu persatu  teman kita biasanya pergi entah karena alasan ketidakcocokan dengan cara berpikir kita atau karena tidak tahan dengan cobaan hidup yang dialami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang juga sangat penting untuk menjadi bekal bekerja di negeri orang adalah keterampilan. Jangan pernah sekali-kali pergi bekerja ke luar negeri tanpa memiliki &lt;strong&gt;keterampilan yang jelas&lt;/strong&gt;. Terutama keterampilan bahasa. Persiapkan segala sesuatunya dengan matang. Dan jangan pernah berhenti &lt;strong&gt;belajar, berpikir kreatif, dan tekun&lt;/strong&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, berapapun penghasilan kita, &lt;strong&gt;Menabunglah. Menabunglah. Menabunglah.&lt;/strong&gt; Tidak semua orang beruntung dalam hidup dan pekerjaan mereka. Tapi bukan berarti harapan hidup kedepan yang lebih baik terkunci. Membiasakan diri menabung adalah menanamkan harapan hidup di masa depan. Orang yang tidak biasa menabung artinya orang yang tidak yakin akan masa depannya. Kalau tidak yakin dengan masa depan yang lebih baik, janganlah menciptakan mimpi apapun di benak kita. Sebab percuma saja. Mimpi itu tidak akan menjadi nyata. Ini hanya masalah pilihan keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari teman sebetulnya gampang-gampang susah. Aku mempunyai kategori dalam mengelompokkan orang-orang yang kukenal. Ada teman bekerja, ada teman kamar, ada temannya teman, dll. Tapi teman yang memiliki pola berpikir yang sama inilah yang sulit. Ada banyak cara untuk sekedar menambah teman pergaulan diantaranya bergabung dengan kegiatan arisan atau amal yang juga banyak diadakan di Dubai. Memang biasanya ini buat mereka yang berkantong cukup lumayan. Atau juga kamu bisa bergabung dengan berbagai kelompok pecinta olahraga seperti sepeda, jogging, dll. Bergabung dengan kegiatan seperti ini lebih natural untuk menemukan teman dan tidak perlu keluar biaya yang terlalu banyak dari pada menyewa jasa di atas. Sebab bagi yang berkantong tebal yang sanggup menyewa jasa TEMAN INSTAN ini, bukan berarti persoalan mereka berhenti sampai di situ. Sebab TEMAN EKSLUSIF itu bukanlah teman yang sebetulnya kita butuhkan. Lebih dari itu,&lt;strong&gt;Jiwa kitalah teman sejati kita.&lt;/strong&gt; Rawatlah jiwa itu, dan janganlah membiarkan jiwa itu pergi dari diri kita. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-3275588680008274097?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/3275588680008274097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/08/you-can-buy-almost-anything-in-dubai.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/3275588680008274097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/3275588680008274097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/08/you-can-buy-almost-anything-in-dubai.html' title='“You can buy almost anything in Dubai, and now You can buy a friend !!”'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SohQTYYMVUI/AAAAAAAAAHA/yiPNJd69m2k/s72-c/IMG_3750.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-8855222366534542289</id><published>2009-08-15T09:01:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T12:46:31.749-07:00</updated><title type='text'>Untuk Kita yang Mencintai Hidup dan Perbedaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SobkxucAQqI/AAAAAAAAAGg/-6j5U4ZMM-Q/s1600-h/globe.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 170px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SobkxucAQqI/AAAAAAAAAGg/-6j5U4ZMM-Q/s400/globe.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370231148616106658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar beberapa tahun yang lalu saya menonton sebuah film tentang perselisihan antara muslim Pakistan dan hindu serta sikh India yang pada saat itu masih bersatu di bawah pemerintahan kolonialisme Inggris pada sepanjang abad 18 hingga pertengahan abad 19. Pada puncaknya kedua kelompok agama ini dipisahkan untuk menempati wilayah yang berbeda. Kelompok muslim yang berada di India terpaksa harus bermigrasi ke wilayah Pakistan. Sementra kelompok sikh dan hindu yang berada di Pakistan juga terpaksa harus bermigrasi ke wilayah India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah film yang digarap apik dimana aktor berdarah India Yahudi, yang juga memenangkan penghargaan atas perannya ini, Ben Kingsley terlibat di dalamnya. Ia berperan sebagai Mahatma Gandhi salah satu tokoh kunci yang mewakili agama hindu dan sikh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya Gandhi tidak menyetujui pemisahan ini. Pengungsian massal ini di pandangnya terlalu membawa resiko yang sangat mahal. Bukan hanya materil tapi juga tidak menjamin kedua kelompok yang berselisih ini akan berdamai dan persoalan ketegangan keduanya pun akan selesai begitu saja. Namun usaha-usaha diplomasi yang dilakukannya pun tidak membawa hasil sebagaimana impiannya atas India yang mayoritas berpenduduk Hindu dan Sikh bisa berdampingan dengan Pakistan yang mayoritas muslim. Secara sendirian Ia berhadapan dengan sejumlah tokoh penting terutama dari kelompok muslim Pakistan yang menghendaki pemisahan wilayah India dengan Pakistan diantaranya Muhammad Ali Jinnah dan Jawaharlal Nehru atas Hindu dan Sikh. Gagasan Gandhi mengenai integrasi ini membawa kematian pada akhirnya. Ia tewas ditangan ekstemis hindu yang menganggap Gandhi telah menodai keyakinan agamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini sejak lebih dari dua tahun saya tinggal di negara yang banyak dari jumlah penduduknya berasal dari kedua negara tesebut; India dan Pakistan. Saya pun sempat merasakan tinggal dalam satu kamar bersama perwakilan dari kedua negara tersebut selama lebih dari setahun. Amu yang berasal dari India dan Shazia yang berasal dari Pakistan. Kedua temanku ini lahir dari generasi yang tidak merasakan secara langsung getirnya kehilangan tanah air, keluarga dan harta karena perang agama yang terjadi pada beberapa dekade silam. Selain itu mereka berasal dari keluarga mapan dan terdidik. Sehingga sentimen sentimen kebencian yang masih tersisa hingga saat ini tidak dirasakan oleh kedua temanku ini. Lain halnya bila mereka berasal dari keluarga serba kekurangan. Di luar sana bukan berarti kebencian dan sinisme diantara kedua bangsa ini pupus. Sebab ketengangan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah pahit masa silam maupun ketidak adilan baik secara ekonomi, sosial dan politik yang dialami kedua bangsa hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari saya berbaur dengan warga India dan Pakistan selain dengan warga Arab dan Filipina. Kadangkala hal-hal remeh bisa menjadi cukup serius dan membawa perdebatan sengit yang tak jarang memunculkan sentimen kebangsaan dan agama pada akhirnya. Hal ini seringkali terjadi. Tentu saja bukan berarti warga negara yang bukan Pakistan dan India tidak melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kedua negara tersebut kini tengah menancapkan pembangunan dan menunjukan sejumlah kemajuan di berbagai bidang kehidupan sejak kemerderkaaanya dari kolonialisme Inggris yang menjajah negeri itu kira-kira selama satu setengah abad, namun jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat signifikan jumlahnya. Bukan hanya itu, kedua negara yang berselisih ini juga masih memiliki masalah internal lain di dalamnya seperti perpecahan antara kelompok dan suku juga munculnya sejumlah kelompok-kelompok ekstemis yang acapkali menteror kehidupan dan pembangunan yang sedang berjalan hingga saat ini. Hal-hal yang dikhawatirkan Gandhi nampaknya terbukti. Masalah India dan Pakistan tidak cukup bisa teratasi hanya dengan memisahkan kedua kelompok beragama tersebut dalam wilayah yang berbeda. Tapi harus menyetuh akar masalah yang paling fundamental ; keadilan sosial dan pembentukan budaya toleransi antar kelompok beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SobpWUBMh8I/AAAAAAAAAG4/fDkSlhHuyew/s1600-h/religious+symbols.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SobpWUBMh8I/AAAAAAAAAG4/fDkSlhHuyew/s200/religious+symbols.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370236175226013634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila kamu pernah menyimak sebuah film yang memenangkan oscar baru-baru ini berjudul &lt;em&gt;Slumdog Millionare&lt;/em&gt;, banyak kisah dari tokoh utamanya di masa kecil hingga dewasa yang menggambarkan tentang itu semua di dalamnya. Atau bila kamu pernah menonton film lain yang berjudul &lt;em&gt;Partition&lt;/em&gt;, juga menceritakan hal senada dimana seorang pasangan berbeda agama muslim dan hindu sikh yang mempunyai seorang anak kecil dipisahkan satu sama lain oleh keluarga mereka. Dan tentu saja masih berserakan kisah-kisah yang sama terlepas dari perselisihan antara India dan Pakistan yang selalu menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolonial Inggris yang berabad-abad silam menyebarkan kekuasaannya di sebagian besar wilayah di bumi ini, pada bulan agustus enam dekade silam akhirnya mengakui kedaulatan beberapa bangsa di Asia diantaranya India dan Malaysia setahun kemudian.  Persatuan India akhirnya dipisahkan menjadi dua wilayah India dan Pakistan. Sehingga hari kemerdekaan keduanya berselang satu hari. India dianggap merdeka setelah Pakistan. Dan hari selanjutnya Indonesia yang merdeka dari Kolonial Belanda dua tahun lebih awal meskipun setelah kemerdekannya Indonesia masih berada dalam penjajahan Jepang hingga meletusnya Bom di dua kota kunci Jepang Hirosima dan Nagasaki oleh tentara sekutu pada perang dunia ke dua hingga membebaskan Indonesia pada akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali-kali kita perlu melihat gambaran kehidupan ini dari kaca mata lain. Sekali-kali pikiran kita perlu melompat jauh melampaui dari apa yang biasa kita alami dan pahami. Kita akan menemukan satu buah pemahaman tentang hidup yang lebih luas dan kita menjadi semakin kecil di dalamnya. Namun bukan berarti kita tidak memiliki kekuatan untuk dapat mengubah keadaan sekecil apapun itu. Mahatma Gandhi adalah tokoh bagi warga India, sebagaimana keluarga Butho adalah tokoh bagi warga Pakistan. Dan Kita pun memiliki tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan di masa silam diantaranya Sukarno-Hatta. Apa yang membuat perjuangan mereka berhasil dan tidak mudah orang melupakannya adalah komitmen mereka atas apa yang mereka yakini untuk di perjuangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini setelah pemilihan presiden beberapa pekan yang lalu, kembali Indonesia dikejutkan oleh ledakan bom yang terjadi di tempat yang pernah terjadi sebelumnya. Entah motifnya apa, terlepas dari siapa pelakunya, tidakkah  ini mengherankan bagi kita yang berpikir jernih. Adakah yang lebih berharga dari hidup selain melanjutkannya hingga tuntas tanpa memutuskan jalurnya dengan menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Tidakkah ini mengherankan bagi mereka yang berakal sehat bahwa kita semua hanya terdiri dari darah dan daging dengan sumber yang sama tapi terlahir ke dunia ini dengan pilihan berbeda yang sudah ditetapkan. Siapa yang ingin hidup miskin, cacat,bodoh, gagal, dan hancur sia-sia? Bukankah kita ingin terlahir sempurna tanpa cacat, lahir dari keluarga berada, terdidik, dll. Benarkah itu semua takdir yang sama sekali tidak dapat diubah? Belajarlah lagi pada sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hidup ini kadang-kadang sulit. Tapi bisakah kita sejenak untuk tidak berpikir bahwa menjalani hidup itu begitu sulit. Bisakah kita percayakan pada kemampuan diri untuk dapat mengubahnya. Hidup kadangkala memang tidak adil tampaknya. sebagian orang begitu beruntung dan sebagiannya lagi tidak. Namun bukalah mata hati dan pikiran kita, bukankah begitu banyak orang-orang dalam sejarah yang menjadi mutiara bagi masyarakat di sekitarnya baik skala kecil maupun lintas benua dan sejarah, padahal mereka berasal dari "lumpur yang kotor" yang tampaknya juga mustahil bisa mengubah "dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup hanyalah masalah pilihan. Bagi kita yang menghendaki perubahan, hidup berjuang terseok-seok adalah lebih baik dari pada mati konyol dan kalah sebagai pecundang sebelum pertempuran usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk India, Pakistan, Indonesia, malaysia dan negara-negara yang merayakan kemerdekaan pada bulan ini, Selamat !!! perjalanan masih panjang. bukan hanya Chairil Anwar akupun bahkan ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekali hidup berarti dan sudah itu mati, kawan ! &lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Katanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-8855222366534542289?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/8855222366534542289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/08/untuk-kita-yang-mencintai-hidup-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/8855222366534542289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/8855222366534542289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/08/untuk-kita-yang-mencintai-hidup-dan.html' title='Untuk Kita yang Mencintai Hidup dan Perbedaan'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SobkxucAQqI/AAAAAAAAAGg/-6j5U4ZMM-Q/s72-c/globe.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-4149152375921997561</id><published>2009-07-31T12:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-08T13:43:34.068-07:00</updated><title type='text'>Hidup adalah kesunyian hidup masing-masing</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/Sn3jajPa4AI/AAAAAAAAAGI/hP96_IOJ1WQ/s1600-h/Desert+Landscape.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/Sn3jajPa4AI/AAAAAAAAAGI/hP96_IOJ1WQ/s320/Desert+Landscape.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367696376171520002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ini adalah tulisan seorang teman waktu sama-sama di FORMACI.Saat ini Ia sedang mengambil kuliah hukum di universitas Melbourne Australia. semoga bisa menginspirasi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah kesunyian nasib masing-masing, kawan! Siapa yang menyangka K pernah bercita-cita jadi artis sinetron? Siapa yang menyangka pula dia akan menginap beberapa tahun di hotel prodeo? Siapa yang menyangka seorang kawan yang selalu berprestasi, punya bakat yang hebat sebagai pemimpin, tiba-tiba jadi aktivis Jamaah Tablig? Siapa yang menyangka seorang kawan yang begitu jenaka, sedikit 'ngawur' tiba-tiba jadi ajengan? Dan banyak lagi cerita yang bisa anda tambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menyangka Hirata akan mendarat di Eropa, menyusuri gang-gang di Venice, menikmati senang dan menantangnya belajar di Sorbonne, sementara Lintang tetap mondar-mandir dengan truknya di Belitong mengangkut pasir. Seorang kawan dekatku harus tetap menghemat waktu tidur malam karena harus menjaga warung burjonya. Seorang kawanku yang lain sedang bergulat dengan arsip-arsip kuno di sudut kota Kairo. Aku sedang berdebar-debar menunggu anak pertamaku lahir dari sudut jalan Decarle. Seperti Hirata dan Lintang, dulu kami bersama-sama, belajar di sebuah tempat yang sama, dengan guru yang sama, di lingkungan yang sama. Namun nasib yang sunyi menyeretku ke mari, dan mereka ke sana. Ah.. hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qabil dan Habil lahir dari satu rahim yang sama, Hawa. Namun kenapa yang satu jadi mahluk setengah dewa sementara yang lain jadi durjana? Bawang Merah dan Bawang Putih adik kakak, dididik oleh orang tua yang sama, tapi kenapa mereka menjadi pribadi yang berbeda. Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup akan terus berlangsung. Mungkin K kelak justru jadi presiden dan aku pulang kampung jadi petani. Mungkin kawanku yang setiap malam begadang menjaga warungnya 20 tahun yang akan datang sudah menjadi bos kios selular (dia bilang akan buka usaha baru) atau jadi pengusaha sukses. Siapa tahu? Hidup mengalir ke arah yang tak terduga sebelumnya. Chairil Anwar menggambarkan semua ini dengan sebuah kalimat indah: hidup adalah kesunyain nasib masing-masing. Seorang kawan menambahkan: hidup adalah kesetiaan kita pada proses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita boleh makan makanan yang sama, ngaji pada guru dan kyai yang sama, belajar menggunakan sylabus yang sama, bahkan lahir dari rahim yang sama, tapi kenapa setiap kita berbeda? Setiap kita akan menapaki jalan hening nasib. Langkah-langkah itu jarang sekali kita sadari. Namun kalau ada kawan yang sepuluh tahun tak bersua dengan kita, kita bisa melihat jejak keheningan nasib hidupnya. Juga jejak dari kesetiaannya pada usaha dan proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat Fromm, Erich Fromm. Dia seorang psikolog aliran psikoanalisa. Aku mengkajinya dulu di Fromaci. Samar-samar teorinya masih menempel di benakku. Kata dia, setiap kita, setiap manusia, adalah mahluk unik. Tak ada satupun wajah yang sama, tak ada satupun sidik jari yang serupa. Bahkan kepribadianpun tidak ada yang sepenuhnya identik. Kata dia, yang membuat semua ini terjadi adalah karena kita manusia ini adalah mahluk yang 'menjadi', 'to be'. Wahib dengan bagus menggambarkan bahwa dirinya bukanlah Wahib, dia adalah 'mewahib'. Jadi, anda bukan Koko, tapi 'mengkoko', 'mengjoko', 'mengumam', dan 'menzezen' (Uh sangat janggal dan aneh, apalagi membaca urutan nama yang terakhir!). Setiap kita, K, Udin, Zezen, dan anda adalah mahluk yang akan terus menjadi, 'becoming', berproses dan berubah. Berubah adalah esensi manusia. Tidak ada gambaran utuh K karena K akan senantiasa bermetamorfosa, berubah, menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah hakikat dasar manusia. Sebelum anakku lahir, aku sama sekali tidak punya gambaran seperti apakah dia. Mungkin akan tergambar sedikit wajahnya: ia akan merupakan gabungan wajahku dan wajah istriku. Namun aku sama sekali tidak akan tahu siapa dia, siapa anakku, sampai dia lahir, berproses, satu persatu mengumpulkan kecakapan membangun ke-diriannya. Itulah yang membedakan antara anakku dengan kursi indah dari Jepara. Sebelum sebuah kursi 'lahir' ke dunia, si pengrajin sudah memperoleh gambaran dan pengetahuan utuh tentang kursi yang ingin 'dilahirkannya'. Kalau saya menulis kata 'botol' atau 'kuris' di benak anda pasti akan ada sebuah gambaran umum yang mana setiap kita pasti akan memeiliki kesamaan dalam menggambarkannya. Namun jika aku menulis 'Wahid' atau 'Firman' setiap kita pasti akan memiliki gambaran berdeda. Manusia adalah mahluk yang eksistensinya ada mendahului esensinya, sementara benda adalah mahluk yang mana esensinya ada sebelum menjelma dalam kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenapa hidup menjadi hening. Kita akan menapaki jalur kita masing-masing, dalam hening. Hakikat kita akan terus menjadi, 'becoming' karena kita bukan benda. Semoga semuanya akan berubah, menjadi ke arah yang lebih baik, bergerak ke pendulum kedewasaan dan kebijaksanaan. Berproses dalam damai. Peace...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Decarle, 28/07/09 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terimakasih Zezen. Semoga anakmu terlahir secerdas bapaknya dan menentramkan kedua orangtuanya :)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-4149152375921997561?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/4149152375921997561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/07/hidup-adalah-kesunyian-hidup-masing.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4149152375921997561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4149152375921997561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/07/hidup-adalah-kesunyian-hidup-masing.html' title='Hidup adalah kesunyian hidup masing-masing'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/Sn3jajPa4AI/AAAAAAAAAGI/hP96_IOJ1WQ/s72-c/Desert+Landscape.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-4950703459675468028</id><published>2009-05-20T00:14:00.001-07:00</published><updated>2009-05-20T00:14:38.533-07:00</updated><title type='text'>Lentera Hati</title><content type='html'>Jum'at, 29 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLgu0HjERPI/AAAAAAAAAOY/HGGOQZfdkFY/s1600-h/andy+f+noya.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLgu0HjERPI/AAAAAAAAAOY/HGGOQZfdkFY/s200/andy+f+noya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239989639359775986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ini adalah tulisan dari mantan pimpinan redaksi Metro TV Andy F Noya. Beliau juga merupakan favorit saya untuk acara "Kick Andy" yang diasuhnya. Semoga bisa menginspirasi..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terimakasih Mas Andy atas tulisannya. Keep inspiring, stay smart and happy ...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-4950703459675468028?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/4950703459675468028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/lentera-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4950703459675468028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4950703459675468028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/lentera-hati.html' title='Lentera Hati'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLgu0HjERPI/AAAAAAAAAOY/HGGOQZfdkFY/s72-c/andy+f+noya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-2727032964127964595</id><published>2009-05-20T00:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T00:12:06.904-07:00</updated><title type='text'>Edensor</title><content type='html'>Sabtu, 23 Agustus, 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLBiJE1IleI/AAAAAAAAAOQ/b5_84L45y1U/s1600-h/IMG_2736.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLBiJE1IleI/AAAAAAAAAOQ/b5_84L45y1U/s200/IMG_2736.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237794274686834146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;em&gt;Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan guru-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! ingin merasakan saripati hidup !”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sebuah penggalan kata-kata yang tertuang dalam novel ke tiga dari tetralogi laskar pelangi yang berjudul Edensor. Novel ini juga merupakan nominator khatulistiwa literary award tahun 2007. Novel kisah pengalaman pribadi sang penulis Andrea Hirata ini bercerita mengenai bagian dari kisah perjalanan hidupnya dalam pencarian jati diri dan cinta. Tema yang tidak baru pada dasarnya, Namun kita akan tenggelam dan terinspirasi menyimak lika-liku hidup yang dijalaninya sebagai anak desa yang miskin namun berani mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal, demikian tokoh utama dalam cerita ini, yang juga merupakan nama kecil Andrea Hirata adalah seorang anak yang lahir dari pedalaman desa belitong, Bangka Belitung. Lingkungan yang membesarkannya adalah lingkungan buta huruf. Bersama kesembilan teman-teman sekolahnya sejak SD hingga SMP, Ikal, Arai, Lintang, Mahar adalah diantara anak-anak cerdas yang lahir dari perut bumi pertiwi ini. Bakat-bakat alam kecerdasan yang menonjol dari mereka masing-masing, dibuktikan secara alami, nyata dan luar biasa. (laskar pelangi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa terutama Ikal dan Arai, dua tokoh utama dalam novel ini, terbiasa bekerja di sela-sela kegiatan sekolahnya. Jalan hidupnya yang keras mengajarinya banyak hal tentang pentingnya memiliki dan mewujudkan mimpi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang melilitnya melalui pendidikan apapun resikonya. Ikal dan Arai adalah juga dua orang berjiwa petualang yang senang belajar (Sang Pemimpi). Kecerdasannya dibuktikan lewat prestasi akademisnya yang menonjol. Semangat inilah yang mendatangkan pelukan semesta untuk merengkuh impian mereka hingga ke Paris. Meskipun malang bagi Arai, di tengah perjalanan studinya, Ia terserang penyakit pernafasan genetis yang membuatnya harus menjalani perawatan dan kembali ke tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kutipan yang coba ku ingat di awal tulisannya adalah : &lt;em&gt;“Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi Eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolute, dan waktu relative tergantung kecepatan gerbong, maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relative satu sama lain”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak kisah yang tertuang dalam novel Edensor ini, memberikanku satu lagi pelajaran tentang buah dari optimisme dan kerja keras. Aku jadi ingat rekan-rekan kerjaku yang semakin hari tampak semakin lupa pada kedua spirit ini. Tawa yang pudar, semangat hidup yang rapuh kerap mewarnai hari-hari ku di tempat kerja. Mungkinkah dunia yang ada di benak mereka itu hanya dunia yang terbatas pada apa yang mereka jalani sehari-hari? Berkutat dengan rutinitas kerja yang membosankan, mengandalkan nasib pada manajemen yang dikelola orang-orang tanggung, sementara dalam diri tidak punya keberanian bahkan lintasan pikiran untuk “bermimpi” dan melahirkan “dunia-dunia alternatif” yang mungkin saja berpeluang mewujud tanpa MERUSAK dunia sehari-hari yang secara relatif “kurang menjanjikan”. &lt;em&gt;Just break your own pack !!! Oh..come on Guys..keep up your spirit !!! where’s your positive energy ???&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di halaman paling awal, sebuah kutipan yang diinterpretasikannya dari Harun Yahya adalah : &lt;em&gt;“Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah sub system keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLuQAebGyCI/AAAAAAAAAOg/vMKFwcuxCsw/s1600-h/Autumn+Leaves.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLuQAebGyCI/AAAAAAAAAOg/vMKFwcuxCsw/s200/Autumn+Leaves.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240940929216858146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I always believe that whatever happens in our lives, there’s always reason behind that. We have our own pieces of mosaics to mend as our own pictures. Find them out then reveal the secret. Life is a blessing. So, don’t waste your time and energy for being depressed of –could be—nothing. Open your mind and Enjoy Guys…!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        ***********&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-2727032964127964595?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/2727032964127964595/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/edensor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/2727032964127964595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/2727032964127964595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/edensor.html' title='Edensor'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLBiJE1IleI/AAAAAAAAAOQ/b5_84L45y1U/s72-c/IMG_2736.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-1942759068092418886</id><published>2009-05-20T00:09:00.001-07:00</published><updated>2009-05-20T00:09:43.978-07:00</updated><title type='text'>Hidup, Manusia, dan Segala Tingkah Polahnya (bag II)</title><content type='html'>Kamis, 22 Mei 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWqpcCBS2I/AAAAAAAAAMs/_Ipk2pp2WuQ/s1600-h/IMG_1325.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWqpcCBS2I/AAAAAAAAAMs/_Ipk2pp2WuQ/s320/IMG_1325.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203252573372500834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hidup kadang tidak ramah pada kita ? mungkin pertanyaan ini pernah atau kadang, bahkan sering kita lontarkan pada diri kita sendiri ? dan pernahkah ada jawaban yang kita punya saat pertanyaan itu terus-menerus muncul ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu teman kerjaku dari Nepal terlihat sedih. Pasalnya, karena kesalahan kecil yang dibuatnya membuatnya berhadapan dengan ancaman transfer tempat kerja. Selain itu, secara staff baru, Ia merasa Ia juga berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan performa kerja sebagaimana yang diharapkan manajemen. Sebagai staff yang lebih lama, aku berusaha mendorongnya untuk tidak larut memikirkan baik ancaman transfer, maupun kesalahannya. Sakit memang ketika sebuah usaha yang jujur tidak mendapatkan sebuah apresiasi justru malah dituduh tidak bertanggung jawab apalagi hanya karena kesalahan yang begitu sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa seorang kameramen al-Jazeera asal Sudan bernama Sami al-Hajj akhirnya dibebaskan setelah kurang lebih enam tahun mendekam di penjara Guantanamo yang konon paling seram atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Ia sendiri dihukum penjara tanpa melalui proses pengadilan. Saat itu ia meninggalkan seorang bayi laki-laki yang kini sudah berusia enam tahun. Apa itu Guantanamo, bagaimana dan siapa saja yang menghuninya, aku tidak dapat membayangkan bagaimana image seram yang ada padanya sebagai penjara yang paling mengerikan di dunia. Menurutnya, tikus lebih di perlakukan manusiawi dari pada manusia sendiri. Syit ! what a hell ! benakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWtTcCBS3I/AAAAAAAAAM0/ALL-7q1AWuc/s1600-h/IMG_1012.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWtTcCBS3I/AAAAAAAAAM0/ALL-7q1AWuc/s200/IMG_1012.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203255493950262130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sebulan yang lalu, aku menyaksikan akting si cantik Angelina Jolie dalam A Mighty Heart. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Ia memerankan tokoh Marianne pearl dengan sangat bagus dimana Ia menjadi seorang istri wartawan yahudi yang diculik dan akhirnya di bunuh dengan keji oleh para teroris ketika kunjungannya ke Karachi beberapa tahun yang lalu pasca peristiwa 11 september. Dalam cerita itu di gambarkan mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang bahagia karena sang istri sedang mengandung. Kesamaan visi dan idealisme membuat mereka bertemu dan sebuah tanggung jawab profesi membawanya berada di Karachi.  Terlepas dari tuduhan sebagai mata-mata, keyahudian Danny Pearl sang suami ternyata menjadi momok yang membahayakan nyawanya yang berada di tengah-tengah ektremis kelompok muslim Karachi. Dan identitas yahudi ini pun tidak pernah Ia tutupi ketika orang menanyakan agamanya sebab dengan pikiran positif dan terbukanya, mungkin baginya tidak ada yang keliru dengan itu. Seluruh keluarganya Yahudi maka Ia pun terlahir sebagai seorang Yahudi, tentu saja bukan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa bulan yang lalu, seorang penjual gorengan bunuh diri di Serang, Banten. Mahalnya biaya hidup dan ketidak seimbangan antara daya beli, kebutuhan dan pendapatan, membuatnya putus asa dan terpaksa menghabisi nyawanya dengan meninggalkan istri dan beberapa anak-anaknya yang masih berusia sekolah dan pertumbuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangkali setahun yang lalu. Tiga orang anak kecil meninggal sia-sia dibunuh sang ibu yang khawatir tidak dapat membesarkan anaknya dengan baik. Menurutnya membunuhnya lebih baik dari pada menyaksikan ketidakbahagiaan ketiga buah hatinya. Oh my God …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua minggu yang lalu, sebagian rekan kerjaku berduka ketika badai topan dahsyat meluluh lantakkan sebagian wilayah di negaranya, Myanmar. Beberapa dari mereka, termasuk korban. Meskipun keluarganya selamat, namun topan dahsyat itu telah menghancurkan rumah mereka. Rasanya habis jatuh tertimpa tangga, melihat kondisi politik di negaranya yang memanas, dibarengi datangnya bencana alam yang mengejutkan. Selanjutnya, menyusul kemudian gempa di China yang menewaskan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayed Ali, seorang bapak di Afganistan, terpaksa menjual anak perempuannya yang baru tumbuh remaja seharga 2000 $ karena untuk menyelamatkan anak-anaknya yang lain dari kematian karena kelaparan. Negara yang akut dilanda konflik dan peperangan ini mengakibatkan merajalelanya jumlah pengangguran dan kelaparan. Sayed Ali hanya seorang dari puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu lainnya yang bernasib serupa. Sehari-hari , Ia mengais bekas sisa makanan yang dikumpulkannya jadi satu tempat untuk dibawa pulang. Dengan perih Ia berbohong pada keluarganya bahwa Ia diberi atau membeli makanan itu. Ketika ditanya tentang anak perempuannya, dikatakannya bahwa Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tiga hari yang lalu, sebutlah Siti, seorang pembantu rumah tangga di Sharjah, negara bagian dekat Dubai. Selama 20 bulan bekerja, majikannya tidak pernah membayar upahnya yang dijanjikan sebesar 600 dirham perbulan. (beberapa kali lipat dari gajiku yang bekerja hanya 8 jam, plus public holiday, off, dan vacation, juga staffmeal). Ia bekerja dari pagi hingga jam satu malam tanpa libur. Ia pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya karena handphonenya di tahan sang majikan. Bersyukur sekarang Ia bisa sedikit menghirup udara dan berada di tangan konsulat RI di Dubai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWu5sCBS4I/AAAAAAAAAM8/OQqKiNuzD4s/s1600-h/IMG_0960.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWu5sCBS4I/AAAAAAAAAM8/OQqKiNuzD4s/s200/IMG_0960.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203257250591886210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Dubai sedang musim panas. Konon pada puncaknya, temperatur bisa mencapai hingga di atas 50 derajat celcius. Sebab di media tidak pernah tercatat hingga sebanyak itu. Tahun lalu aku bisa merasakan tingkat kepanasan itu. Diam di rumah adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Bisnis restoranku pun sepi. Customer lebih memilih berlibur ke luar negeri atau tinggal di rumah. Musim dingin lebih singkat dari musim panas. Terus terang, meskipun bagi sebagian orang yang terbiasa dingin, terutama teman-teman Libanon ku yang kebagian datangnya salju di negara mereka bila musim tiba, bagiku, musim dingin di Dubai, benar-benar membuat badanku kaku sulit bergerak. Sementara itu, dibawah gedung tempatku tinggal, ada beberapa orang yang menghuni pelataran yang digunakan sebagai tempat parkir mobil. Mereka kujumpai sedang terlelap tidur setiap kali aku berangkat kerja, yang hanya beralaskan kardus dengan posisi tangan dilipat dan kaki ditekuk. Aku tahu, mereka pasti merasa dingin sekali. Tapi aku juga tidak tahu siapa dan dari mana mereka datang, tidakkah mereka punya tempat tinggal, kalau memang mereka bekerja di wilayah proyek konstruksi depan gedungku, tidakkah perusahaan menjaminkan asrama bagi mereka? Cerita ini barangkali mirip dengan berita yang kubaca di koran lokal beberapa  minggu yang lalu. Puluhan imigran yang terbengkalai ketika mereka tiba di Dubai dengan status illegal. Mereka datang melalui agen tak resmi yang memalsukan berbagai dokumen sebagai persyaratan untuk bekerja di Dubai. Sebagian besar berasal dari India, Pakistan, srilangka, dan Bangladesh. Berminggu-minggu mereka menempati sebuah taman di kawasan Karamah, wilayah lain yang dekat dengan Deira. Kusaksikan gambar sejumlah orang terbaring dengan tatapan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWwN8CBS5I/AAAAAAAAANE/m_TyY5kb9-g/s1600-h/IMG_0667.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWwN8CBS5I/AAAAAAAAANE/m_TyY5kb9-g/s200/IMG_0667.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203258697995864978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambaran ketidakramahan ini hanya nol koma sekian sekian dari betapa tak terhitungnya cerita tentang kegetiran demi kegetiran hidup yang berserak di muka bumi ini. Kegetiran manakah yang kita alami sehari-hari ? adakah kegetiran yang kita alami dari sesuatu yang kita tak berdaya mengubahnya, ataukah itu drama kegetiran yang kita ciptakan sendiri dan masih dapat kita modifikasi, susun ulang, atau kita ubah ?  Dan dimanakah posisi kita, ditengah-tengah ancaman kepunahan sebagian ekosistem dibumi yang tak terelakkan akibat efek pemanasan global ini, adakah setitik embun yang bisa kita teteskan untuk meredakan hidup yang kadang getir ini ?  pernahkah kita bersyukur saat kita masih bisa bangun pagi, melihat sinar matahari masuk lewat jendela kamar kita, dan kita masih bisa menghirup segar udara pagi, menikmati indahnya bangun, melemaskan otot sebelum beranjak melangkah menuju kamar mandi, merasakan sejuknya disiram air, dan harumnya sentuhan sabun mandi, lalu nikmatnya menyantap sarapan pagi sebelum kembali melakukan aktivitas bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Dubai, aku banyak bersentuhan dengan warga negara Libanon. Beberapa dari mereka kukenal dengan sangat baik. Paras yang indah dan kekayaan alam yang berlimpah, mengenal Libanon dari dekat melalui orang-orangnya, sangat disayangkan kini kondisi politik di negaranya kian memanas. Mereka sangat kental persaudaraan sesama bangsanya dan kental nasionalismenya. Setiap kali aku berkunjung ke tempat mereka,  kerapkali yang dibicarakan adalah masalah negerinya. Tayangan pidato Hassan Nasrullah pun akhirnya menjadi makananku sehari-hari. Musik dan lagu-lagu yang seringkali diputar adalah lagu-lagu arab dan lagu-lagu patriotismenya kelompok Hizbullah. Sayangnya mereka mempunyai gaya hidup yang mahal. Mempunyai negara yang kacau balau dan tinggal di Dubai yang kering dan membosankan plus biaya hidup yang mahal, seperti buah simalakama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWytMCBS6I/AAAAAAAAANM/_fmuQK4_noQ/s1600-h/IMG_1371.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWytMCBS6I/AAAAAAAAANM/_fmuQK4_noQ/s200/IMG_1371.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203261433890032546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu, aku ingat sebuah film berjudul Life is Beautiful atau dalam judul lainnya yang berbahasa Italia yaitu La Vida Bella. Sebuah komedi satir yang dimainkan Roberto Benigni sebagai seorang yahudi asal Italia yang terseret dalam jebakan kamp konsentrasi pada perang dunia dua saat rezim Nazi berkuasa di Jerman. Dalam cerita itu Ia selalu menciptakan tawa dalam setiap kejadian pahit yang dialaminya. Sebagai manusia dan laki-laki pada umumnya, Ia juga mengalami jatuh cinta pada seorang wanita, pacaran, menikah dan berkeluarga. Di tengah-tengah dunia yang sedang berperang, dan terlahir sebagai komunitas etnis minoritas yang diperlakukan diskriminatif bahkan terancam dimusnahkan, Ia seakan-akan berusaha menciptakan dan berada dalam dunia tawanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, aku merasa beruntung ketika aku terlahir ke dunia dalam kondisi fisik yang baik, nyaris sempurna. Orang tua yang sederhana dan bertanggung jawab, saling support dalam perekonomian keluarga. Mereka memberiku keleluasaan mengenal dunia seperti apa yang kuinginkan, meskipun pada awalnya sulit mendapatkan restu dan kepercayaan mereka, namun cinta mereka meluluskan pendirianku pada akhirnya. Aku pun terlahir di tengah-tengah komunitas homogen yang dominan dari berbagai unsurnya. Aku lahir sebagai perempuan yang pada umumnya tertarik pada laki-laki. Tentu berbeda bila aku memiliki kecenderungan seks sesama jenis, resistensi masyarakat akan sangat kuat menentangku, keluargakupun mungkin akan merasa aib memilikiku. Aku juga terlahir sebagai seorang muslim di tengah-tengah mayoritas warga muslim di wilayahku, di kotaku, dan di negaraku. Tradisi dan keyakinan islam yang diajarkan padaku juga yang mayoritas muslim menganutnya. Tentunya kondisi ini mengamankanku. aku tidak tahu apa yang akan menimpaku bila aku terlahir ditengah-tengah keluarga yang menganut keyakinan ajaran islam seperti yang dianut Ahmadiyah, Salamullah, dan minoritas lainnya. Meskipun mereka sama-sama berasal dari agama yang sama. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai seorang nasrani yang sulit masuk sekolah negeri seperti di sumatera barat, kecuali jika aku memakai jilbab, betapa mungkin aku juga akan merasa sangat tertekan, aku juga tidak tahu bila aku terlahir di wilayah yang penguasanya  memaksakan warga perempuannya memakai jilbab, yang menghukumku bila aku keluar malam, dan sebagainya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dari keluarga minoritas Tionghoa atau Konghucu yang hidup ditengah-tengah penguasa dan masyarakat yang tidak mengakui kepercayaan kami, apalagi memfasilitasi kami untuk beribadah. Aku juga tidak tahu  bila aku terlahir dalam sebuah kawasan konflik dan peperangan, dimana aku tidak dapat leluasa menikmati masa kanak-kanak dan remajaku apalagi bersekolah karena adanya wajib militer sejak dini atau kesukaran lainnya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai warga kulit hitam di Afrika Selatan, atau wilayah lainnya yang mendiskreditkan kami. Aku beruntung. Hidup dan nasib baik benar-benar berada dipihakku. Namun jiwaku tetap gelisah, sebab semua yang kusebutkan tadi, benar-benar terjadi. Mereka hidup ditengah-tengah kita di belahan bumi yang lain. Jauh, tapi hidup dan nyata dalam keseharian kita. Pernahkah kita sejenak merenungkan semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDW3qcCBS8I/AAAAAAAAANc/YzBcJu4NpKE/s1600-h/IMG_1495.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDW3qcCBS8I/AAAAAAAAANc/YzBcJu4NpKE/s200/IMG_1495.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5203266884203531202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sesulit apapun kondisi ekonomi negeriku, aku tidak pernah tidak punya makanan. Separah apapun kekeringan yang melanda bumi, aku tidak pernah kehausan. Sedahsyat apapun bencana alam yang menimpa saudara-saudaraku, aku bersyukur, aku tetap mempunyai tempat tinggal yang layak. Lalu, adakah alasan untuk aku selalu berkeluh kesah ? rasanya waktu begitu berharga bila selalu diisi dengan keluhan. Apa yang kita takutkan dalam hidup ini barangkali hanya sebuah drama yang kita ciptakan sendiri. Toh, sesuatu yang besar yang kita takutkan pasti terjadi, sebuah kematian. siapa yang bisa menghindari itu. Kita berpacu dengan waktu, bangunlah, beranjak, cuci muka, bercermin, lakukanlah sesuatu untuk hidup kita, sebab usia terus mengerogoti jasad kita. Dimanapun adanya, apalagi di kota-kota besar seperti Dubai, orang begitu sibuk dengan urusan perut, gengsi, dan perlombaan citra dan kekayaan. rasanya segalanya menjadi murah ketika persahabatan, cinta, keluarga, diukur dengan semua itu untuk mengikatnya. Bukankah uang yang kita cari hanya alat. Realitanya segala sesuatu perlu uang. Namun uang bukan segalanya. Kitalah yang menentukan untuk menjadi siapa yang kita inginkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-temanku, semoga tetap bisa menikmati hidup ini betapapun sulitnya. percayalah, diatas kesulitan akan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. Bukankah orang-orang sukses mengajarkan bahwa untuk bisa sukses perlu jatuh berkali-kali. Dan mengapa harus takut dianggap tidak sukses kalau sukses adalah diri kita sendiri. bersabarlah dan tetap tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-1942759068092418886?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/1942759068092418886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/hidup-manusia-dan-segala-tingkah_20.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/1942759068092418886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/1942759068092418886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/hidup-manusia-dan-segala-tingkah_20.html' title='Hidup, Manusia, dan Segala Tingkah Polahnya (bag II)'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SDWqpcCBS2I/AAAAAAAAAMs/_Ipk2pp2WuQ/s72-c/IMG_1325.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-6067536256813580418</id><published>2009-05-20T00:06:00.001-07:00</published><updated>2009-05-20T00:06:52.052-07:00</updated><title type='text'>I and My Job World</title><content type='html'>Kamis, 24 April 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBCzCKxGEEI/AAAAAAAAALU/dXW1mwe_qGs/s1600-h/IMG_1444.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBCzCKxGEEI/AAAAAAAAALU/dXW1mwe_qGs/s320/IMG_1444.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192847220189564994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu yang lalu aku memang agak sibuk. Sebagian staff ditransfer ke PQ baru di kawasan Saikh Zaid Road tepatnya di 21st century building. Beberapa rekan kerja ada juga yang vacation pulang kampung dan ada juga yang sedang umroh. Meskipun begitu, bermunculan wajah-wajah baru. Sebagian dari Indonesia, sebagian dari Nepal, India dan Myanmar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaanku di PQ sudah lebih dari setahun. Tentu dalam waktu dekat aku sudah berhak mendapatkan jatah vacation. Mungkin aku pulang ke Indonesia, atau mungkin tetap di Dubai. Aku pun kini bukan berstatus sebagai anak baru lagi seperti beberapa bulan yang lalu. Terus terang, menjadi anak baru tidak selalu mudah. Tidak hanya di sekolah dulu, tapi yang lebih sulit ketika memulai di lingkungan tempat kerja yang baru. Bagi sebagian barangkali tidak ada masalah, tapi yang aku alami seringkali sulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia kerja yang kumaknai adalah ruang yang cukup terbuka untuk belajar sekaligus memperoleh penghasilan, berbeda dengan sekolah. Sekolah secara formal memang adalah tempat kita belajar, meskipun pada kenyataannya tidak semua sekolah memerankan fungsi yang seharusnya ; menjadi ruang yang terbuka bagi siapapun yang ingin belajar bahkan kalau memungkinkan tidak perlu keluar biaya. Kalaupun berbiaya, tidak perlu terlalu mahal. Apa boleh buat, begitulah sekolah yang ada ; seringkali dengan biaya tinggi, namun juga tidak seimbang dengan apa yang di hasilkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBC-1KxGEMI/AAAAAAAAAMM/SZQ8Js7S0G8/s1600-h/DSCF0766.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBC-1KxGEMI/AAAAAAAAAMM/SZQ8Js7S0G8/s320/DSCF0766.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192860190990799042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari menjadi anak baru perlahan sudah dapat kulalui. Proses dari anak baru menjadi bukan baru cukup berat. Secara yang kugambarkan di awal, rekan-rekan kerja yang lebih dulu memang kental akan arogansi senioritasnya. Terlebih mereka juga berkelompok. Seperti yang kugambarkan di awal, ini adalah tantangan tersendiri buatku. Secara bertahap aku belajar untuk membuktikan sebagai seseorang yang bermutu dan dapat diandalkan. Tentu saja ini tidak mudah, terlebih ketika tidak ada dukungan yang kondusif dari managemen. Merasa sendiri dan terkadang putus asa. Namun aku belajar untuk menemukan kata kunci dari semua masalah ini ; berpikir positif dan jauh ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya dunia hospitality bukan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Yang paling dibutuhkan adalah keterampilan berkomunikasi dan rasa ingin tahu akan berbagai variasi kuliner secara umum. Secara specific, tentu kita harus mengetahui dengan baik produk kita sendiri. Selebihnya keterampilan teknis dalam melayani customer hingga mereka merasa nyaman dan tentu ingin datang kembali. Lebih jauhnya, tentu industri ini dibutuhkan sebuah perangkat managemen yang professional. Dan bekerja di restoran sebagai seorang waiter, hanya tahap awal. Sebagian orang, menganggap pekerjaan ini rendahan. Namun bagiku, pekerjaan apapun tidak ada yang rendah. Yang rendah adalah mereka yang tidak mau bekerja yang justru seringnya merepotkan orang lain karena statusnya sebagai pengangguran. Berbahagialah mereka yang mempunyai pekerjaan. Apapun itu, bekerjalah dengan tekun, cerdas, dan tulus. Sebab tanpa itu, apapun yang kita kerjakan tidak akan berarti apa-apa. Tidak ada sebuah pencapaian yang diperoleh melalui proses yang instant. Sebab segala sesuatu yang instant itu biasanya keropos dan rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat kerja mungkin kita akan bertemu dengan berbagai tipikal orang yang karakternya sulit, terlepas dari latar belakang budaya dan bangsa. Secara umum ada tiga karakter sulit yang mengganggu ketika bekerja bersama mereka; pertama, &lt;strong&gt;tipe one man show,&lt;/strong&gt; semua dilakukan sendiri, kurang percaya akan kemampuan rekan kerjanya karena merasa diri paling tahu. Padahal dalam bekerja semua berperan sebagai team work. Kedua, &lt;strong&gt;ignore atau careless&lt;/strong&gt;, cuek, masa bodoh, malas, tidak peduli, dan sejenisnya. Karakter ini berkebalikan dari yang pertama. Sulit bekerja dengan orang seperti ini karena tidak dapat diandalkan. Orang seperti ini pun bukan bagian dari team work. Ketiga, &lt;strong&gt;sentimentil&lt;/strong&gt;, cengeng, perasa, mudah tersinggung, dan sejenisnya. Dalam wilayah kerja tentu terdiri dari orang-orang dengan watak yang berbeda-beda, Sementara dalam perbedaan itu dituntut untuk kompak dan solid, demi pencapaian target perusahaan. Pemikiran positif dan rasional, lebih dibutuhkan dari pada mental cengeng, mudah tersinggung, perasa dan lain sebagainya. Hal-hal remeh bisa menjadi besar karena diciptakannya sendiri. Kunci vital dalam mengelola beberapa karakter sulit ini, ada pada seorang pimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBDALKxGENI/AAAAAAAAAMU/flSwazdxJPc/s1600-h/IMG_0043.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBDALKxGENI/AAAAAAAAAMU/flSwazdxJPc/s320/IMG_0043.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192861668459548882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan orang dengan karakter di atas, adalah salah satu bagian yang paling mendasar dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Oleh karena itu, menjadi pimpinan bukan sesuatu yang mudah pada prakteknya. Ia harus tahu bagaimana mendekati staffnya yang mempunyai titik lemah dan kekuatannya masing-masing. Ia harus dapat membantu mengatasi kelemahan staffnya, dan memaksimalkan potensi yang menjadi kekuatannya. Bagiku, seorang bos dengan seorang pimpinan adalah dua kata dengan makna yang berbeda. Dalam diri pemimpin ada kompetensi dan kapabilitas. Sementara dalam diri seorang bos, hanya lebih kepada posisi dan kekuasaan. Pemimpin pada dasarnya adalah pelayan bagi staff bawahannya. Dan staff bawahan adalah tim sukses bagi lajunya bisnis sebuah perusahaan. Idealnya, kedua peran ini sejajar dan saling melengkapi sehingga terjalin sebuah harmony kerja yang solid. Manakala salah satu peran atau sebagiannya pincang, maka sulit untuk mengharapkan sebuah kondisi kerja yang nyaman dan tentunya berakibat pada kurangnya pencapaian keuntungan yang diharapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang staff biasa yang juga baru bergelut di bidang ini, memang tidak banyak yang bisa dilakukan ketika berada dalam situasi ini dibarengi dengan keberadaan seorang pimpinan yang berperan sekaligus sebagai seorang bos. Seorang bos, biasanysa hanya menuntut hasil, sementara seorang pimpinan membantu mencapai hasil tersebut terealisasi misalnya tentu dengan mempermudah staffnya melakukan pekerjaan dengan maksimal dengan memberikan petunjuk kerja yang jelas dan konsisten, tidak kabur dan membingungkan. Terutama sebagai staff baru, standard kerja tentu sangatlah penting. Standard kerja yang dibuat secara tertulis lebih efektif dari pada hanya instruksi-instruksi verbal. Sejauh ini aku belum merasakan bekerja dalam pola managemen yang dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar professional. Dalam benakku, seorang pemimpin adalah &lt;em&gt;the best role model &lt;/em&gt;bagi staffnya; dia harus lebih &lt;em&gt;hard working&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;smart, wise, objective, dan helpful atau considerate.&lt;/em&gt; Jiwa pemimipin seperti ini akan sangat mewarnai suasana kerja yang kondusif, betatapun banyaknya masalah yang muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBDCx6xGEOI/AAAAAAAAAMc/h-jscdlQu7w/s1600-h/IMG_0221+(2).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBDCx6xGEOI/AAAAAAAAAMc/h-jscdlQu7w/s320/IMG_0221+(2).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192864533202735330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, bagiku, bekerja di bidang ini sangat menyenangkan. Aku dapat bertemu dengan berbagai macam orang. Orang yang datang tentu ada yang tetap namun juga ada yang baru. Ada seni dalam berkomunikasi dengan mereka. Pembicaraan yang berlangsung hanya seputar hal-hal ringan. Namun bukan berarti tidak ada pertukaran informasi yang berarti. Setiap pagi aku bertemu dengan Sally, seorang British berusia 50an yang selalu datang dengan balutan busana kerja yang pantas. Ia tampak smart dan bersemangat menjalani hari-harinya. Selain itu Ia pun sangat pemurah. Ia biasa sarapan dengan raisin bagel, welldone toasted atau scone yang disajikan dengan latte skim milk. Setiap akhir pekan Sally datang bersama suami dan terkadang anak perempuannya yang sudah dewasa. Ketika mereka disandingkan aku mencadainya dengan sebutan kembar unik. Dan Ia pun tertawa justru meresponku dengan menyebut mereka berdua &lt;em&gt;terrible twin&lt;/em&gt;. Hee…. Sally akan bertanya ketika aku terkadang tidak terlalu bicara banyak dengannya, &lt;em&gt;Why you so quiet now..?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Christine. Seorang Ibu muda dengan dua anak laki-lakinya yang lucu dan cerdas ini biasa datang pagi hari bersama suaminya yang berasal dari New Zealand. Sementara itu Christine berasal dari hongkong. Perpaduan dua ras ini melahirkan anak-anak yang unik. Seperti Sally, Christine dan keluarganya selalu datang bahkan seringkali lebih dari sekali dalam sehari. Kegemaran keluarga ini adalah sarapan dengan toasted sunflower bagel di sajikan dengan butter dan jam dengan flavour berries, bersama dua buah latte strong. Sementara untuk anak-anaknya adalah chocolate croissant, atau almond croissant, dan chocolate muffin disajikan dengan dua gelas cold milk. Berbeda dengan Sally yang tidak terlalu bermasalah dengan makanan, keluarga Christine sangat perfectionist. Ada seni tersendiri memahami apa yang dimaui customer dengan bermacam-macam seleranya. Dan adalah tugasku dan teman-teman untuk bisa melayaninya dengan tulus. Suatu hari Christine berkomentar tentangku, &lt;em&gt;why you always look so happy ?. &lt;/em&gt;Tentu saja aku senang bila Ia melihatku begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Shirin. Ibu berusia matang ini, setiap pagi Ia biasa minum coffee ole light sebelum berangkat kerja. Aroma coffee ole yang dibawanya ke tempat kerja mengundang beberapa koleganya untuk memesan kopi yang sama di restoranku. Tentu saja ada kebanggaan tersendiri bagiku yang biasa membuatkan coffee ole untuknya. Pada setiap akhir pekan Ia juga biasa datang bersama keluarganya. Bila Ia tidak bisa datang, Ia akan mengirim orang untuk memesan kopi dari storeku. Pada saat aku off, esoknya dia akan bertanya padaku, &lt;em&gt;where’re you yesterday ?&lt;/em&gt; dengan aksen britishnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Mr. and Mrs. Booker,sepasang suami istri baya yang berasal dari England. Pada saat pertama kali datang, mereka bertemu denganku. Mrs. Booker memesan small latte, sementara Mr. Booker memesan large hot chocolate.  Mrs. Booker menyukai latte dari storeku. Hingga saat ini mereka berdua adalah regular customer di restoranku. sepasang suami istri ini, sangat pemurah. Tidak jarang mereka memberikan bingkisan untuk kami. Sebagai counter staff yang lebih fokus di wilayah counter untuk layanan take away, seringkali aku tidak selalu dapat mengobrol leluasa dengan mereka, terutama apabila pada saat sibuk. Mr. Booker terkadang mencandaiku dengan komentar, &lt;em&gt;why you not talking to me today? Ok, I don’t want to talk to you anymore, hee…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBDFCKxGEPI/AAAAAAAAAMk/O3_yW5-OBg4/s1600-h/IMG_1417.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBDFCKxGEPI/AAAAAAAAAMk/O3_yW5-OBg4/s320/IMG_1417.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192867011398865138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selain perkenalanku dengan mereka dan customer lainnya yang tidak aku sebutkan, aku memang menyukai pekerjaanku, terlepas dari masalah yang ada. Sebab buatku, hidup adalah masalah itu sendiri. Biarkan masalah itu kecil kalau memang kecil adanya. Dan jangan dibuat lebih besar kalau masalah itu sudah besar. Dalam setiap masalah kita menjadi belajar sesuatu untuk memecahkannya. Dan aku percaya, bahwa dalam setiap masalah pasti akan selalu ada jalan keluar, cepat atau lambat. Buat teman-temanku,berpikirlah keluar dari kotak sebab hidup ini singkat, &lt;em&gt;just enjoy what you do, and do what you enjoy, as Demartini said, thanks to him…: )&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-6067536256813580418?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/6067536256813580418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/i-and-my-job-world.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/6067536256813580418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/6067536256813580418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/i-and-my-job-world.html' title='I and My Job World'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SBCzCKxGEEI/AAAAAAAAALU/dXW1mwe_qGs/s72-c/IMG_1444.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-724619607125495649</id><published>2009-05-20T00:01:00.001-07:00</published><updated>2009-05-20T00:01:54.783-07:00</updated><title type='text'>Dr. John Demartini</title><content type='html'>Rabu, 20 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xuD3x_XjI/AAAAAAAAAKk/bDkcv1krSZM/s1600-h/IMG_0886.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xuD3x_XjI/AAAAAAAAAKk/bDkcv1krSZM/s320/IMG_0886.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169127485106773554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada saat membongkar isi lemari dan membereskan tumpukan majalah mingguan langgananku, di sebuah halaman terbuka secara tidak sengaja aku bertemu dengan Dr. John Demartini. Kuhentikan sejenak kegiatan beres-beresku dan fokusku beralih padanya untuk beberapa saat. Majalah itu kubeli sudah sekitar sebulan lebih, namun profilenya baru kubaca beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan kata-kata panjangnya yang ingin coba kuingat adalah : &lt;em&gt;“Figuring out what you want to do is perhaps the single biggest challenge. Like a pebble in your shoe that you just can’t get rid of unless you stop, remove the shoe and find it, the feeling that you want to do something but don’t know what that something is, is a familiar frustration. We change jobs, shift houses, relocate to different cities, countries, even continents; we acquire newer cars, mobile phones; we change our looks, hair colour … yet the pebble in the shoe continues to hurt as you walk. Eventually we settle for the illusion that there’s something better out there but it is out of reach. Simple. The pebble wins. But not if you are a Demartini. “Deep down we all know what we want to do but we have seven primary fears that prevent us from admitting this to ourselves, the first is breaking a moral or spiritual (principle) ; the second is not being smart enough, intelligent enough or not having a degree; the third is the fear that you might fail at it; the fourth is that you might not make money at it or might even lose money doing it; the fifth is losing loved ones or fearing that you may lose the respect of loved ones; the sixth is the fear of rejection; and the seventh is the fear that we don’t have the body, the vitality or the looks it may take to do it. “&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, &lt;em&gt;These seven fears cloud the clarity of our thoughts. Deep inside, we know what we would like to dedicate our lives to but these fears … make us lie to ourselves saying we ‘don’t know’. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya lagi, &lt;em&gt;But if we don’t have the body or the brains for the task we have set for ourselves, we are not going to make it. Not necessarily, The quality of your life’s success depends on the quality of the questions you ask. If you ask yourself question such as : ‘how is the body that I have going to give me the leverage to do what I love ?’ Or, ‘how is my intelligence and education going to help me achieve my goal?’, you will find that there’s a way you can reach it with your given equipment and qualities.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xvUnx_XkI/AAAAAAAAAKs/NzYw1sgVilc/s1600-h/IMG_0887.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xvUnx_XkI/AAAAAAAAAKs/NzYw1sgVilc/s320/IMG_0887.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169128872381210178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dr. John Demartini  adalah seorang guru dan pimpinan sebuah industry pengembangan personal dan professional. Selama 35 tahun waktunya dihabiskan untuk menemukan prinsip-prinsip universal mengenai hidup. Ia telah menemukan sebuah metode untuknya. Sebuah motode yang dikembangkan dari studynya tentang &lt;em&gt;Quantum Physics&lt;/em&gt;. Metode ini dapat mengurangi stress, menyelesaikan konflik, dan membuka mata serta hati mengenai perspektif baru tentang berbagai tantangan hidup. Demartini yang kulihat di gambar itu terlihat masih muda. Kalau 35 tahun Ia mengkaji ini semua, lalu, sejak berapa tahun Ia memulainya. Wajahnya yang muda dan segar tidak akan ada yang menyangka kalau umurnya sudah 53 tahun. Namun tampak seperti 35 tahun. Lebih dari 10 tahun tampak lebih muda dari usianya. Ia mempunyai rahasia mengapa dirinya tampak muda, menurutnya, “&lt;em&gt;the secret to looking youthful is to do what you enjoy and enjoy what you do”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demartini menemukan metode dalam menyiasati tantangan hidup bukan karena kegiatan study formal tentang motivasi atau semacamnya. Namun, Ia menemukan ini karena mempelajarinya dengan menjalani hidup sebagai sebuah pemberian tugas besar &lt;em&gt;(taskmaster).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 6 tahun, seorang counsellornya mengatakan bahwa kemungkinan Ia tidak akan mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi karena setelah didiagnosa bahwa Ia mengalami gejala &lt;em&gt;dyslexia.&lt;/em&gt; Namun, ketika memulai sekolah dasar, Demartini banyak dibantu oleh teman-temannya. Akan tetapi, kedua orangtuanya pindah dari Houston Texas, ke daerah Texas pedesaannya, dimana Demartini kehilangan support dari lingkungan sekolahnya. Pada saat itu, Ia gagal dalam ujian dan akhirnya drop out ketika menginjak usia 14 tahun. Aku jadi ingat ketika dulu sekolah SD, ada satu orang temanku yang tidak pernah naik kelas selama 4 tahun berturut-turut. Ia hanya sanggup naik hingga kelas 4 SD. Sampai akhirnya Ia drop out dan merasa putus asa. Ia adalah anak yang paling besar dikelas waktu itu. Mungkin Ia juga malu dan kehilangan support sama sekali. Aku tidak tahu apakah kasus temanku sama dengan Demartini kecil atau tidak. Tapi, bila merujuk pada metode &lt;em&gt;Quantum Physic&lt;/em&gt;, kurasa mungkin saat ini temanku itu sudah jadi sarjana. Hhmmm…entahlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengalami drop out, Demartini terombang ambing dalam hidup yang tidak menenentu, Selama 4 tahun Ia hanya hidup di jalan-jalan hingga berakhir di kepantaian Hawaii menikmati ombak dengan bermain surfing di pantai utara Oahu yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, momen dipantai inilah yang justru menjadi titik baliknya dalam memaknai hidupnya yang berikut. Saat itu, Demartini berusia 17 tahun. Ia mengalami keracunan serius melalui &lt;em&gt;strychnine poisoning &lt;/em&gt;yang berbahaya hingga hampir menghabisi nyawanya. Tuhan dan nasib baik masih berpihak padanya. Ia diberi kesempatan untuk tetap hidup. Sejak saat itu, melalui perkenalannya dengan Dr. Paul Bragg, Ia terinspirasi untuk mendedikasikan hidupnya dengan menjadi seorang guru, konsultan, dan pilosof.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Paul Bragg adalah seorang guru berusia 93 tahun yang bijaksana, dan pendukung sikap hidup holistic. Karya Dr. Paul Bragg bersama para muridnya sangat luar biasa dalam menginspirasi Demartini. Hingga Ia memutuskan untuk mengikuti jalur ini dan mempelajari seluk-beluk menjadi seorang chiropractic dan peneliti klinis sehingga Ia dapat membantu menyembuhkan penyakit orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Ia menenggelamkan diri dalam kajiannya pada hampir 28.000 teks dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan; dimulai dari psikologi, filsafat, metafisik, teologi, neurologi, fisiologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xwhHx_XlI/AAAAAAAAAK0/D5JeqASCZWE/s1600-h/DSCF1037.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xwhHx_XlI/AAAAAAAAAK0/D5JeqASCZWE/s200/DSCF1037.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169130186641202770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya Ia menemukan banyak hal yang membukakan matahatinya. Ia pernah mengenal dan bekerja bersama seorang pengusaha di Afrika selatan yang mencapai sukses sebagai pengusaha tanpa pernah melewati jenjang sekolah tinggi. Pengusaha tersebut dulu sempat berpikir tidak akan pernah mencapai kesuksesan sebanding dengan mereka yang mempunyai gelar pendidikan. Demartini menanyakan padanya apa yang membuatnya special dan mengapa tanpa pendidikan bisa memberikan sebuah manfaat baginya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berpikir dan menemukan 39 cara dimana ternyata sebenarnya tanpa melalui pendidikan formal dirinya lebih tergerakkan untuk maju, terpacu untuk dapat berinterkasi dengan lebih baik dengan banyak kalangan, Ia banyak menemukan apa yang dia butuhkan secara lebih baik,..hingga Ia berpikir dan merasa bahwa Ia sungguh berhak untuk dapat meraih kesuksesan dan mewujudkan karyanya. Jadi &lt;br /&gt;Menurutnya adalah bukan apa yang terjadi pada kita dengan mengandalkan segala sesuatu yang datang dari luar, tetapi bagaimana kita nmempersepsikan semua itu dari dalam diri kita untuk dapat menentukan kesuksesan kita dan meraih pencapaian yang kita impikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;28 pertanyaan berikut jawaban yang menyertainya bersamamu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Demartini telah memformulasikan 28 pertanyaan yang akan membantu kita dalam melepaskan kungkungan emotional. Ia menyebut ini dengan istilah “memecahkan pengalaman” (&lt;em&gt;the breakthrough experience&lt;/em&gt;) karena mendorong kita menuju momen saat ini dengan membawa perspektif baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, hal ini penting untuk ditumbuhkan karena kita selama ini terbius dalam satu sisi cara pandang dan satu sisi kehidupan. Kita ingin kebahagaan tanpa kesedihan atau kesengsaraan, ingin memberi tanpa menerima atau menerima tanpa memberi, ingin mendapat perlakuan baik tanpa ingin menerima perlakuan yang kurang menyenangkan, kesenangan tanpa penderitaan,..dan seterusnya. Padahal hidup ini selalu mempunyai dua sisi. Ada hal yang nampak bagus, namun juga hanya tampak pertengahan atau rata-rata saja, ada yang sulit namun juga ada yang mudah dalam hidup ini. Apa yang membuat &lt;em&gt;the breaktrough experience &lt;/em&gt;yang dimilikinya unik adalah bahwa Ia tidak mencoba untuk mengajarkan kepada orang lain sebuah fantasi namun juga sebuah kegagalan hidup. Secara bertahap Ia mencoba menanamkan pada mereka sesuatu yang realistis, sebuah perspektif yang seimbang sehingga mereka dapat mempunyai sebuah fondasi yang kuat bagi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xxy3x_XmI/AAAAAAAAAK8/o06ueUYZAOE/s1600-h/DSCF0993.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xxy3x_XmI/AAAAAAAAAK8/o06ueUYZAOE/s200/DSCF0993.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169131591095508578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Demartini menyarankan untuk segera mencatatkan apa saja yang menjadi tujuan di ujung kepala kita yang paling puncak karena Ia muncul bukan seperti perintah atau aturan khusus yang tiba-tiba datang secara spontan. Hari berikutnya baca kembali, organisasikan, dan perhalus atau menyaringnya. Kemudian baca lagi pada hari berikutnya,…tambahkan, saring, modifikasi dan prioritaskan dalam sebuah daftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari ini,kita juga perlu menuliskan tujuh tahap tindakan. Tanyakan pada diri sendiri langkah apa saja yang akan diambil pada hari ini, yang akan membawa langkah kita lebih dekat pada tujuan kita besok harinya. Pada ujung hari, lihat hal-hal yang telah kita lakukan dan coret semua itu dalam daftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari berikutnya, tulis lagi tujuh tahap tindakan selanjutnya. Beberapa diantaranya mungkin hanya sebuah pengulangan, namun tidak menjadi masalah. Bersama setiap hari yang kita lalui, kita akan melihat kejelasan dalam tujuan kita dan kita akan memahami bahwa kitalah yang menyesuaikan dan mencocokkan dalam  setiap tahap tindakan yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demartini percaya bahwa tujuan hidup yang kita miliki berkembang seiring dengan pertumbuhan usia, dan oleh karena itu, mencapainya menjadi sebuah proses perjalanan &lt;em&gt;(journey&lt;/em&gt;) bukan tujuan akhir &lt;em&gt;(destination). &lt;/em&gt;Bagi mereka yang tekun dan gigih dalam melakukan dan menjalani apa yang mereka sukai, pada akhirnya akan menciptakan kehidupannya sebagaimana yang mereka sukai. Jika kita mengambil satu atau lebih tindakan setiap harinya menuju semua itu, maka kita akan mengalami kemajuan ke arah sebuah kehidupan sebagaimana yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Ia memimpikan untuk dapat mempunyai kesempatan berkeliling dunia, menginjakkan kaki pada setiap negara yang ada di dalam peta. Masih ada beberapa negara yang belum dapat Ia kunjungi saat ini..namun pada saat yang bersamaan juga Ia menyadari bahwa Ia telah dapat memujudkan mimpi Ia yang dulu dan memenuhinya dengan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xzXHx_XnI/AAAAAAAAALE/GoNG-HAz8U8/s1600-h/DSCF1043.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xzXHx_XnI/AAAAAAAAALE/GoNG-HAz8U8/s320/DSCF1043.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169133313377394290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya sendiri dulu dalam mencapai berbagai tujuannya dimulai dengan belajar membaca. Sebab hingga usiannya yang ke 17 Ia masih belum dapat membaca dengan benar. Sebagaimana yang diutarakannya, pada usia 17 tahun, saat itu Ia mengambil sebuah buku dan membacanya halaman demi halaman. Pada saat itu Ia mengalami gejala &lt;em&gt;dyslexia &lt;/em&gt;bahkan hingga 5 tahun yang lalu pengaruh gejala tersebut masih sangat kuat menyiksanya. Namun, lambat laun, penyakit itu pelan-pelan berkurang sejak Ia mencoba mengembangkan metodeloginya, yang disebutnya, The Demartini Method, untuk membantu menghilangkan kesulitan-kesulitan itu karena penyakitnya. Saat ini Ia malah begitu akrab dengan &lt;em&gt;dyslexia&lt;/em&gt; dalam pekerjaan yang digelutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;The Demartini Method&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The Demartini Method, singkatnya, membantu orang dalam mengintegrasikan pikiran dan otak mereka untuk dapat berfungsi dengan lebih baik. Metode  tersebut adalah serangkaian pertanyaan yang ditanyakan seseorang terhadap dirinya sendiri. Pertanyaan-tertanyaan yang bersifat probing atau penyelidikan ini cenderung untuk membawa pada keseimbangan persepsi kita serta membuka hati kita agar hanya dapat dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, dan mengakui serta memberikan apresiasi pada diri kita dan orang lain di sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, cara ini dapat menghilangkan kungkungan emosional yang  berasal dari dalam diri kita dan orang-orang sekitar kita. Cara ini bahkan membuat kita menjadi lebih terinspirasi dengan hidup kita. Bukankah kita adalah kapten dan nakhoda dari kapal kita sendiri? Realitanya adalah bahwa kita dapat menyesuaikan jalan hidup milik kita sendiri. Sejak Ia hampir menemui ajal pada usianya yang ke 17 tahun itu, Demartini telah belajar sesuatu yang baru, dan telah mengubah jalan hidupnya. Ia mengubah jalan itu berkali-kali. Menurutnya, kita mempunyai kapasitas dan kemampuan dalam mempersepsikan sebuah kejadian ke dalam cara-cara yang tak terhitung jumlahnya. Selanjutnya bagaimana kita mempersepsikan semua itu hingga dapat membawa arah jalan yang ingin kita ambil. Jadi, meskipun ada yang namanya takdir tuhan (&lt;em&gt;divine design)&lt;/em&gt; namun menurutnya kita dapat mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat mengubah dan menyelaraskannya dan sisi manusia kita akan menyesuaikan diri bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi pada poin ini, Demartini membawa kita pada kejadian saat usianya 17 tahun ketika Ia memakan tumbuhan strychnine yang beracun itu. Ia juga mengalami masalah kekacauan syaraf dan harus melalui waktu 12 tahun untuk dapat menghilangkan gejalanya. Melalui kejadian ini, Ia tidak pernah lagi merokok. Ia juga hanya terfokus untuk mempelajari hukum-hukum kehidupan. Sehingga momen hampir meninggal tersebut mengubah sejarah jalan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu Ia bergabung dengan kelas yang diasuh Dr. Paul Bragg. Ia mengajarkan tentang tubuh, pikiran dan semacamnya yang menginspirasikan Demartini untuk melakukan hal yang sama bersama orang lain, berbagi ide dan gagasan yang mungkin dapat membantu mereka dalam meluaskan hidup mereka dan membawanya kepada kehidupan yang lebih bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat usianya 24 tahun, Demartini telah dapat meraih gelar sarjana di bidang ilmu Biologi dan Biokimia dari Universitas Houston pada tahun 1978. pada usianya ke 28, Demartini menerima gelar Doktor dari Texas Chiropractic College dan lulus dengan &lt;em&gt;magnum cum laude.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian memulai karirnya dengan membuka praktik sebagai seorang chiropractic. Pada tahun 1984, Demartini memulai karir ceramahnya, terutama dalam penyampaiannya pada organisasi-organisasi kesehatan dan perawatan. Selama beberapa tahun selanjutnya karir ceramahnya menyita banyak waktunya hingga akhirnya Ia memutuskan untuk &lt;em&gt;full time &lt;/em&gt;di bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya John Demartini juga telah menarik banyak perhatian di Afrika Selatan dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan. Ia telah menjalankan berbagai program bagi para remaja dan para mahasiswa muda tentang bagaimana menetapkan nilai (&lt;em&gt;value determination&lt;/em&gt;), dengan menghubungkannya dengan kurikulum, tujuan dan kebutuhan di dunia kerja. Sistem yang digerakkan oleh seluruh nilai-nilai ini digabungkan dalam sebuah kurikulum sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demartini mengatakan bahwa cara ini telah mengakibatkan meningkatnya tingkat kehadiran siswa di sekolah. Para siswa menjadi lebih tertarik untuk membaca dan daya ingat mereka pun meningkat. Mereka kini tahu bagaimana merancang tujuan dan menciptakan tingkat kepercayaan dirinya. Mereka juga belajar tentang cara berkomunikasi secara efektif sehingga dapat mengurangi konflik yang muncul. &lt;br /&gt;Ia mengatakan, Jika Ia sebagai orangtua, maka ia akan menciptakan bagaimana menggunakan teori ini untuk menjadi orangtua yang efektif. Jika anda ingin menghubungkan apa yang menginspirasi anak anda dengan apa yang ingin anda ajarkan, Misalnya, anak anda menyukai video games, maka kita jangan mengganggunya. Karena mereka akan selalu menyukai untuk memelajari tentang apa yang menginspirasi mereka, bukan apa yang menginspirasi anda para orang tua. Jadi, apabila matematika atau geografi yang ingin anak anda pelajari, adalah tugas anda untuk menemukan cara bagaimana mengajarkan ini semua melalui video games yang digemarinya.dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;‘The world’ is his oyster&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;John Demartini melakukan perjalanan hampir 300 hari dalam setahun. Terkadang Ia naik kapal pesiar bernama TheWorld, dimana Ia melangsungkan berbagai workshopnya. Ia mempunyai rumah di Houston, New York dan beberapa di Australia, namun Ia jarang menempati rumah-rumahnya ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan. Sang isteri meninggal secara mengejutkan sekitar tiga tahun yang lalu akibat terserang penyakit kanker, meskipun baru-baru ini Ia telah menemukan cintanya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mempunyai tiga orang anak. Dua orang sudah masuk perguruan tinggi. Ia mengatakan, Ia tidak pernah memaksakan anaknya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Ia hanya meminta anaknya mengikuti caranya menjalani hidup namun merekalah yang memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 3 februari lalu, John datang ke Dubai untuk mengisi ceramah. Kedatangannya membawa 35 tahun studynya tentang perilaku manusia (&lt;em&gt;human behaviour&lt;/em&gt;) dan memaksimalkan potensi manusia (&lt;em&gt;maximising human potential&lt;/em&gt;). Pada kata-kata terakhirnya yang dapat aku kutip di majalah itu, Ia mengatakan “&lt;em&gt; I am going to help inspire whoever happens to be in front of me to live their lives absolutely to the fullest…”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bisa menginspirasi …. &lt;br /&gt;&lt;em&gt;makasih buat Bayu yang dah pinjemin beberapa foto cantiknya buat ngisi blogku..:)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-724619607125495649?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/724619607125495649/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dr-john-demartini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/724619607125495649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/724619607125495649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dr-john-demartini.html' title='Dr. John Demartini'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xuD3x_XjI/AAAAAAAAAKk/bDkcv1krSZM/s72-c/IMG_0886.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-812861328046998445</id><published>2009-05-19T23:56:00.000-07:00</published><updated>2009-05-20T00:02:28.056-07:00</updated><title type='text'>Pekatnya Sisi Lain Dubai (Part I)</title><content type='html'>Rabu, 20 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xUfXx_XdI/AAAAAAAAAJ0/re4_o8e3mjM/s1600-h/DSCF1044.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xUfXx_XdI/AAAAAAAAAJ0/re4_o8e3mjM/s320/DSCF1044.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169099370250853842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam aku dikejutkan oleh suara tangisan seorang perempuan dari balcony. Mungkin saat itu sudah jam dua atau tiga pagi. Ameera temanku asal Morocco meledakkan tangisnya pada dini hari itu. Saat itu aku hanya sayup-sayup mendengar dari balik selimut Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui mobilenya. Tangisan itu terasa dalam. Seakan Ia menyimpan sesuatu yang begitu perih di balik kemolekan parasnya. Ia berbicara dengan bahasa yang hanya kumengerti sedikit-sedikit. Meskipun begitu aku tahu Ia amat terluka hatinya. Meskipun aku tidak tahu persis hal apa yang begitu membuatnya teramat bersedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ameera datang ke Dubai kira-kira setahun yang lalu. Ia berprofesi sama seperti aku, waitress. Sebuah pekerjaan yang banyak orang meremehkannya. Ia bekerja di sebuah restoran sekaligus discotic yang dimiliki dan banyak dikunjungi oleh orang-orang arab. Ameera tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Ia hanya mengerti bahasa perancis. Tapi Ia juga malas mengasah percakapan bahasa Inggrisnya. Sementara bukan hanya bahasa Arab yang dominan, akan tetapi Inggris juga luas digunakan sebagai bahasa resmi di Dubai. Selebihnya bahasa Hindi, Tagalog dan Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xXYnx_XeI/AAAAAAAAAJ8/mkdURUTzIhE/s1600-h/IMG_0134.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xXYnx_XeI/AAAAAAAAAJ8/mkdURUTzIhE/s200/IMG_0134.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169102552821620194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkenalanku dengannya berawal ketika Ia menyewa tempat tidur di kamar kami sekitar dua bulan yang lalu. Setiap malam Ia berangkat sekitar jam 8, dan pulang pada sekitar jam 3 dini hari. Pada saat kami terbangun, kadang Ia tertidur. Banyaknya penghuni yang menempati kamar kami, tentu menimbulkan keributan yang kadang membangunkannya. Terutama ketika diantara kami ada yang off hari itu. Ketika ia terbangun, Ia pun bergabung dengan kami bersenda gurau, berdansa, dan tertawa. Kadang aku iseng merekam kegiatan yang berlangsung dengan kamera digitalku. Pernah aku mewawancarainya seakan aku seorang penyiar dan Ia narasumbernya dengan bahasa arabku yang masih belum lancar, hee…Pertemanan kami kadang menghiburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sebulan yang lalu, aku jarang melihat Ameera pergi pada malam hari. Seringkali Ia hanya seharian tidur di kamar. Terlebih ketika Ia mengalami sakit perut setelah makan hilwah pemberian Shereen, teman kamar Egyptianku. Saat itu aku dan Shereen menyiapkan teh hijau khas morocco yang membuat kondisinya lebih baik. Saat itu Ia bilang padaku dalam bahasa arab : &lt;em&gt;“bilams ana maridhah, elyoum ana maridhah, bukra ana maridhah, khalats, anarruhul mustashfa..,” &lt;/em&gt;intinya kalau sampai besok masih tetap sakit, dia pasti masuk rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xdKnx_XhI/AAAAAAAAAKU/11z78OzehQ8/s1600-h/IMG_0737.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xdKnx_XhI/AAAAAAAAAKU/11z78OzehQ8/s200/IMG_0737.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169108909373218322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku, Ameera dan Shereen bercakap-cakap. Shereen yang mengerti bahasa Inggris sangat membantuku berkomunikasi dengan Ameera. Saat itu kami membicarakan masalah sulitnya hidup di Dubai. Ameera menanyakan apakah ada lowongan di tempatku bekerja. Saat ku tanyakan alasannya, Ia bilang sudah sebulan ini Ia bekerja di restoran ini. Sebelumnya Ia bekerja di sebuah hotel yang menjamin penghasilan lebih hingga Ia bisa menyewa sebuah kamar yang nyaman untuk dirinya sendiri. Tempat kerja sebelumnya memang menyediakan visa kerja selama tiga tahun, dan ia masih memiliki sisa dua tahun lagi untuk bisa diakui secara legal sebagai pekerja di Dubai. Namun tempat kerja yang disukainya itu direnovasi dan terpaksa ia menganggur saat ini. Renovasi tersebut kemungkinan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Waktu yang cukup lama untuk menunggu hingga tempat kerjanya buka kembali. Untuk bisa survive, Ia ditawari bekerja di restoran yang sekaligus diskotik sebagaimana yang Ia sebut &lt;em&gt;markaz ‘arabee.&lt;/em&gt; Ia tidak senang bekerja di sana. Yang kutangkap dari kata-katanya, customer yang datang sering “tidak sopan”. Kadang aku memang melihat aura tidak mood ketika Ia malam-malam harus pergi bekerja dengan persiapan dandanan yang cukup lama itu. Meskipun jam 8 berangkat, namun sejak jam setengah tujuh dirinya sudah mematut-matut diri di depan cermin dengan seperangkat alat kosmetiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xZsXx_XgI/AAAAAAAAAKM/GYXDt14Cnec/s1600-h/IMG_0582.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xZsXx_XgI/AAAAAAAAAKM/GYXDt14Cnec/s200/IMG_0582.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169105091147292162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan sesekali dengannya dapat kusimpulkan bahwa kini Ia menganggur sama sekali. Pekerjaan terakhirnya sebagai waitress di tempat yang Ia sebut &lt;em&gt;Markaz ‘Arabee &lt;/em&gt;itu ditinggalkannya. Ia berniat mencari pekerjaan baru selama visa kerjanya masih berlaku hingga dua tahun lagi ke depan. Sesekali Ia pergi pada larut malam sekitar jam 10 atau jam 11 belakangan ini. Kadang aku menggodanya kalau Ia mau ngedate bersama &lt;em&gt;habebe&lt;/em&gt;nya (pacarnya). Sedikit-sedikit Ia terbuka bahwa Ia punya pacar orang mesir. Pernah Ia memperlihatkan barang-barang pemberian pacarnya itu. Sebelumnya Ia sempat bilang bahwa selama dua bulan ini Ia survive karena kebaikan temannya. Mungkin temannya itu adalah pacarnya. Atau sebaliknya pacarnya itu temannya. Hee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkadang menemukan Ameera dalam kegelapan di ruang dapur pada larut tengah malam saat aku pulang kerja kalau sedang shift malam. Kalau sudah begitu, aku hanya menyapanya sekadarnya saja dan membiarkannya. Mungkin dia sedang berfikir dan ingin sendiri. Terkadang juga aku melihatnya hanya terbaring di tempat tidur dengan pandangan menerawang dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada saat itu pun aku tidak ingin terlalu mengajaknya bicara atau menggodanya. Khawatir mengganggunya. Pernah Ia marah besar pada Amu teman kamar Indiaku yang tidur dikasur atas dekat dengan tempat tidurnya. Pemilik kamar mengikatkan besi pada tempat tidur Amu menyatu dengan besi pada tempat tidur Ameera untuk mengokohkan posisi tempat tidur Amu. Amu yang aktif turun naik tempat tidurnya, mengganggu Ameera saat sedang istirahat. Aku bisa melihat kekesalan yang dalam bercampur perasaan tertekan yang ada di diri Ameera. Sementara akupun merasa kasihan pada Amu sebab sulit untuk tidak menimbulkan suara atau gerakan pada saat Ia turun naik tempat tidurnya. Amu yang tidak bisa bahasa Arab mencoba membela diri : &lt;em&gt;“ what can I do ? “ &lt;/em&gt;. Tiba-tiba Ameera datang dengan membawa sebilah pisau dan memotong tali yang mengikatkan kedua tempat tidur mereka, dan mencoba menggeser agak jauh posisi tempat tidur keduanya. Amu hanya diam dengan wajah sedih bercampur kesal dan takut. Kata-kata Ameera yang berulangkali diucapkannya &lt;em&gt;Ana crazy…Ana crazy…khalats…Ana crazy…&lt;/em&gt;sambil menujuk-nunjuk keningnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xYfXx_XfI/AAAAAAAAAKE/MV7KcXJ4Hwk/s1600-h/IMG_0212.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xYfXx_XfI/AAAAAAAAAKE/MV7KcXJ4Hwk/s200/IMG_0212.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169103768297364978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku tidak terlalu perduli dibalik kehidupan Ameera. Namun, aku hanya merasa tersentuh mendengar pertama kalinya Ia menangis. Dan tangisan itu bagiku bermakna dalam. Shereen terbangun dan mendekatinya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa arab. Ada perasaan lega ketika Shereen mencoba menemaninya. Shereen memang lebih dekat dengan Ameera karena banyaknya kesamaan yang mereka miliki terutama bahasa. Akupun mencoba kembali tidur dalam sayup-sayup suara mereka berdua. Sebab jam 5 pagi aku harus bangun untuk bersiap-siap ke tempat kerja. Apalagi aku merasa lelah karena hari sebelumnya aku dapat shift malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan Ameera malam itu tetap menyisakan bekas dalam diriku. Aku dapat membayangkan, betapa membosankan dan tidak menyenangkannya hidup sebagai pengangguran, atas bantuan orang lain, dan di negeri orang. Dubai segala sesuatunya serba mahal. Betapa sulit bagi Ameera yang mungkin terbiasa mempunyai uang dan tinggal di tempat yang nyaman dan privat. Aku hanya berharap kelak ada jalan untuk Ameera bisa secepatnya memperoleh pekerjaan baru sebagaimana yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Ameera, ada juga Ranggana, Amu, Shereen, Catu, Tere, Farsana, Joy, dengan ceritanya masing-masing. Masih mau nyimak bukan? : )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ………&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-812861328046998445?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/812861328046998445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/pekatnya-sisi-lain-dubai-part-i.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/812861328046998445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/812861328046998445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/pekatnya-sisi-lain-dubai-part-i.html' title='Pekatnya Sisi Lain Dubai (Part I)'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7xUfXx_XdI/AAAAAAAAAJ0/re4_o8e3mjM/s72-c/DSCF1044.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-2411503359494927431</id><published>2009-05-19T23:52:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:53:03.316-07:00</updated><title type='text'>Dubai dan Tempat Kos Baru</title><content type='html'>Senin, 11 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C6Jnx_XXI/AAAAAAAAAI8/CvwHDzyIzzc/s1600-h/IMG_0435.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C6Jnx_XXI/AAAAAAAAAI8/CvwHDzyIzzc/s320/IMG_0435.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165833447054204274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah flat kelima yang aku tempati sejak dua bulan yang lalu. Flat ini cukup nyaman dan cukup udara. Meskipun dalam satu kamar berukuran kira-kira 6x7 meter. Kamarku sekarang ini ada  balconynya. Dalam sekamar kami bersembilan. Dua orang adalah sepasang suami istri semacam pemilik kamar yang menyewakan kamar yang disewanya. Suaminya adalah rekan kerjaku di restoran. Pemilik kamar yang asli ada di ruang yang lain. Mereka sepasang suami istri yang berbeda agama berkebangsaan srilangka. Suaminya beragama muslim sementara istrinya nasrani. Sebenarnya ruangan yang mereka gunakan awalnya adalah ruang tamu. Namun akhirnya digunakan sebagai ruang pribadi mereka. Dalam flat kami ada 8 ruangan. 5 ruangan adalah kamar. Meskipun dalam satu kamar tidak hanya satu group penyewa. Bisa tiga pasangan suami istri, atapun pun suami istri dan para single baik laki-laki single maupun perempuan, dengan menggunakan partisi untuk menyekat ruang masing-masing. Dua ruangan adalah kamar mandi dan toilet. Satu toilet ada di salah satu ruang kamar. Satu ruangan lagi cukup besar adalah dapur. Dimana ruangan ini tempat pertemuan satu sama lain untuk sekedar berbagi cerita, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C8l3x_XYI/AAAAAAAAAJE/_WooPWbc8bM/s1600-h/IMG_0417.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C8l3x_XYI/AAAAAAAAAJE/_WooPWbc8bM/s200/IMG_0417.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165836131408764290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gedung tempatku tinggal cukup megah. Ditengah-tengahnya di sediakan ruangan terbuka sehingga gedung ini cukup punya udara. Dilantai tiga malah ada semacam ruangan besar terbuka yang bisa kulihat dari lantaiku lantai enam. Setiap sore kalau kebetulan aku sedang off atau masuk pagi, sesekali kusempatkan untuk melihat anak-anak tetangga flatku sedang bermain bola. Dubai dan kehidupannya sangat kontras dengan sukabumi ( hee..) sebagai kota kecil Jawa barat dengan kehidupannya. (ya iyya lah..hee..) Di Sukabumi sana, antara satu rumah dengan rumah yang lain saling mengenal hingga jarak terjauh sekalipun. Di sini, satu gedung yang terdiri dari sejumlah flat bisa dianggap sebagai satu RT atau RW atau kelurahan. Tapi antara satu flat dengan flat lainnya saling acuh. Mungkin hanya dalam satu fl&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C9_nx_XZI/AAAAAAAAAJM/uWDsL3H_HZI/s1600-h/IMG_0188.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C9_nx_XZI/AAAAAAAAAJM/uWDsL3H_HZI/s200/IMG_0188.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165837673302023570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;at yang masih memungkinkan untuk bertegur sapa dan hanya sekadar berbagi cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam flat yang sekarang ini, terdiri dari ragam bangsa juga. Dulu, aku tidak kenal dengan bangsa Myanmar, sekarang sahabat-sahabat baruku itu menempati kamar lain bertetanggaan denganku. Mereka punya aksen yang khas ketika berbicara bahasa Inggris. Seperti bercampur dengan dialek bahasa cina. Kadang cukup sulit untuk bisa memahami maksud percakapan mereka. Di kamar lain aku punya tetangga Srilangka kakak beradik yang cukup dekat denganku. Ada juga sepasang suami istri antara suaminya yang berbangsa Nepal dengan isterinya yang filipina. Dan sepasang Nepal lainnya. Sementara di kamarku, adalah para jomblo-jomblo yang datang dari negara berbeda-beda. (Ha….ha.. kaciaaan…deh. ) Mungkin cuma Amira temanku asal Morocco ini yang punya pacar. Tapi aku juga tidak tahu pasti. Atau juga Shirin temanku Egypt ini. Tapi mungkin juga dia punya pacar, hanya suatu hari dia bilang padaku &lt;em&gt;ana mauhib&lt;/em&gt;. Maksudnya ga cinta. Tahu kan Shazia temanku yang berkebangsaan Pakistan? Dia salah satu temanku yang paling dekat. Dia pun jomblo. Meskipun teman laki-lakinya yang dekat ada. Katanya mau cari bule aja. Ha..ha.. heran..sampai kapan sih bule selalu jadi central. Caappee ddeehh...&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C_BHx_XaI/AAAAAAAAAJU/LSvQcfgL_RA/s1600-h/IMG_0100.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C_BHx_XaI/AAAAAAAAAJU/LSvQcfgL_RA/s200/IMG_0100.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165838798583455138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sulit membayangkan sekamar bersembilan bagi mereka yang biasa hidup enak; sekamar sendiri lengkap dengan pasilitas pribadi lainnya termasuk kamar mandi di dalam. Tapi di Dubai, jangan bermimpi bisa memperoleh itu semua betapapun kita tidak terbiasa di tanah air sana. Tempat tidur yang disediakan biasanya bertingkat. Tempat tidurku ditingkat atas. Tempat tidurku menghadap ke balcony. Karena aku tinggal di lantai enam, aku bisa leluasa melihat ke luar dengan ketinggian itu melihat aktivitas orang-orang di kejauhan sana langsung dari tempat tidurku. Seperti nonton televisi berdimensi banyak. He..Bagiku, sekamar dengan banyak orang seperti ini seperti di pesantren dulu. Kalo dibandingkan sih, flatku jauh lebih nyaman dibanding asrama pesantrenku dulu. Lagipula kami sudah seperti keluarga. Mereka hangat dan bersahabat. Kamar, kami gunakan sebagai aktivitas pribadi. Sementara, kalau ingin “sedikit buat keributan” , kami bisa berkumpul di ruang dapur atau ke luar teras depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7DAanx_XbI/AAAAAAAAAJc/jKV5j8NjwcI/s1600-h/IMG_0097.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7DAanx_XbI/AAAAAAAAAJc/jKV5j8NjwcI/s200/IMG_0097.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165840336181747122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buat mereka yang ingin sedikit lebih baik mempunyai tempat tinggal, minimal harus mempunyai penghasilan tetap sekurang-kurangnya 10.000 -15.000 dirham. Silahkan untuk menikmati satu buah flat sederhana dengan luas gedung kurang lebih 8x7 m2. dengan harga sewa kira2 60.000-70.000 dhs pertahun. Tapi, tinggal bersama orang lain yang sudah kita kenal atau paling tidak berprilaku baik, lebih dibutuhkan di Dubai ini. Tinggal sendiri dalam satu flat pasti akan sangat sepi. Kehidupan di sini kering dan sangat individualis. Mempunyai pasangan seperti sudah sebuah keharusan bagi hampir semua orang di sini. Setiap orang setiap harinya hanya disibukkan dengan pekerjaan dan gaya hidup konsumtif lainnya; shopping, clubbing, dan kegiatan hiburan lainnya. Bagi single yang hidup di Dubai, ujian yang sangat berat hee..terutama buat para bujangan.&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7DBLnx_XcI/AAAAAAAAAJk/ebpMp-KN8xw/s1600-h/IMG_0847.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7DBLnx_XcI/AAAAAAAAAJk/ebpMp-KN8xw/s200/IMG_0847.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165841177995337154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sisi lain dari kemegahan Dubai ? ada di cerita selanjutnya…masih mau nyimak bukan? : )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-2411503359494927431?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/2411503359494927431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-dan-tempat-kos-baru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/2411503359494927431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/2411503359494927431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-dan-tempat-kos-baru.html' title='Dubai dan Tempat Kos Baru'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R7C6Jnx_XXI/AAAAAAAAAI8/CvwHDzyIzzc/s72-c/IMG_0435.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-9119115992373388466</id><published>2009-05-19T23:48:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:49:20.623-07:00</updated><title type='text'>Hari libur Bush nasional</title><content type='html'>Kamis, 1 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49kveiXReI/AAAAAAAAAI0/HHsinAFbgJ8/s1600-h/IMG_0369.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49kveiXReI/AAAAAAAAAI0/HHsinAFbgJ8/s320/IMG_0369.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156450865176331746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua malam yang lalu pemilik flatku bertanya apakah aku besoknya libur? Dia bilang esok hari, tepatnya tanggal 14 januari semua jalur jalan akan ditutup. Semua kegiatan kantor libur. Sekitar tiga hari yang lalu, temanku asal Myanmar yang bekerja di kawasan Mall of Emirate sebagai seorang beauty consultant bilang bahwa minggu ini Ia punya libur dua hari. Pada saat itu aku tanyakan kenapa dua hari, tapi Ia sendiri tidak tahu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena minggu ini jadwalku pagi, pada tanggal 14 itu, pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan seperti biasa menunggu jemputan dalam balutan angin pagi musim dingin dan derasnya hujan pagi itu. Kami melewati jalur yang tidak biasa karena jalur utama sudah ditutup. Barikade polisi lalu lintas memagari jalan kami. Kami pun memutar arah dan mencoba jalur lain. Dan tetap sama. Banyak jalur kami lewati dan hasilnya nol. Kami kembali pulang. jam 6.20 aku keluar gedung, sedikit berjalan karena mobil jemputan tidak mau memasuki area gedung tempatku tinggal. satu jam empat puluh lima menit kami habiskan di jalan yang seharusnya jarak tempuh tempatku bekerja hanya 30 menit pulang pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restoran kami tidak jadi buka. Kami tidak menemukan jalan yang kosong dari penjagaan. Managerku kecewa, sebab insting bisnisnya untuk memperoleh pendapatan lebih sebagaimana perkiraannya, terpaksa sia-sia. Dari informasi televisi, beberapa jalur utama lalu lintas akan serempak ditutup pada tepat jam 8.00. nyatanya sejak jam 6.40 an, banyak jalur lintas utama yang sudah ditutup. Jalanan macet oleh kendaraan yang hendak melintas tapi terhalang petugas. Ada yang berbalik arah, ada yang berbelok ke arah yang lain, ada juga beberapa kendaraan yang turun dari mobil. dan berhadap-hadapan dengan petugas. Dari dalam mobil kuperhatikan mereka beradu argumentasi. Tampak wajah-wajah kecewa menghiasi mereka para pengguna jalan. Namun tampaknya sia-sia saja. Ada juga yang berbicara sambil menunjuk jam di tangannya. Barangkali penutupan jalan ini menghambat berbagai rencananya. Kenyataanya jadwal penutupan jalur lintas ini dimajukan tanpa konfirmasi pada public. Semua ini terjadi karena Presiden Amerika George W. Bush akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa. Seorang Bush bisa menggoyang sehari berbagai rencana yang sudah dipersiapkan banyak orang. Ada yang mungkin hendak melahirkan terpaksa menahan sakit sebentar karena antrian mobil menuju arah rumah sakit tertahan petugas. Ada yang mungkin hendak mengejar pesawat untuk pulang menjenguk orang tua yang sudah sekarat atau koma, ada yang bertugas mengantar delivery makanan skala besar untuk restoran-restoran atau hotel atau supermarket, yang mungkin saja isinya kue-kue basah dan pastries ala restoranku seperti tart, cheese cake, roti, soup, terpaksa agak sedikit kurang sempurna karena keterlambatan di jalan. Seperti croissant yang jadi agak alot misalnya. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Ah Bush…Bush…gara-gara kamu minggu depan aku tidak akan dapat off. Karena pada hari kamu datang, kami tidak jadi masuk. Padahal, paginya aku tetap harus bangun, kehujanan, kedinginan, menunggu jemputan. Pada jam 4 sore, jalanan sudah kembali dibuka. Beruntung temanku yang kebagian shif siang, mereka punya kelonggaran waktu terlambat tapi tetap mendapatkan off minggu depan. Nasib…nasib….hheee…&lt;br /&gt;Bush..Bush…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-9119115992373388466?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/9119115992373388466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/hari-libur-bush-nasional.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/9119115992373388466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/9119115992373388466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/hari-libur-bush-nasional.html' title='Hari libur Bush nasional'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49kveiXReI/AAAAAAAAAI0/HHsinAFbgJ8/s72-c/IMG_0369.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-8914702948714872424</id><published>2009-05-19T23:45:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T23:45:33.002-07:00</updated><title type='text'>Tahun Baru dan Resolusi</title><content type='html'>Kamis, 17 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49SOeiXRbI/AAAAAAAAAIc/pklARHCAzYE/s1600-h/IMG_0533.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49SOeiXRbI/AAAAAAAAAIc/pklARHCAzYE/s320/IMG_0533.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156430507031348658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semoga belum terlambat, selamat tahun baru buat para pengunjung blogku.Tahun baru kali ini sebagaimana tahun baru sebelumnya masih sama. Bedanya aku bertahun baru di Negara orang bersama teman-teman baru dan tentu saja lingkungan dan suasana baru. Di sini dingin dan sedang musim hujan. Ternyata Dubai bisa banjir juga!! Hee..hujan selalu punya kesan khusus buatku. Aku selalu menyukai bau hujan. Rasanya damai. Apalagi ketika airnya menyentuh tanah. Rasanya tanah dan aku satu darah daging. Meskipun dingin sekali, menikmati turunnya hujan di Dubai adalah kesan tersendiri buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun baru kali ini, tidak ada yang special secara yang biasa umumnya orang lakukan. Tiup terompet, jalan-jalan, party, atau beragam perayaan lainnya. Aku bisa saja membuat ini special meskipun dengan caraku sendiri. Tapi juga aku bisa membuat pergantian tahun ini biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari aku hanya semakin menyadari bahwa hidup ini singkat. Semakin hari aku semakin tidak ingin menyiakan-nyiakan waktu. Bagaimanapun keadaannya, aku harus selalu dapat menikmati hidup yang ku jalani. Setiap hari adalah istimewa. Setiap hari adalah sebuah pencapaian tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49V7eiXRdI/AAAAAAAAAIs/xsQX0w81anQ/s1600-h/IMG_0315.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49V7eiXRdI/AAAAAAAAAIs/xsQX0w81anQ/s200/IMG_0315.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156434578660345298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir genap 11 bulan aku tinggal di Dubai. Semakin hari aku semakin mengenal kawasan ini. Semakin hari aku semakin dapat menyesuaikan dan berkompromi dengan banyak situasi disini. Sejauh ini, alhamdulillah aku baik-baik saja. Kadang sepi melanda, kadang juga rasa bosan datang. Tapi aku selalu bisa mengatasinya dengan menghadirkan mimpi-mimpi yang ingin ku wujudkan satu persatu sebelum tiba saatnya Tuhan memanggilku. Lalu aku bangun lagi, tersenyum, dan menjalani hari-hari seperti biasa. Apa yang tidak membuatku jenuh adalah rasa ingin tahuku tentang banyak hal, dan justru aku tidak tahu apa yang menyebabkanku kadang-kadang timbul rasa bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku menelepon ibuku, aku bilang aku kangen makan mie ayam dan bubur ayam kesukaanku, kangen makan nasi panas, plus sayur asem, plus tempe goreng, sambel tomat, atau terasi, plus ikan asin. Wwuuuiiihh….yami banget. Apalagi di sini lagi musim dingin. Kadang hujan rintik seharian. Sebuah paket kenyamanan yang begitu indah. Hhmmm…apa boleh buat, aku harus berkompromi lagi. Disini tidak ada tempe. Ada di Karamah. Harus pakai bus untuk ke sana. Hanya ada Tahu. Akhirnya aku masak Tahu goreng, sambel tomat, ikan asin dan sayur sup pakai sosis. Lumayan…hee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap orang yang kukenal yang ku jumpai, selalu kutanyakan apa resolusi mereka di tahun ini. Jawabnya beragam. Mungkin aku bisa menyontek beberapa dari resolusi mereka. Nyatanya, aku punya resolusi sendiri. Ada 8 buah resolusi yang kubuat. Kenapa 8, tidak tahu. Bukan pula karena tahun ini 2008. Semua resolusi ini masih kurahasiakan. Sebelumnya aku tidak punya resolusi. Semuanya mengalir. Terus terang, baru kali ini aku punya resolusi. Dan resolusi yang ku buat cukup menantang bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49TbuiXRcI/AAAAAAAAAIk/YuzeC6-NZKM/s1600-h/IMG_0127.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49TbuiXRcI/AAAAAAAAAIk/YuzeC6-NZKM/s200/IMG_0127.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156431834176243138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mempunyai resolusi menurutku bisa membuat hari-hari menjadi lebih hidup. Tidak monoton dan rutin. Hari-hari yang kita lalui memang harus selalu hidup dan layak dimaknai dan dirayakan. Sedih, senang, sepi, patah hati, jatuh cinta, patah hati lagi, sedih lagi, jatuh cinta lagi, senang lagi … hanya bagian dinamika hidup. Tidak ada kata menyerah. Semua itu justru membuat kita tambah kuat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau temanku bilang, sebesar apapun badai, sederas apapun hujan, ia yakin bahwa semakin dekat langkahnya pada takdir. Aku kira begitu. Apa itu takdir, menurutku diantaranya adalah kegelisahan dan kata hati yang selalu memanggil untuk diwujudkan. Kejarlah panggilan hati itu. Panggilan hati itu hanya kita yang merasakan. Kemanapun arah angin membawa, panggilan hati tidak akan mati. Ia selalu meminta kita untuk mewujukannya. Wujudkan itu. Selagi nafas masih bersatu dengan raga, jangan pernah memunculkan kata “tidak mungkin”….sekali lagi, selamat tahun baru dan selamat mewujudkan mimpi kita satu persatu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-8914702948714872424?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/8914702948714872424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tahun-baru-dan-resolusi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/8914702948714872424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/8914702948714872424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tahun-baru-dan-resolusi.html' title='Tahun Baru dan Resolusi'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R49SOeiXRbI/AAAAAAAAAIc/pklARHCAzYE/s72-c/IMG_0533.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-5052531159292776708</id><published>2009-05-19T23:42:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T23:42:55.610-07:00</updated><title type='text'>Untuk Linda</title><content type='html'>Minggu, 23 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R29mReiXRZI/AAAAAAAAAIM/7GOSMGqXPGI/s1600-h/IMG_0434.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R29mReiXRZI/AAAAAAAAAIM/7GOSMGqXPGI/s200/IMG_0434.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147445349548770706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua insan atas nama cinta dipertemukan. keduanya lahir, tumbuh, dan dibesarkan oleh lingkungan yang berbeda, oleh tradisi, tata cara, dan adat kebiasaan yang berbeda. Keduanya menyadari bahwa mereka adalah dua sosok pribadi yang berbeda. Maka, tatkala mereka ingin membaurkan diri satu sama lain, perbedaan awal yang dimiliki bersama, yang mereka bawa, memang itu niscaya, dan tak mungkin disamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bukanlah hanya sekedar kebersamaan bagi mereka, bukan sekedar saling memberi secara materi, bukan sekedar sebuah pengorbanan, atau hanya sekedar sebuah jalan kenikmatan penyaluran naluri seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lebih dari itu, cinta sejatinya adalah sebuah semangat hidup, roh untuk terus-menerus tidak membuat pelakunya berhenti menemukan dan mengenali diri. Bagi mereka, cinta tidak boleh membuat orang yang merasakannya menjadi terasing, dan tercerabut dari eksistensinya, hingga ia tidak bisa lagi mengenal dirinya sendiri dengan utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cinta yang ingin terbangun diantara mereka. Cinta yang bukan menguasai satu atas yang lainnya, cinta yang bisa membuat mereka lebih peka terhadap banyak hal yang membutuhkan sentuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang jujur. Cinta yang agung. Cinta yang bermakna sebagai sebuah kebersamaan yang hidup, saling menguatkan eksistensi masing-masing, bukan menghancurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tahu, dunia yang terlihat, yang dialami, dijalani, dan yang dirasakan, memang bukan hanya sekedar pemenuhan urusan perut dan otak, bukan hanya semacam sekedar perlombaan mempertahankan gengsi dan harga diri semata. Ada banyak hal yang tidak tampak dipermukaan, yang ingin dimaknai juga secara seimbang. Dan yang mereka tahu, tidak banyak diantara manusia yang mau menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin melihat orang yang dicintai tak lebih hanya sebagai seorang manusia biasa. Seorang manusia yang pada dasarnya sama seperti manusia lainnya. Satu sama lain bisa marah, menangis, cengeng, rapuh, manja, urakan, norak, nyebelin, cuek, jorok, dan banyak lagi. Mereka tahu bahwa keduanya tidak selalu seperti tampak di permukaan ; manis, ceria, tangguh, percaya diri, berani, semangat, pintar, dan lain sebagainya. Mereka ingin memperlakukan kekurangan dan kelebihan itu secara adil, melihatnya secara utuh. Sebagai seorang manusia biasa yang jauh dari sempurna. Dan juga sebagai manusia yang punya peran sejajar meskipun dibedakan oleh jenis kelamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi keduanya, pernikahan sejatinya adalah sebuah institusi yang sangat sakral. Di dalamnya mengandung sebuah konsekuensi yang jauh dan tanggung jawab yang besar. Dibutuhkan kearifan di dalamnya. Setiap orang tentu ingin mengisi hidup dengan sesuatu yang membuat mereka bahagia dan senang menjalaninya. Dan mereka ingin kebahagiaan itu bisa mereka raih selama mungkin yang mereka bisa harapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R29nFuiXRaI/AAAAAAAAAIU/ELVJaMp4aGM/s1600-h/IMG_0435.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R29nFuiXRaI/AAAAAAAAAIU/ELVJaMp4aGM/s200/IMG_0435.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147446247196935586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di atas segalanya, mereka  juga tidak tahu hingga kapan mereka bisa seiring sejalan. Mereka  juga tidak tahu seberapa lama dan kuat sang chemistry tetap bertahan. Satu hal yang pasti yang mereka yakini bahwa persoalan jodoh, sama dengan maut. &lt;em&gt;There’s always invisible hand.. &lt;/em&gt;Seperti halnya perjumpaan mereka….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selamat mengarungi bahtera rumah tangga, Linda yang cantik ; )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     Fishroundabout, Deira, Dubai, 23 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-5052531159292776708?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/5052531159292776708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/untuk-linda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/5052531159292776708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/5052531159292776708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/untuk-linda.html' title='Untuk Linda'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R29mReiXRZI/AAAAAAAAAIM/7GOSMGqXPGI/s72-c/IMG_0434.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-641324057334118557</id><published>2009-05-19T23:28:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T23:28:44.700-07:00</updated><title type='text'>The 36-UAE National Day, Congratulation.....!!!!</title><content type='html'>Senin, 10 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R100JVW_5HI/AAAAAAAAAF0/vX7ivNBdedU/s1600-h/IMG_0789.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R100JVW_5HI/AAAAAAAAAF0/vX7ivNBdedU/s320/IMG_0789.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142323684484047986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengenang Saif Saeed Ghubash&lt;/strong&gt;..&lt;br /&gt;Berberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 2 - 3 Desember UAE merayakan hari jadinya yang ke 36. Perayaan ini di meriahkan oleh berbagai acara dan atribut yang melambangkan angka 36 dan bendera UAE. Hingga abaya yang dikenakan sebagian perempuan lokalnya pun diberi pita bercorak hitam, merah, hijau dan putih sebagai warna dari bendera UAE. Seperti di bundaran depan restoranku di sekitar kawasan Up Town mirdiff ini, penuh dengan orang-orang yang mengikuti aneka games dalam karnaval pada malam harinya. Ada juga pertunjukkan akrobat dan musik shows oleh artis-artis lokal. Tentu saja suasana ini menguntungkan restoranku yang juga letaknya sangat strategis. Hampir setiap malam padat pengunjung. Terutama pada saat weekend, kamis malam hingga sabtu malam, suasana bisnis di restoranku cukup sibuk hingga kadang kewalahan dan sebagian diantara kami telat untuk break. Selain karena menyambut hari jadinya ini, bulan Desember adalah juga jelang hari natal dan tahun baru. Dubai, dimana terdapat ragam budaya dan agama, juga tidak lepas dari atribut pohon natal di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang negara UAE sebagai negara muslim arab yang terbuka, tidak terlepas dari jasa seorang menteri negara pertama untuk urusan luar negeri Saif Saeed Ghubash periode 70 an. Siapakah dia? Mari kita mengenalnya lebih dekat melalui keluarga dan para sahabatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara dari Ras Khaimah, salah satu negara bagian di UAE, sosok Saif Ghubash masih jelas teringat dalam lembar sejarah bangsa ini; modern, self-made --yang maju atas usaha sendiri-- , berpendidikan, terbuka, tapi pada saat yang sama ia juga orang yang memegang kuat pada akar tradisi. Bangsa ini tidak hanya mengenangnya pada masa hidupnya, namun juga saat kematiannya yang dramatis. Bukan hanya karena kematiannya disebabkan atas pembunuhan berencana dengan alasan yang tidak pernah jelas, namun juga karena Ia merupakan penggagas dan pelopor berdirinya UAE sebagai negara federasi dengan kerja kerasnya yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghubash dibunuh pada tanggal 23 oktober 30 tahun yang lalu, di bandara Abu Dhabi saat sedang memberikan salam perpisahan pada mantan menteri luar negeri Syiria saat itu, Abdul Halim Khaddam yang sedang melakukan kunjungan ke UAE. Diduga, sasaran pembunuhan sebenarnya ditujukan padanya, namun peluru yang hendak menyerangnya meleset dan menewaskan Ghubash saat perjalanan ke rumah sakit saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R107H1W_5PI/AAAAAAAAAG0/ckbkkdCztAY/s1600-h/IMG_0907.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R107H1W_5PI/AAAAAAAAAG0/ckbkkdCztAY/s200/IMG_0907.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142331355295638770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Omar Saif Ghubash mengenang sang ayah sebagai seorang pekerja keras. Di ceritakan oleh rekan-rekan ayahnya di Jerman, Ghubash pernah bekerja di pertambangan di Jerman karena untuk menunjang kondisi keuangannya. Omar menyerukan untuk tidak melupakan sang ayah yang mempunyai kebebasan untuk melakukan perjalanan, memiliki kecerdasan dalam mempelajari dan menguasai berbagai bahasa dan berwawasan luas. Menurutnya, sang ayah sangat menikmati hidupnya. Sebuah percakapan yang menarik dan buku-buku yang bagus dan inspiratiflah yang lebih membuatnya senang dari pada mempunyai uang yang banyak. Kualitas hidup yang ditujukkan pada anak-anaknya adalah bahwa apapun tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini serta nikmatilah hidup hingga tak ada lagi yang tersisa untuk bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, bagi Omar besaudara dan seorang ibunya yang berkebangsaan Rusia ini, setelah apa yang menimpa sang ayah dan rasa kehilangan yang tak mungkin bisa digantikan dengan apapun, duduk dan menangisi kepedihan hati atas rasa kehilangan yang terus-menerus bukan cara yang tepat, sementara pada saat yang sama ketika kita menoleh sekeliling dan menyaksikan ada banyak orang yang membutuhkan perhatian kita, itulah yang lebih utama. Bahwa kita harus peduli pada sekeliling kita sebagaimana kita juga membutuhkan kepedulian orang lain pada saat berada dalam posisi yang sama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutur Omar, Ia mengenal ayahnya dalam caranya memandang hidup. Mengapa sang ayah sangat concern dalam melakukan banyak hal karena Ia mengerti dan paham atas penderitaan orang-orang. Ia juga belajar tentang pentingnya mengamati, berekplorasi, berfikir, dan untuk tidak berputus asa. Menurut apa yangdiceritakan ibunya, pada usianya ke 35, sang ayah tidak pernah putus asa meskipun tidak memilki uang sepeserpun. Meskipun usianya baru 6 tahun saat kematian sang ayah, Omar tetap bisa merasakan sosok sang ayah yang hangat, penuh cinta, kebaikan dan selalu siap mendengar setiap keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R106XVW_5OI/AAAAAAAAAGs/M4Pso8rMs1Y/s1600-h/IMG_0767.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R106XVW_5OI/AAAAAAAAAGs/M4Pso8rMs1Y/s320/IMG_0767.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142330522071983330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;The prize – Banipal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenangan Ghubash, keluarganya merupakan dukungan utama dalam memperoleh the Banipal Prize for Arabic Literary Translation. Penghargaan terhadap karya terjemahan yang digarap selama lima tahun ini adalah usaha yang lumayan memakan waktu. Karya yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris inipun bertujuan untuk menambah literatur tentang profile dunia arab kontemporer serta bentuk penghargaan terhadap arti pentingnya karya-karya yang dihasilkan oleh para translator secara perseorangan. Hal lain yang lebih penting juga adalah dengan adanya tambahan literature ini akan semakin mendorong para penterjemah menghasilkan karya-karya terjemahan yang lebih banyak lagi, serta melalui ini pula dapat mempermudah barat dalam memahami dunia arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sahabat dekat Ghubash adalah Zaki Anwar Nusseibeh, seorang wakil kepala kewenangan warisan dan kebudayaan Abu Dhabi dan sebagai penasihat menteri urusan kepresidenan. Ghubash dan Nusseibeh pertama kali bertemu ketika Ghubash bekerja pada keme nterian luar negeri sebagai sekertaris pada tahun 1971. Dia diperkenalkan oleh Dr Ebrahim Ebrahim yang membawanya pada acara kementerian untuk menyelenggarakan sebuah seminar bagi para diplomat baru. Dr Ebrahim berkata pada Nusseibeh : “ &lt;em&gt;you have to meet this fantastic person. I wont tell you anything about him, just come and meet him “&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Nusseibeh menjabat sebagai penterjemah Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan. Dia juga bekerja di Departemen Informasi yang kemudian menjadi menteri&lt;br /&gt;Informasi setelah negara federasi terbentuk.Diceritakan Nusseibeh, pertemuan pertama melalui makan malam itu mengawali sebuah hubungan persahabatan yang lama, dekat dan luar biasa. Menurutnya, Ghubash tidak seperti pada umumnya warga UAE. Secara kesan fisik, ia selalu mengenakan jas. Ia tidak pernah memakai kandoora seperti warga lokal UAE lainnya. Pada usia mudanya Ia adalah seorang yang memiliki pemikiran liberal bahkan kekiri-kirian. Yang mengagumkan pada diri Ghubash adalah betapa intelek dan juga berwawasan internasional seorang Ghubash yang dikenalnya. Tapi pada saat yang sama Ia juga sangat memegang kuat tradisi, budaya dan warisan yang dimilki Islam, Arab, dan UAE khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R107tFW_5QI/AAAAAAAAAG8/dzZrjjUiXe8/s1600-h/IMG_0912.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R107tFW_5QI/AAAAAAAAAG8/dzZrjjUiXe8/s200/IMG_0912.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142331995245765890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas mengenai perjalanan intelektualnya, Ghubash pada awalnya belajar Fikih dan Sharia di kota kelahirannya Ras Al Khaimah. Ia memulai dari sekolah dasar pendidikan arab dan Islam. Ghubash meninggalkan tanah kelahirannya pada usia 14 tahun untuk belajar. Tahun 1949, Ia pergi ke Bahrain dan masuk sekolah formal. Selanjutnya Ia berkeliling dunia belajar di berbagai negara tidak hanya bahasa yangdipelajarinya namun juga budaya dan peradabannya. Ghubash hidup selama bertahun-tahun dalam kondisi yang keras dan sulit ketika Ia berkeliling dunia. Ia harus tidur di mesjid-mesjid ketika Ia belajar di Bahrain sebab tidak sanggup membayar sewa kamar. Ia pun terpaksa harus bangun pagi sekali sebelum petugas datang dan bersiap untuk berangkat sekolah. Dalam perjalanan studinya di berbagai negara, Ghubash belajar banyak hal. Ia juga mendapatkan beberapa beasiswa. Gelar akademisnya di peroleh dari Itali, Jerman, Perancis dan terakhir di Rusia, dimana Iapun menikah di sana. Suatu kesempatan Ia pernah bercerita bahwa Ia menyewa jas untuk menikah karena Ia tidak memiliki satupun. Setelah memperoleh gelar sarjana, Ia kembali ke tanah air pada tahun 1969. Menurut Nusseibeh dia memiliki pengetahuan yang fenomenal mengenai sastra serta puisi-puisi tradisional dan modern tidak hanya sastra dan puisi arab namun juga Itali, Jerman, Inggris, dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya ia menemukan jawaban mengapa Ghubash dapat menguasai semua itu sebab ia merupakan teman dari para penulis dan penyair muda yang berasal dari negara-negara yang ia kunjungi. Mengutip kesannya mengenai Ghubash, menurutnya Ghubash seorang yang mengagumkan,” &lt;em&gt;the more you sat with him, the more you discovered what kind of a person he was; humane, a person of the world and a very strong supporter of the Palestinian goals”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nusseibeh, Ia ingat seorang wakil PLO di Itali, Waeel Zaitar, yang juga seorang penyair dan penulis, adalah salah satu teman dekatnya Ghubash. Ia juga dibunuh oleh teroris palestina. Namun saat Ia masih hidup, Ia sempat berkomentar tentang sahabatnya, bahwa Ghubash dimatanya adalah seorang yang internasional &lt;em&gt;in outlook&lt;/em&gt; namun &lt;em&gt;very Arab deep down&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Ghubash dikenal karena posisinya dalam memperjuangkan keadilan. Dalam kementerian, Ia dikenal sebagai seorang yang keras pendirian, moderat, dan tidak membawa pandangan-pandangan ekstrim apapun. Menurut Nusseibeh, tentu saja selalu ada pihak yang secara khusus menyerangnya sebab Ia belajar di Rusia, menikah dengan seorang berkebangsaan Rusia, selalu mengenakan jas dalam penampilannya, kekiri-kirian, dan selalu memperjuangkan keadilan dan kesetaraan sosial, meskipun demikian Ia bukan seorang yang revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12NV1W_5UI/AAAAAAAAAHc/psefPgiqcXc/s1600-h/IMG_0538.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12NV1W_5UI/AAAAAAAAAHc/psefPgiqcXc/s320/IMG_0538.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142421755767285058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimata para sahabatnya, Ghubash adalah seorang yang cinta negaranya, seorang sahabat yang setia dan hangat. Ia juga seorang yang memilki semangat hidup, sederhana, rendah hati dan memiliki selera humor yang bagus. Ia juga menunjukkan penghargaan dan penghormatan terhadap para ahli dan konsultan dari negara-negara arab yang berasal dari Mesir, Iraq, Sudan, dan Jordania untuk membantu kementerian luar negeri UAE dalam merancang operasi dan prosedur-prosedur internalnya ketika pertemuan liga arab di mesir pada 1971 berlangsung. Ia juga terpengaruh secara emosional ketika konflik di dunia arab meningkat seperti perang sipil yang terjadi di Libanon dan konflik yang berlangsung antara Syiria dan Iraq. Pada pertemuan Liga Eropa-Arabpun, kemampuannya dalam memediasi dan mencapai solusi dan kesepakatan terbukti bahwa Ia seorang yang cakap dalambidang politik dan kapabel dalam membangun persahabatan yang kuat antar bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghubash dikenal sebagai seorang penulis yang berpendidikan dan berbudaya, Ia juga seorang pengarang, dan seorang ahli bahasa meskipun cita-cita utamanya menjadi seorang insinyur. Ia menyadari arti pentingnya seorang insinyur yang handal untuk membangun negaranya. Hingga akhirnya Ia baru bisa menyandang gelar insinyur setelah 20 tahun pengembaraannya di berbagai negara dan kembali lagi ke tanah air. Selama perjalanannya ke berbagai negara tersebut, Ghubash bekerja keras dan belajar untuk mengandalkan pada diri sendiri dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan. Dia juga belajar banyak bahasa dan bekerja pada bidang yang bermacam-macam di negara-negara Eropa sebelum memperoleh gelar insinyurnya dari Universitas Science dan Technology Leningrad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang Ia peroleh ketika perjalanannya pada negara-negara antara kapitalis dan sosilais ini memberinya pemahaman yang mendalam pada bidang politik, public relation, dan kontradiksi-kontradiksi sosial. Selain itu, hal ini juga membantunya tumbuh melampaui perannya sebagai seorang insinyur yang handal sekaligus seorang intelektual dengan sebuah visi untuk membangun negaranya. Ghubash sangat menggemari karya-karya dari Albert Camus, Jean Paul Sartre dan Moliere setelah dia belajar bahasa Inggris di Bahrain dan bahasa Perancis di Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R102QVW_5KI/AAAAAAAAAGM/6prOABEU2f8/s1600-h/IMG_0763.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R102QVW_5KI/AAAAAAAAAGM/6prOABEU2f8/s200/IMG_0763.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142326003766387874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang Ia pelajari dimanfaatkannya ketika Ia kembali ke tanah kelahirannya Ras Al Khaimah. Ia memainkan peran yang sangat vital dalam perencanaan di bidang agrikulrura, wilayah-wilayah penghunian, mendesign peta, mengorganisir kepemilikan dan survey-survey lahan serta mewujudkan proyek-proyek di bidang transportasi dan lingkungan. Semua pengetahuan dan wawasan budayanya yang tersebar luar melalui artikel-artikelnya, dipublikasikan oleh majalah &lt;em&gt;Ras Al Khaimah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika negara federasi UAE terbentuk dan berdiri pada tahun 1971, Ghubash adalah salah seorang diantara yang pertama kali menggambarkan bentuk negara federasi. Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan sebagai seorang yang ahli dalam memahami karakter seseorang mengakui jasa, kebaikan dan potensinya dan menunjuk Ghubash untuk menjabat sebagai Menteri Negara UAE pertama untuk urusan luar negeri pada 12 Desember 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Ghubash tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan intelektual dan memiliki kecerdasan dan rasa ingin tahu yang sama satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nusseibeh, kematiannya merupakan korban dari terorisme buta dimana Ia juga seorang yang bersuara keras mengecam pendudukan Palestina dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk membelanya. Pada peringatan kematiannya, bangsa ini berpikir kembali bagaimana dampak yang mendalam atas kejahatan terorisme yang tidak hanya terasa bagi individu namun juga pada skala umat manusia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SMxHYApNzbI/AAAAAAAAAQQ/2VautBNkBB4/s1600-h/IMG_0399+(2).JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SMxHYApNzbI/AAAAAAAAAQQ/2VautBNkBB4/s200/IMG_0399+(2).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245646143795088818" /&gt;&lt;/a&gt;Kitapun bisa belajar padanya, betapa besar kontribusi yang diberikannya pada negara ini dan bagaimana UAE bisa tumbuh, berkembang terus adalah berkat usaha dan dedikasinya sebagai seorang warga negara. Sangat tidak mungkin bagi bangsa ini untuk melupakan jasa Saif Ghubash bahkan setelah 30 tahun kematiannya. Ia adalah milik generasi bangsa ini yang memiki visi dalam mempelopori perubahan dan pembangunan di UAE. Pada lebih dari setengah abad yang lalu sebelum negara federasi ini ada dalam cita-cita, warga negara di sini menderita buta huruf, kemiskinan, kedunguan, serta kebodohan. Namun, bagi generasi selanjutnyalah yang ditunggu untuk dapat memikul tanggung jawab terhadap kemajuan bangsa ini dan membekali diri melalui pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-641324057334118557?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/641324057334118557/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/36-uae-national-day-congratulation.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/641324057334118557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/641324057334118557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/36-uae-national-day-congratulation.html' title='The 36-UAE National Day, Congratulation.....!!!!'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R100JVW_5HI/AAAAAAAAAF0/vX7ivNBdedU/s72-c/IMG_0789.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-5156559320940869533</id><published>2009-05-19T23:22:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:23:09.669-07:00</updated><title type='text'>Dubai and ma' frens ...</title><content type='html'>Sabtu, 1 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R10w81W_5EI/AAAAAAAAAFc/goeBPUS64uM/s1600-h/IMG_0688.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R10w81W_5EI/AAAAAAAAAFc/goeBPUS64uM/s320/IMG_0688.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142320171200799810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengawali bulan di penghujung tahun ini masalah demi masalah mulai dari yang paling sepele hingga masalah besar di pekerjaanku semakin bermunculan satu persatu. Puncaknya, sejumlah rekan kerja dari Indonesia diterminasi. Kabarnya sebagian ada yang sudah diberangkatkan minggu lalu dan sebagiannya lagi masih menunggu tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus disadari bahwa bekerja di luar negeri tidak segampang di tanah air. Pertama yang harus dibangun adalah mental superbaja dan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Bayangkan, di tanah asing tanpa keluarga kita bertemu dan berinteraksi dengan berjubal orang dari aneka latar belakang dan negara dengan membawa sifat dan karakternya masing-masing baik sehari-hari maupun di wilayah professional. Kalau mengatasi ini saja sudah sulit maka entah untuk menghadapi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di minggu-minggu awal sebagaimana yang kuceritakan sebelumnya, aku memang seperti orang yang paling bodoh. Hari ke-tiga saja aku sudah menerima bentakan dari maha bosnya tempatku bekerja di depan banyak orang. Pada saat itu sebisa mungkin aku berusaha untuk tenang dan kembali bekerja sebagaimana biasa. Setiap kritikan yang masuk sebisa mungkin aku selalu berusaha untuk menerimanya secara positif. Tidak ada istilah staff baru atau lama. Mereka tidak mau tahu itu. Yang mereka tahu, kita bekerja seperti yang mereka mau. Training yang mereka berikan adalah menjalani pekerjaan itu sendiri. Kitalah yang harus punya peran yang dominan untuk bisa maksimal mempelajari dan memahami pola kerja yang dimaui mereka tanpa menunggu diberi arahan. Kitalah yang harus proaktif. Kitalah yang menolong diri kita sendiri untuk bertahan tidaknya di tempat kita bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja apalagi bagi mereka yang pemula, adalah salah satu wahana belajar untuk menjadi mandiri dan dewasa. Bagi mereka yang terutama biasa disupport orang tua, minimal untuk makan sehari-hari dan tempat tinggal, tentu bekerja di luar negeri adalah sebuah ujian yang maha berat. Belum lagi, bila manajemen di tempat kita bekerja kurang terbuka dan menyulitkan. Nerakanya dunia deh. He…jangankan untuk mengatasi masalah di tempat bekerja, masalah kebutuhan sehari-hari saja sudah memusingkan. Terutama masalah tempat tinggal. Benar-benar menyedihkan. Huu…cian banget ciii…:-(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya yang terjadi ketika masalah yang menimpa tak kunjung teratasi, minimal tidak ada gairah bekerja. Malas. Apalagi kalau sudah terpengaruh rekan kerja yang senasib. Buntutnya mogok bersama, minta kenaikan gaji, dan kalau mentok, resign. Kondisi seperti ini umum terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R1Jm-FW_5DI/AAAAAAAAAFU/3Xip171HTxY/s1600-R/IMG_0728.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139283341559718962" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R1Jm-FW_5DI/AAAAAAAAAFU/4izA2sG53ck/s320/IMG_0728.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari apakah manajemen yang amburadul, temanku pernah berpendapat, dan aku pun menyetujuinya, ada tiga alasan orang tetap bertahan di tempat bekerja dalam kurun waktu yang lama, antara lain; gaji yang memadai, suasana kerja yang kondusif, dan tidak ada pilihan lain yang mau mudah menerima kita bekerja. Ketiga alasan ini menurutku layak untuk menjadi tolak ukur mengapa kita bertahan dan tidaknya di tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bila memang gaji yang minim, sejak awal, dicek apakah gaji yang diterima sesuai kontrak atau tidak. Bila sesuai, meskipun minim, tetaplah professional. Sebab, ada prosedur yang harus dilalui untuk kenaikan gaji, diantaranya prestasi, performa, dan loyalitas. Tanya pada diri sendiri, apakah kita sudah cukup memberikan kontribusi untuk pencapaian target perusahaan, kedua apakah kita sudah sangat menunjukkan performa kerja yang memuaskan, dan ketiga bagaimana loyalitas kita terhadap perusahaan. Poin yang terakhir ini relatif diartikan loyal pada diri sendiri sebagai seorang staf yang memiliki integritas dan dedikasi secara professional. Tentunya bukan loyalitas buta tanpa tujuan. Itu tidak mencerminkan seorang yang professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah kondisi kerja yang nyaman dan supportif. Dalam dunia tempat kita bekerja, adakalanya orang tetap bertahan padahal gajinya &lt;em&gt;segitu-gitu&lt;/em&gt; saja. Apa pasal, rekan kerja yang supportif, dan atasan yang tidak &lt;em&gt;bossy&lt;/em&gt;. Setiap orang, butuh sebuah penghargaan dan apresiasi atas setiap jengkal jerih payah yang dilakukannya. Bentuk apresiasi tidak selalu berupa uang, barang atau jabatan, namun sebuah kata “good job” saja, tentu sangat mempunyai arti bagi mereka yang mengharapkan pengakuan. Seorang atasan yang cerdas dan bijak, betapapun tekanan yang diterima dari atasannya lagi luar biasa berat, dia akan mengartikulasikannya kepada bawahan dengan cara yang berbeda, bukan dengan bentuk tekanan yang serupa. Tekanan demi tekanan dalam sebuah pekerjaan itu lumrah. Bahkan seakan dibenarkan. Namun, apakah tekanan akan selalu berkorelasi dengan pencapaian tujuan yang diinginkan atau tidak, tampaknya masih perlu diuji. Dalam logika kapitalisme, memang setiap usaha apapun, selalu bertujuan untuk memperoleh untung yang besar, dengan menekan biaya produksi sekecil mungkin. Hal ini, berimbas pada hilangnya atau paling tidak menipisnya sisi nilai humanis dalam pencapaian keuntungan tersebut. Pada akhirnya, uang dan keuntungan yang jadi pandu, kita yang bekerja adalah semata-mata alat. Sadar atau tidak, itulah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R10x-FW_5FI/AAAAAAAAAFk/_FZmynicq5k/s1600-h/IMG_0719.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R10x-FW_5FI/AAAAAAAAAFk/_FZmynicq5k/s200/IMG_0719.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142321292187264082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tidak banyak perusahaan yang mudah menerima kita bekerja. Singkatnya, tidak ada pilihan lain. Ketika berada dalam situasi ini, memang sulit. Mudah-mudahan alasan ini bukan jadi alasan utama kita bertahan di tempat kerja. Sebab, bila ini yang jadi alasan utama, hal ini lebih mencerminkan bahwa skill kita amat terbatas dan kurang layak jual. Inilah yang kemudian harus disadari ketika kita merasa tidak ada pilihan lain. Buntutnya, menjalani pekerjaan tidak dari hati, malas, dan tentu tidak maksimal. Keluar dari pekerjaan bingung mau kerja apa, tapi bekerja di tempat yang tidak kondusif juga siksaan. Buah simalakama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga uraian singkat ini, mana sekiranya yang membuat kita tidak tahan atau istilahnya &lt;em&gt;bete &lt;/em&gt;di tempat kita bekerja sekarang ini. Aku pribadi juga hampir berada di poin yang ketiga sebetulnya. Selama aku bekerja, aku hanya sedikit belajar bagaimana menjadi pimpinan yang bisa menghargai staffnya. Itupun tidak menyeluruh yang aku pelajari sebab terbentur gaji yang minim saat itu. Selebihnya para pimpinan di tempatku bekerja sudah seperti bos-bos cilik yang tidak objektif dan fair. Tapi, sebagai manusia yang berhak menikmati hidup, aku harus menyiasati itu untuk fokus pada hal-hal yang lebih prinsip dan prioritas. Seperti, belajar kearsipan, membangun relasi sana-sini, belajar mengorganisasi berbagai kegiatan, dan lain-lain yang terkait tanggungjawabku, terlepas dari kurangnya penghargaan dan gaji yang minim. Kemudian kita pulalah yang mengetahui batasan waktu yang realistis hingga kapan kita bisa mentolelir hal-hal yang kurang kondusif untuk kenyamanan kita bekerja dan pengembangan diri selanjutnya, untuk pindah ke tempat kerja yang baru berbekal ilmu gratis dari tempat kerja yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R105AVW_5NI/AAAAAAAAAGk/MfBSBSRaC0Q/s1600-h/IMG_0625.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R105AVW_5NI/AAAAAAAAAGk/MfBSBSRaC0Q/s200/IMG_0625.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142329027423364306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bekerja, dimanapun, jangan pernah melupakan etika ; kejujuran, profesionalisme, tingkah laku yang sopan, dan tutur kata yang santun. Pelajari dan selami setiap hal sampai sekecil-kecilnya pada setiap kali kita berkesempatan bekerja di suatu tempat. Hal ini akan sangat bermanfaat buat bekal kita bekerja di tempat baru, sekiranya tempat yang lama sudah tidak kondusif. Pahami secara jernih persoalan yang mengelilingi ketika ingin keluar dari tempat kerja, dan persoalan yang mungkin timbul setelah kita keluar dari tempat kerja. Keluarlah secara baik-baik. Sebab kita tidak pernah tahu mungkin kelak kita akan kembali berhubungan dengan rekan kerja atau atasan kita di tempat kerja sebelumnya. Mungkin kelak kita membutuhkan pertolongan mereka. Bila kesan kita baik selama kita bekerja dengan mereka, tentu mereka akan respek dan antuasias membantu kesulitan yang mungkin kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, keluarlah sebentar-sebentar dalam dunia rutinitas yang kadang membuat kita jenuh. Kerjakan hobby kita. Bila hobby kita terlalu mahal, belajarlah lebih fleksible untuk menyukai hobby yang murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Tidak setiap orang mempunyai bakat leadership. Tapi setiap orang harus memiliki itu. Luangkan sejenak untuk diam dan mempelajari diri sendiri. Kenali diri dengan baik. Ini penting sebab setiap diantara kita hanya akan berdiri dengan kaki sendiri pada titik tertentu dimana kita dihadapkan pada keadaan tidak ada orang yang mau membantu kita, kitalah pada akhirnya yang harus menolong diri kita sendiri. Untuk itu, jadilah diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan persoalan yang menimpa teman-teman setanah air, aku tidak berada pada posisi salah satunya baik perusahaan atau teman-temanku. Sebab pada kenyataanya, hidup seringkali memang sulit. Jika para pujangga bilang, kejam. Hee…Apa yang terjadi tidak sebagaimana yang dibayangkan. Aku hanya ingin melihat hidup ini pada akhirnya hanya sebuah game. Apakah kita bisa memenangkan game ini berdasarkan aturan yang ada, atau menyerah sebelum game ini usai sebab kita ngotot untuk memaksakan aturan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R104ZlW_5MI/AAAAAAAAAGc/97BVyDHy7yU/s1600-h/IMG_0353.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R104ZlW_5MI/AAAAAAAAAGc/97BVyDHy7yU/s200/IMG_0353.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142328361703433410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedikit menoleh ke belakang, setiap diantara kami ketika akan bekerja di Dubai ini, pasti memiliki segudang harap sebelum berangkat; gaji yang besar, lingkungan kerja yang lebih baik, rekan kerja berskala internasional, dan lain-lain. Aku ingat bagaimana dulu aku menunggu kurang lebih tiga bulan sebelum berangkat. Dan selama tiga bulan itu pula aku menganggur karena sudah terlanjur mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya tidak menduga akan tertunda-tunda. Tidak cukup sampai di situ, bagaimana aku dan kelima orang temanku tertinggal pesawat hingga harus menunggu keberangkatan seminggu kemudian. Belum lagi biaya untuk keberangkatan tentu tidak murah. Diantara kami, tentu juga ada bantuan dari sanak keluarga atau pinjam sana-sini. Semua pengorbanan itu akhirnya tak terbayarkan sebab kita terlanjur menyerah dengan keadaan dan terpaksa dipulangkan dengan reputasi yang kurang baik. Bagi mereka yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, barangkali pertimbangannya tidak terlalu sulit. Meskipun tetap akan meninggalkan perasaan kecewa. Tapi bagi mereka yang kondisi ekonominya sulit seperti aku, menurutku bertahan ditempat kerja sekarang ini justru lebih baik paling tidak dalam hal keuangan sebelum kembali ke negara asal. Dengan bentuk pekerjaan yang tidak terlalu sulit, gaji yang cukup meskipun tidak besar, dan jam kerja yang pasti, sulit untuk bisa kita peroleh di tanah air. Selebihnya, hanya bagaimana mengelola keuangan itu sendiri dan kontrol diri yang harus kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk teman-temanku, semoga kita semua mencapai setiap bentuk kesuksesan yang kita mau. Perjalanan masih panjang bukan? :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rigga road, jam 3.30 pagi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-5156559320940869533?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/5156559320940869533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-and-ma-frens.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/5156559320940869533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/5156559320940869533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-and-ma-frens.html' title='Dubai and ma&apos; frens ...'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R10w81W_5EI/AAAAAAAAAFc/goeBPUS64uM/s72-c/IMG_0688.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-2647025652092356539</id><published>2009-05-19T23:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:18:59.189-07:00</updated><title type='text'>Sudah bijaksanakah kita ?</title><content type='html'>Selasa, 6 November, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzClJ1AocHI/AAAAAAAAAE8/757Eoju0VQ0/s1600-h/IMG_0639.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129781563842130034" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzClJ1AocHI/AAAAAAAAAE8/757Eoju0VQ0/s200/IMG_0639.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini aku belajar tentang kebijaksanaan dari Monika Ardelt, Seorang professor sosiologi dari Universitas Florida yang melakukan penelitian untuk mencari tahu apa itu kebijaksanaan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kebijaksanaan hanya mempunyai efek kalau kita internalisasi. Kebijaksaan bukanlah kata-kata yang sering kita dengar dari ceramah-ceramah, atau yang kita kutip dari peribahasa-peribahasa, lalu lantas kita menganggap kita sudah memiliki kebijaksanaan itu. Tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan juga tidak sekaku yang didefinisikan oleh Paul Baltes, seorang psikolog dan direktur dari The Max Planck Institute for Human Development di Berlin. Menurut Baltes, orang-orang yang bijaksana adalah mereka yang memiliki nasihat, penilaian, dan wawasan yang dikecualikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ardelt, definisi itu terlalu kaku, terlalu intelektual dan tidak inspiratif. Layaknya seorang musisi yang memainkan keahlian teknik bermusik tetapi tanpa ada passion atau sentuhan rasa dan hasrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardelt sendiri membedakan antara orang yang ahli tentang kebijaksanaan, atau seorang yang professional tentang itu, dengan orang yang memiliki kebijaksanaan itu sendiri.&lt;br /&gt;Menurutnya, kebijaksanaan berbeda bentuknya karena berbeda-beda lahirnya. Orang yang cukup memiliki fleksibilitas dalam memandang sesuatu dengan menggunakan berbagai sudut pandang, ini juga merupakan bagian dari kebijaksanaan. Orang yang berani memandang hidup, tidak plin-plan dalam bersikap dan menerima kekurangan yang dimilikinya, ini juga bagian dari kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12O5FW_5VI/AAAAAAAAAHk/SAz7Wip_skA/s1600-h/IMG_0554.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12O5FW_5VI/AAAAAAAAAHk/SAz7Wip_skA/s200/IMG_0554.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142423460869301586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ardelt belajar kebijaksanaan dari seorang lelaki senja berusia 77 tahun, seorang pensiunan kepala sekolah. Pada akhir seluruh hidup yang dijalaninya, Ia hanya melihat bahwa segala masalah yang ada hanya semacam games. Poinnya hanya terletak pada bagaimana game itu dimainkan bukan untuk ditakuti. Dan Ia juga tidak membiarkan sesuatu apapun memaksa dan menguasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardelt juga belajar kebijakasanaan dari seorang ibu rumah tangga berusia 85 tahun, yang ritme hidupnya sangat rutin. Dengan keyakinannya, Ia mengajarkan lakukanlah apapun yang sudah seharusnya dilakukan, terlepas dari apakah kamu suka atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi ini akhirnya membantunya mengatasi kejenuhan hidupnya, bahkan ketika Ia menghadapi penderitaan setelah operasi kedua lututnya hingga Ia tidak dapat berjalan, kecuali dengan tongkat. Namun Ia masih bisa menjalani hidupnya dengan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardelt juga belajar kebijaksanaan pada seorang perempuan 59 tahun yang hanya 10 tahun mengenyam bangku pendidikan dimana ia akan berpura-pura tertidur, di dekat anak-anaknya, ditengah-tengah badai hanya untuk membuat anak-anaknya tenang. Hal ini juga bisa dilakukan pada saat situasi berkabung dipemakaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada studinya tahun 1998, Ia melakukan research, dengan mewawancarai 82 orang perempuan dan 39 orang laki-laki antara usia 58-82 tahun. Intinya Ia ingin mengetahui apakah mereka bahagia dalam hidupnya serta alasan yang menyertainya. Ia ingin melihat bagaimana kaitannya antara kebijaksanaan dihadapkan dengan masalah kesehatan dan keuangan sebagai faktor penting sebagai ukuran kesenangan. Akan tetapi, pada kenyataannya, kebijaksanaan mengalahkan keduanya secara tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12Qf1W_5XI/AAAAAAAAAH0/zEfEeQjA82E/s1600-h/Image048.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12Qf1W_5XI/AAAAAAAAAH0/zEfEeQjA82E/s200/Image048.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142425226100860274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, Ardelt ingin menemukan strategi apa yang dipakai baik oleh orang yang bijaksana maupun orang yang secara relatif tidak bijaksana ketika dihadapkan pada kesulitan dan cobaan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ia memulai dengan menanyakan kepada 180 orang relawan yang berusia senja tanpa menyebutkan identitas mereka dengan melakukan test yang disebutnya “personality and ageing well study”. Questionaire ini dibuatnya untuk mengukur bagaimana setiap individu mengukur dirinya tentang kebijaksanaan berdasarkan pada kualitas diri yang biasa dikelompokkan sebagai ukuran kebaikan, seperti : selflessness, compassion, objectivity, flexibility, kedalaman serta pemahaman tentang hidup, dan human nature secara tidak plin-plan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ardelt memilih tiga orang dengan score tertinggi dan tiga orang lainnya dengan score terendah. Dia menyimpulkan bahwa orang-orang berusia senja yang bijaksana, menggunakan tiga strategi utama dalam mengatasi masalah-masalahnya. Antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. berjarak dengan diri sendiri dari krisis atau masalah tersebut,&lt;br /&gt;2. secara aktif berusaha keras mengatasi kesulitan saat sakit dari pada selalu mengasihani atau merasa kasihan pada diri sendiri (self pity and pain)&lt;br /&gt;3. Ketika krisis atau masalah tersebut semakin meningkat, mereka menerapkan semacam kode personal atau yang disebut “life lessons” ; seperti sikap yang dimiliki oleh pensiunan kepala sekolah tadi yang tidak akan membiarkan sesuatu diluar dirinya menguasainya atau memaksanya. Atau juga seperti yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga pasca operasi kedua lututnya dengan selalu melakukan apa yang perlu dan seharusnya dilakukan, suka atau tidak. (kalau istilah kita, “ya udah, ..mau diapain? Hee..”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada mereka yang memiliki score terendah, adalah mereka yang cenderung tidak berdaya dan sangat rapuh ketika mengalami ujian berat dalam hidupnya. Mereka menderita saat mengalami ujian dan kendala dalam hidupnya tanpa mencoba dan berusaha mempelajari dan memahami situasi dan berusaha mengatasinya. Mereka malah cenderung berfikir dan meyakini bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, seperti masalah keuangan, kesehatan, dan perilaku dari pasangan yang menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, menurutnya, mereka yang bijaksana, secara dramatis mereka jarang mengeluh dan secara nyata bahkan mereka menujukkan reaksi bahagia dan menikmati anugerah hidupnya. Hal ini berbeda dengan mereka yang memilki score rendah, mereka selalu membuka diskusi panjang selama interview dan tidak pernah berhenti dari kosa kata keluhan demi keluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12P5lW_5WI/AAAAAAAAAHs/Mnho-nlBl5o/s1600-h/IMG_0874.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R12P5lW_5WI/AAAAAAAAAHs/Mnho-nlBl5o/s200/IMG_0874.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142424568970863970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Self-absorption dan ketidakbahagiaan yang timbul secara bersamaan telah menjadi tema yang berulang dalam observasinya. Ia mengatakan : “ It’s striking to me just how harmful self-centredness is to the individual “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita, boleh setuju atau tidak dengan definisi dan pendapatnya, namun, sudah mampukah kita untuk bijaksana dalam hidup yang kita jalani ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terlalu singkat, bu, pak, bo’ ya…jangan mengeluh terus toh maass…mbak yuuukk…. Peace!!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-2647025652092356539?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/2647025652092356539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/sudah-bijaksanakah-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/2647025652092356539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/2647025652092356539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/sudah-bijaksanakah-kita.html' title='Sudah bijaksanakah kita ?'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzClJ1AocHI/AAAAAAAAAE8/757Eoju0VQ0/s72-c/IMG_0639.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-7781706399077470278</id><published>2009-05-19T23:12:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:19:21.308-07:00</updated><title type='text'>Dubai dan Kehidupanku di dalamnya (bag II)</title><content type='html'>Sabtu, 6 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzCl8FAocII/AAAAAAAAAFE/2k_er7ZpPrY/s1600-h/IMG_0669.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129782427130556546" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzCl8FAocII/AAAAAAAAAFE/2k_er7ZpPrY/s320/IMG_0669.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seorang teman yang membaca tulisan di blog-ku berkomentar : " bagus Pit. Aku nanti sering-sering mengunjungi blogmu deh. Biar tahu Saudi .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang temanku yang lain, yang berkenalan via Internet lewat jalur yahoo massenger, bertanya : " Kemana aja? Jadi ke Dubai? ke Dubai ngapain ? mau jadi TKI yah ? ha..ha.. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang temanku ini hanya salah satu dari beberapa komentar yang sampai padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya aku sendiri, pada saat pertama kali memutuskan untuk bekerja dan tinggal di Dubai, bagiku Dubai adalah sebuah istilah asing sebagai sebuah kawasan yang terletak di wilayah Arab. Apa itu Dubai, dimana, bagaimana, gelap. Akhirnya aku coba search lewat internet, coba juga cari informasi lewat teman-teman yang cukup mengetahuinya, hingga akhirnya sampailah aku di Dubai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kulihat dari Internet tentang gambaran Dubai, memang tidak terlalu persis sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua gambaran baik yang kudapat melalui internet maupun informasi dari teman-teman lainnya, cukup menunjukkan bahwa Dubai adalah sebuah kawasan metropolitan arab yang syarat dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Bisa dikatakan sebagai syurganya arab ; Semua orang dari berbagai penjuru dunia datang baik yang hanya sekedar untuk berlibur, maupun bekerja dan menetap di sini.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxououfhIaI/AAAAAAAAABo/oWJPAUYK69E/s1600-h/IMG_0067.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123458803297231266" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxououfhIaI/AAAAAAAAABo/oWJPAUYK69E/s200/IMG_0067.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambaran-gambaran indah dari berbagai media yang kuketahui, dengan kawasan apartemen mewah yang terbentang megah dan unik membentuk pohon palem di pinggir pantai, sebagai sebuah ciri khasnya, itu hanyalah sebuah proyek yang belum jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di awal, aku gambarkan, Dubai adalah sebuah negara bagian di kawasan Uni Emirat Arab (UAE) yang sedang membangun. Ia merupakan negara baru yang perkembangannya sangat pesat. Dimana-mana pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama aku membaca sebuah email dari sebuah milis yang kuikuti. Ada 20 kekecewaan dari seorang yang bernama Tia O'neill mengenai Dubai. Bisa dikatakan kekecewaan karena dari ke 20 item itu menegaskan alasan-alasan orang untuk tidak menetap di Dubai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, aku setuju dengan apa yang dipaparkannya. Sebab, hal itu juga merupakan fakta yang kurang lebih aku juga merasakannya. Akan tetapi, lain O'neill, lain juga diriku. penilaian-penilaian itu bagiku meninggalkan beberapa catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Dubai bukanlah kalimantan atau kawasan-kawasan yang dilalui garis katulistiwa lainnya yang punya sejumlah besar pepohonan dan lahan-lahan hijau di dalamnya, yang beriklim tropis, dan lain-lain. Dubai bukanlah Belanda yang khas dengan bunga Tulipnya yang membentang membentuk karpet megah. Harus diakui bahwa Dubai hanyalah kawasan gurun pasir di pinggir laut. Itulah realitanya. Sebuah kawasan padang pasir yang coba disulap menjadi kawasan layak huni dengan berbagai kreasi-kreasi artifisialnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxMXV-fhIWI/AAAAAAAAABE/UicLgyh6N3g/s1600-h/IMG_0242.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121462867570270562" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxMXV-fhIWI/AAAAAAAAABE/UicLgyh6N3g/s200/IMG_0242.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kehidupan orang-orang di Dubai memang sangat materialistis. Warga masyarakat yang tinggal di Dubai dimanjakan dengan fasilitas yang harganya relatif terjangkau oleh sebagian besar masyarakat yang mempunyai pekerjaan yang layak. Sebab, rate salary yang diberikan cukup bisa mengimbangi daya beli masyarakatnya ; seperti mobil, HP, komputer, atau laptop atau barang-barang lainnya. Selain itu, dubai merupakan negara muslim arab yang cukup terbuka dibandingkan dengan negara-negara muslim arab lainnya. Secara umum, Dubai juga merupakan negara yang cukup aman dan relatif stabil. Tinggal serumah tanpa menikah, di sini lumrah. Secara resmi, tentu saja ini tidak dibenarkan secara hukum yang berlaku di sini. Namun pada faktanya, hal ini sudah menjadi rahasia umum. berbeda dengan pengalaman beberapa orang temanku yang pernah tinggal di Kuwait, dimana negara tersebut masih tertutup untuk menerima gaya hidup seperti itu, di Dubai tidaklah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kuwait, para petugas keamanan dapat merazia flat-flat yang disewa, apakah ada praktek-praktek terlarang di dalamnya. Sementara di Dubai, pemeriksaan-pemeriksaan seperti itu dianggap mengganggu hak privasi orang. Petugas hanya memeriksa apabila ada laporan terutama yang menyangkut tindakan kriminal seperti praktek obat-obatan terlarang. Seperti beberapa bulan yang lalu, temanku asal Morocco, yang tinggal bersama kekasihnya asal Myanmar, diciduk aparat karena terbukti memiliki kokain sekian gram di kamarnya. Saat ini dia ditahan 4 tahun kurungan atas tuduhan tersebut. Dan yang menegaskan hukumannya adalah krena kepemilikannya tas kokain bukan kehidupan pribadinya dengan perempuan asal Myanmar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, secara umum di sini bisa dikatakan aman. Sebelumnya aku juga sempat menggambarkan bahwa orang dapat memarkir kendaraannya di tempat-tempat terbuka tanpa merasa was-was. Belum lama, temanku yang berasal dari Libanon, kunci mobilnya tertinggal di dalam mobil. Ia baru sadar, bahwa kunci mobil itu tidak bersamanya setelah seharian meninggalkan kunci itu di dalam mobilnya. Kami semua tidak ada yang khawatir, kecuali aku. Saat itu, dalam bayanganku, mungkin mobil itu hanya tinggal kenangan. Akan tetapi, teman-temannku malah mentertawakannku. Dengan enteng mereka bilang, kalaupun tidak ada, mungkin orang hanya pinjam untuk pergi ke supermarket selama tidak lebih dari satu jam. Saat itu aku tetap tidak mengerti. Akhirnya mereka menjelaskan bahwa di sini, (di Dubai, red.) mudah untuk melacak kriminal. Sebab, hukum di sini berjalan, aparatnya di mana-mana, dan wilayahnya tidak luas. Singkatnya, ketika dua diantara temanku (yang satunya dari Tunisia, yang sekarang sedang pulang kampung mau merit, hee...Congratulation Siraj..) mengecek, mobil itu masih ada di sana. Dan aku pun akhirnya mengerti.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxMYo-fhIXI/AAAAAAAAABM/q3153nN-qAM/s1600-h/IMG_0240.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121464293499412850" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxMYo-fhIXI/AAAAAAAAABM/q3153nN-qAM/s200/IMG_0240.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prostitusi di Dubai, Seperti yang kuceritakan di awal, O'neill benar, memang terjadi terang-terangan. Bagaimana ini bisa marak, itu juga pertanyaan bagiku. Sebab Dubai adalah negara muslim yang khas muslim Arab. Bukan seperti Turki atau Tunisia yang lebih ke Eropa dan Barat. Tapi inilah realitanya. Jangan heran ketika orang-orang arab yang dengan pakaian kebesarannya yang serba putih itu yang di sebut Kandoorah ini, melakukan transaksi seks di pinggir-pinggir jalan. Ini umum terjadi. Terutama di kawasan Deira, wilayah dimana aku tinggal saat ini. Sejauh ini, aku belum melihat atau mendengar ada razia PSK seperti yang terjadi di beberapa wilayah di tanah air. PSK di sini, seperti seakan-akan bagian dari profesi lain yang diakui di Dubai. Mereka bisa hidup dan "bekerja" dengan leluasa. Mereka hanya mempunyai cuti panjang atau aku dan teman-teman sering menyebut istilah guyonan &lt;em&gt;anual leave&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;vacation&lt;/em&gt; ketika ramadan tiba. ( secara khusus, bagaimana suasana ramadan di sini akan kuceritakan di bagian yang lain) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Warga lokal UAE khususnya, memiliki tradisi berbusana yang khas ketika pergi keluar rumah. Bagi yang perempuan, mereka memakai abaya, abaya adalah busana panjang yang berwarna dasar hitam dengan selendang yang disangkukan ke kepala. Bentuk dan corak abaya ini bervariasi, ada yang tertutup penuh, tetapi ada juga yang seperti jas besar dimana tampak belahan panjang dibagian depan sehingga sebagian pakaian di dalamnya, baik celana jeans, rok, atau celana panjang biasa berbahan katun, sebagai pakaian luarnya mereka memakai abaya. Selendang yang disangkutkan ke kepala pun tidak selalu menutupi seluruh rambut&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzCmZVAocJI/AAAAAAAAAFM/jU6uxeLEUIA/s1600-h/IMG_0246.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129782929641730194" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzCmZVAocJI/AAAAAAAAAFM/jU6uxeLEUIA/s200/IMG_0246.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; tapi sebagian ada juga yang tampak rambut bagian depannya dengan dikreasikan sedemikian rupa. Pada prakteknya, abaya ini pun tidak hanya digunakan oleh penduduk asli UAE tapi juga dipakai oleh para pendatang. Sementara, yang laki-lakinya memakai kandoora. Kandoora dalah pakaian panjang serba putih dengan bagian depannya tertutup penuh. Sorban di kepala tidak selalu menjadi atribut yang dipasangkan dengan kandoora. Mereka juga biasa memadankannya dengan pet atau topi atau kopiah bundar berwarna putih. Atau tidak memakai hiasan sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Konon abaya ini wajib digunakan oleh perempuan warga lokal ketika mereka pergi keluar rumah. Tidak heran setiap saat kami bertemu mereka yang berwajah arab dan memakai abaya, maka sudah dapat dipastikan 99% mereka adalah warga lokal UAE. Abaya ini bagi mereka juga digunakan sebagai pakaian bekerja, sama dengan kandoora. Jangan heran ketika di mall, di kantor-kantor, ataupun di masjid-masjid terutama, mereka memakai pakaian yang sama. Lain halnya dengan di tanah air, ataupun di sebagian wilayah negara lainnya, pakaian seperti ini diidentikkan dengan tokoh-tokoh spiritual atau sebagai bentuk lahiriyah dari keshalehan seseorang. Barangkali kita akan menganggap aneh bila bertemu dengan orang yang pakaiannya serba hitam dan serba putih tertutup di sana-sini berada di Plaza Senayan, atau Pondok Indah Mall, maupun CiToS. Akan tetapi, di sini lumrah dan normal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berbeda dengan abaya, kewajiban memakai kandoora sebagai busana keluar rumah lebih fleksibel. Hal ini terbukti dengan seringnya aku melihat warga lokal laki-laki yang tidak selalu memakai kandoora ketika keluar rumah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian, abaya dan kandoora hanyalah bagian dari tradisi bangsa arab meskipun secara bersamaan mereka juga mengakui, hal ini bagian dari ajaran agama untuk menutupi aurat. Namun bagi sebagian yang lain abaya bukan hanya tradisi tapi juga pakaian yang dianjurkan oleh ajaran agama sebagai penutup aurat dengan warnanya yang tidak mencolok yang serba hitam tersebut. Dan bahkan bukan hanya rambut yang mereka tutupi, tetapi sebagain dari mereka juga menutupi wajah seluruhnya atau sebagian wajahnya, dimana hanya dua bola matanya saja yang tampak. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di tanah air, atau di sebagain wilayah negara lainnya, apabila bertemu orang yang berpakaian serba hitam, apalagi yang ditutupi wajahnya, kemudian yang laki-lakinya serba putih, maka barangkali kita akan serta merta melihat mereka sebagai ekstremis. Dan akan lebih mengejutkan lagi bila ternyata orang-orang yang dianggap ekstremis ini berbelanja di pusat-pusat belanja Pasar Raya misalnya, orang akan dibuat aneh oleh keberadaan mereka oleh karena penilaian kita yang sepihak itu. (ha..ha..selamat bingung dan berputar-putar dengan pikiran sendiri..ha..)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku pribadi tidak melihat ada sisi yang buruk dari tradisi berbusana warga lokal di sini. Bagiku, tradisi ini bagian dari kekayaan yang dimiliki warga arab terutama UAE sebagai bagian dari ciri khasnya yang ingin coba dipertahankan. Oleh karena itu, dengan tingkat akses dati pertukaran budaya yang tinggi dewasa ini, maka sangat mungkin bila otoritas di sini sangat menganjurkan warga aslinya untuk tetap menggunakan abaya dan kandoora sebagai bagian dari warisan budaya mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan di tanah air dan di bagian wilayah negara-negara, mereka yang berbusana seperti ini barangkali akan sangat sulit memperoleh akses bekerja dan kebutuhan dasar lainnya. Jangankan pada mereka yang berpakaian serba hitam ini, pada mereka yang hanya berpakaian panjang biasa dan menutupi kepalanya saja, sudah sulit. Entah kecurigaan macam apa yang merasuki orang-orang yang mempersulit akses mereka untuk memperoleh hak-hak mereka sebagai manusia bebas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kalau O’neill melihat ada yang keliru dari pakaian jeans di dalam yang berbungkus abaya, bagiku tidak ada masalah. Dalam dunia dewasa ini yang semakin tercampur antara budaya satu dengan lainnya, terutama di UAE dan Dubai sebagai negara muslim arab yang cukup terbuka bagi masuknya budaya luar, tentu kemungkinan terdapat akulturasi, modifikasi, asimilasi, yang salah satu contoh kecilnya tercermin dari corak berbusana, hal ini sah-sah saja. Lumrah-lumrah saja. Apa yang salah dengan itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Aku juga punya pendapat sendiri tentang masyarakat lokal yang datang ke restoranku. Aku bisa katakana hampir semuanya ramah dan tidak neko-neko. Aku sangat respek terhadap mereka dalam cara mereka memperlakukan kami. Meskipun mereka komplain, tetapi sopan dan tetap membayar. Berbeda dengan warga pendatang, termasuk warga eropa, saya hanya bisa mengatakan sebagian saja dari mereka yang tidak neko-neko. Sebagiannya lagi, minimal menunjukkan wajah yang sangat tidak menyenangkan. Bila dulu secara apriori aku menganggap orang-orang arab secara umum kasar, tidak manusiawi, dan bodoh. Anggapan itu ingin aku ubah. Aku tetap bisa merasakan kehangatan mereka, sikap apa adanya dan kesederhanaan. Lain warga local UAE atau Dubai khususnya, lain lagi dengan warga arab Libanon, Syiria, Jordan, dan Mesir. Pada sebagain mereka, ada kecenderungan arogansi. Demikian juga dengan tamu-tamu lainnya. Mereka sebagian ada yang selalu ingin tampak berpendidikan, lebih terpelajar, “wah”, bersikap berjarak, dan “jaim”.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang membuat ini berbeda. Barangkali arab yang dianggap terbelakang namun di sisi lain juga merupakan Negara yang kaya, merupakan tuan rumah. Sementara mereka yang “menumpang hidup” sebagian juga berasal dari negara-negara maju, seperti Australia, German, India, dan terutama UK. Aku juga sering mendengar hampir semua warga Eropa, Amerika, dan UK, yang berbincang denganku, mereka tidak suka dengan warga lokal dengan alasan yang beragam terutama masalah professionalisme mereka di wilayah kerja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hal, aku rasa memang inilah kekurangan yang harus di benahi dalam tradisi bangsa arab dalam berhubungan dengan bangsa lain di dunia kerja. Suasana kerja yang mendahulukan kelompoknya, gaya patron dan klien yang masih kuat, style kerja yang lamban, dan malas. Kalau melihat dari perilaku orang Arab sini umumnya dengan warga Eropa atau barat lainnya, seperti perbandingan warga desa yang ramah, jujur, apa adanya dengan warga kota yang dingin, cerdik dan intelek. Begitulah kalau disederhanakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Muhammad Rasyid sebagai rulernya Dubai dan Vice Presidennya UAE ini, juga seorang yang visioner, berkarakter, punya pengaruh dan sangat kaya. Selama aku tinggal di Dubai ini, aku banyak membaca tentang kebijakan-kebijakannya untuk memajukan Dubai khususnya dan UAE untuk tampil sebagai Negara Arab timur tengah yang bermartabat dan tidak dipandang sebelah mata oleh Negara-negara yang dianggap unggulan oleh dunia. Seperti memberikan kesempatan seluas mungkin untuk warganya untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin dengan menyediakan anggaran cukup untuk sektor ini dan selalu menyediakan program beasiswa bagi warganya untuk sekolah ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih Bersambung ...&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-7781706399077470278?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/7781706399077470278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-dan-kehidupanku-di-dalamnya-bag.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/7781706399077470278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/7781706399077470278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-dan-kehidupanku-di-dalamnya-bag.html' title='Dubai dan Kehidupanku di dalamnya (bag II)'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RzCl8FAocII/AAAAAAAAAFE/2k_er7ZpPrY/s72-c/IMG_0669.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-8157241708196602582</id><published>2009-05-19T23:08:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:09:30.122-07:00</updated><title type='text'>Asmara di Dubai</title><content type='html'>Jumat, 21 September 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLzZsvCv1LI/AAAAAAAAAPI/EbdMhGLLb9s/s1600-h/getmarriedholdsteady_max80w.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLzZsvCv1LI/AAAAAAAAAPI/EbdMhGLLb9s/s200/getmarriedholdsteady_max80w.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241303428917875890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini, Shara seorang nasrani berkewarganegaraan Pakistan datang ke flatku. Ini adalah flat ke-empat yang kutempati sejak dua bulan setengah yang lalu. Shara adalah temannya Shazia, teman sekamarku yang juga sama berasal dari Pakistan. Namun Shazia beragama muslim. Setelah beberapa bulan menghilang, Shara datang pada saat aku sedang memasak untuk berbuka puasa. Ia tampak sumringah karena kebetulan perutnya pun keroncongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya kali ini untuk mencari biblenya yang tertinggal dan beberapa barang lainnya yang belum sempat diambil saat ia menginap selama beberapa hari dulu. Sambil menunggu Shazia yang masih di kantor, dan juga menunggu azan berkumandang, Shara menanyakan satu pertanyaan tentang apakah berdosa bila membunuh. dan aku melihat matanya berkaca-kaca. sebelum terlihat jatuh air matanya, Ia beranjak sebentar untuk mengecek mobilenya yang sedang dicharge di dapur. Dan Ia pun kembali duduk di meja makan dengan ekspresi yang dibuat senormal mungkin. meskipun aku merasakan di dalam hatinya, penuh dengan gemuruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sebulan yang lalu, Rythm, teman kamarku yang lain yang berasal dari India, yang juga teman kerjanya Shazia, sempat sedikit bercerita tentang kehidupan yang dialami Shara. Saat ini Shara sedang mengandung seorang bayi buah percintaannya dengan sang kekasih di Dubai. Malangnya, kekasihnya tidak mau menikahinya. Shara pun kebingungan harus diapakan bayi itu. Marah, sedih, kecewa, menyesal, dan segala bentuk perasaan perih lainnya, tentu berkecamuk saat itu. Dalam kebingungannya, dimana saat itu Ia pun sedang tidak bekerja, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Pakistan. Namun entah kenapa, kini Ia kembali lagi ke Dubai, dan menanyakan padaku tentang dosa tidaknya membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja makan di hadapanku, Ia seakan tidak lagi bergairah dengan masakanku yang sebelumnya sempat tertarik. Ia hanya menatap makanan sekilas dan mengambil "Gulf News", newspaper yangkubeli sore ini. Ia membuka halaman demi halaman pada rubrik lowongan pekerjaan. Ia pun menanyakan apakah ada lowongan di tempatku bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shara yang kutemui saat ini sedikit berbeda dengan dua bulan yang lalu. Aku sempat menyelidiki wajahnya yang sebetulnya manis juga. Kuturunkan pandanganku saat Ia tak memperhatikanku pada bagian perutnya yang terlihat membesar yang ditutupinya dengan jaket berbahan jeans biru itu. Perutnya memang membesar. Berbeda dengan dua bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxo2JefhIeI/AAAAAAAAACE/dlP7E5GQ8Kc/s1600-h/IMG_0549.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123467062519341538" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxo2JefhIeI/AAAAAAAAACE/dlP7E5GQ8Kc/s200/IMG_0549.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku tidak tahu persis seperti apa kehidupan yang menimpanya. Aku hanya mendapatkan gambaran singkat dari Ryhtm, dan menangkap wajah gundah pada setiap kali Ia datang. Ia pun tidak bercerita dengan gamblang tentang masalahnya. Akupun sungkan untuk mengoreknya. Aku hanya mendengarkan saat ia hanya bercerita singkat tentang kesalahan yang Ia buat dimana Ia telah mempercayai penuh orang yang menghianatinya. Saat itu, aku hanya bisa mengatakan bahwa setiap orang pernah keliru. Besar kecilnya, kekeliruan tetaplah kekeliruan. tapi tidak seorangpun bisa merubah masa yang sudah lewat. Ketika tak seorang pun memaafkan dan menerima kita, kitalah yang harus tampil untuk memaafkan dan menerima diri kita sendiri. Aku pun bilang, untuk fokus dengan apa yang ingin dia lakukan untuk kehidupannya ke depan. Pasti akan ada jalan. Sebenarnya aku sungkan untuk berkata-kata seperti ini. Sebab akupun tidak terlalu dekat dengannya. tapi pada saat itu, Ia meminta saran padaku meskipun tanpa menceritakan masalahnya. Sebagai sesama perempuan, aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Aku hanya ingin membesarkan hatinya. itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Shara kali ini mengingatkanku pada segudang cerita asmara teman-teman kamarku ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruwena, atau biasa dipanggil Weng, seorang perempuan mungil berasal dari Filipina. Dengan wajahnya yang masih sangat tampak belia, hampir tidak akan ada orang yang menyangka kalau usianya saat ini sudah mencapai 29 tahun. Keinginannya yang terbesar saat ini adalah ingin menikah, mempunyai anak, dan berkeluarga. Malang, Kekasih warga lokal yang dipacarinya selama 3 tahun itu, pergi meninggalkannya bersama perempuan lain. Hal itu diketahuinya saat Ia kembali dari liburan di tanah airnya. Sebagaimana yang diceritakannya padaku, Saat itu hatinya merasa bedebar. Ada rasa rindu yang mendalam untuk menemui kekasih yang tidak ditemuinya sejak lebih dari dua bulan. Apa boleh buat, yang diterimanya adalah berita tidak menyenangkan tentang pernikahan kekasihnya dengan perempuan yang juga berasal dari Filipina. Setiap hari selama berminggu-minggu, yangIa lakukan hanya menangis di tempat tidur. Entah anugerah atau malapetaka, segumpal darah calon manusia yang masih ranum yang ada di rahimnnya, keluar. Weng mengandung seorang janin hasil hubungannya dengan sang kekasih, namun Ia keguguran. Selain menangis, setiap hari yang dilakukannya hanya berdoa. Di sekeliling tempat tidurnya, berjajar gambar-gambar yang dipanggil Yesus dan Maria. Ada juga semacam sapu tangan yang berisi tulisan doa dari alkitab yang juga di tempelnya di dinding dekat tempat tidurnya. Ia bilang padaku, kalau kita yakin, Lord akan mengabulkan doa kita. Aku hanya diam dan mengangguk. Aku bisa merasakan perih yang ada dihatinya. Badannya yang kurus itu semakin nyata. Tapi itu semua sudah berlalu.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxoxO-fhIcI/AAAAAAAAAB4/HLtkiovyquA/s1600-h/IMG_0556.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123461659450483138" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxoxO-fhIcI/AAAAAAAAAB4/HLtkiovyquA/s200/IMG_0556.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Weng sudah bisa kembali menata hidupnya ke depan. Pekerjaan yang baru yang kini ditekuninya sebagai sales di sebuah perusahaan retail ternama itu pun, memberinya gaji yang lebih dari cukup. Bulan lau, Ia memperoleh komisi hampir sebesar gajinya. Weng kini mempunyai seorang kekasih yang sebangsa yang tidak dicintainya. Ia selalu bilang, aku memang bodoh, sebab hingga saat ini cintaku hanya untuk dia (mantannya red.) Ia hanya bilang, Ia kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan matang berusia kepala empat bernama Randa. Seorang Ibu dan Egyptian yang telah memiliki dua orang anak remaja. Kedua anaknya tinggal di negaranya Mesir bersama sang suami. Pada minggu-minggu awal kedatangannya di flat kami, setiap ada waktu luang Ia selalu mengunci diri di kamar mandi. Salah seorang teman pernah mendengar isakan dari dalam kamar mandi. Terkadang aku perhatikan pandangannya kosong. Randa ini adalah seorang perawat di sebuah health care di kawasan elit Jumeirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dengan Shara, aku juga tidak terlalu dekat dengan Randa. Saat-saat kita sedang berdua, aku kadang bertanya apa yang sedang dipikirkannya. sebab kadang Ia hanya diam menatap sesuatu dengan cukup lama. &lt;em&gt;''nothing...&lt;/em&gt;'' jawabnya singkat sambil sedikit senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu berikutnya, aku melihat beberapa kali Randa mabuk. Sesekali Ia tertawa dan bicara terpatah-patah. Ia sering tidak sadarkan diri dan sering tidur di kasurku. Kalau sudah begitu, sulit sekali untuk membangunkannya. Terpaksa aku mengungsi menginap di tempat teman yang lain yang berbeda flat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Randa sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupannya di Dubai. Ia sudah mulai tampak ceria berbeda dari biasanya. Kami sering memanggilnya mami. Karena usianya yang terpaut jauh dengan kami. Akhir-akhir ini Randa sering pergi bersama laki-laki yang dulu diakui sebagai brothernya. Temanku bilang itu boyfriendnya. Aku sendiri tidak tahu persis karena jarang bercakap-cakap tentang masalah pribadi dengannya. Hanya suatu hari Ia pernah bilang padaku, &lt;em&gt;we can't trust all guys, pitri... all same.. all pitri.. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Rythm, perempuan 27 tahun yang 9 tahun pacaran bersama kekasih Indianya yang berkasta brahmana itu dijodohkan dengan perempuan pilihan orang tuanya. Suatu siang Ia datang dengan terisak. Sambil tersedu, Ia bilang, &lt;em&gt;He gonna get married&lt;/em&gt; &lt;em&gt;this month...&lt;/em&gt;dia tunjukkan sebuah tato bertuliskan Rythm loves Rakesh. Tato itu permanen. Rupanya sebuah perban kecil yang menutupi sebagian lengannya yang tak pernah dilepaskannya itu adalah tato cinta yang sulit hilang. &lt;em&gt;He's my life..I never have any realtions only with him since 9 years ago...&lt;/em&gt;melanjutkan isaknya...&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Tere. Perempuan asal Yogjakarta ini pernah menetap di Alabama, Amerika Serikat selama lebih dari setahun pada usianya yang ke 22 tujuh tahun yang lalu. Perkenalannya dengan Rick lelaki kelahiran California lewat Internet membawanya ke sana. Setelah lebih dari setahun, hubungan asmarapun bubar dan Ia kembali ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Tere bekerja bersamaku di Le Pain Quotidien sebagai waitress. Ia adalah satu-satunya setelah aku yang tidak mempunyai latar belakang hospitality sama sekali. Ia sering mengeluh pada customer tentang pekerjaan yang tidak disenanginya dan menanyakan pada mereka kemungkinan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di perusahaan mereka. Beberapa customer dekat dengannya. Meskipun tampaknya hanya sebentar-sebentar. Aku juga tidak tahu kenapa. Aku jarang menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLzanmOovqI/AAAAAAAAAPQ/CM7dmWzIGbM/s1600-h/rose.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLzanmOovqI/AAAAAAAAAPQ/CM7dmWzIGbM/s200/rose.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241304440164105890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama datangke Dubai, di minggu-minggu awal, Ia bertemu dengan seorang berkebangsaan Libanon di sebuah stadion olahraga saat kami berdua bersama teman-teman yang lain menonton pertandingan sepak bola di kawasan Safa. Hubungan merekapun tampaknya berlanjut. Dan tampaknya mereka semakin dekat. Lelaki yang dipacarinya hanya sebulan itu, pada saat itu sedang tidak bekerja. Ia dipecat dari tempat kerjanya karena dituduh menggelapkan dokumen. Sulit mencari kembali pekerjaan apalagi dengan reputasi yang sudah jatuh, akhirnya Ia kembali ke Libanon. Sejumlah janji yang diucapkannya hanya tinggal janji. Sebab selang tiga bulan kemudian tidak pernah lagi ada kabar setelah kepergiannya. Namun kali ini Tere temanku ini tak lagi sedih. Ia betemu dengan seorang costumer lokal yang memberinya nomor telepon di awal jumpa. Hubunganpun berlanjut. Keduanya semakin dekat dan merekapun pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Ia sering mengeluh karena setelah sebulan tak pernah lagi ada kabar dari sang pacar. Yang kutahu, kini Ia sendiri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana denganku? biarlah aku simpan cerita asmaraku untukku sendiri. Ada deeh... Hiks..: )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-8157241708196602582?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/8157241708196602582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/asmara-di-dubai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/8157241708196602582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/8157241708196602582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/asmara-di-dubai.html' title='Asmara di Dubai'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SLzZsvCv1LI/AAAAAAAAAPI/EbdMhGLLb9s/s72-c/getmarriedholdsteady_max80w.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-892393639484941672</id><published>2009-05-19T23:01:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T23:02:15.773-07:00</updated><title type='text'>Hidup, Manusia dan Segala Tingkah Polahnya ( bag I )</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123664978907308562" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrqJufhIhI/AAAAAAAAACc/l5BB_Hm6aBY/s320/IMG_0333.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Mirdiff, 2 September 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sebuah Renungan ...&lt;br /&gt;Usia Bumi ini barangkali sudah sedemikian tua. Seorang Graham Hancock yang membuktikan melalui researchnya, bahwa pernah ada sebuah peradaban maju di muka bumi ini sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi, yang kemudian lenyap tak berbekas karena proses alam yang disebut earth-crust displacement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan Al Gore, Ia memaparkan bahwa kita wajib ekstra hati-hati akan niscayanya sebagian ekosistem dan mahluk hidup hanyut perlahan-lahan akibat global warming. Artinya, sangat mungkin bumi masih melakukan evolusi. Dan peradaban yang sudah tampak mapan ini juga akan lenyap lagi, berganti dengan peradaban baru. Dan begitu seterusnya. Endingnya bagaimana? siapa yang bisa memastikan. setiap teori-teori yang muncul, selalu ada teori-teori baru yang membantahnya. Dan barangkali memang tidak akan ada ending. Bumi dan proses perubahannya, endless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara manusia menjalani hidup. Ada banyak sudut dalam manusia memandang hidup. Cara dan sudut pandang tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh banyak hal ; keluarga, masyarakat, tradisi, doktrin agama, dan lain-lain. Semua pengaruh ini telah memasuki alam bawah sadar manusia selama kurun waktu tertentu. Selain itu, ada juga pengaruh dari pengalaman yang sangat pribadi. Seperti pengalaman spiritual yang hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh pelakunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, jam s&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrsXufhIjI/AAAAAAAAACs/MjMv1Ak0Uik/s1600-h/IMG_0358.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123667418448732722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrsXufhIjI/AAAAAAAAACs/MjMv1Ak0Uik/s200/IMG_0358.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;etengah enam sore, Mirdiff dan restoranku tetap berjalan seperti biasa. Tepat di jam ini, aku berdiri di depan counter sebagai kasir. Temanku yang lain sedang mengelap sendok, pisau, dan garfu di bagian sudut yang lain. Di sebelahnya, temanku yang lain hanya berdiri menghadap meja-meja yang sebagian besarnya kosong. Karena summer, tidak banyak pengunjung yang datang. Mereka terlihat bercakap-cakap. Entah apa yang sedang mereka percakapkan. Mungkin tentang masa depan masing-masing, mungkin tentang model handphone terbaru, mungkin juga tentang keluarga masing-masing yang mereka tinggalkan di negaranya masing-masing dan ada perasaan rindu ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak jauh dari jangkauan mataku, dua orang temanku yang sedang break, mungkin sedang menyantap steak sandwich sambil asyik membaca koran hari ini "emirate today". Dan jauh di Indonesia sana, di kota kecil sukabumi, tempat lahirku, pada jam yang sama, tentunya waktu bagian sukabumi, ibuku mungkin sedang menonton sinetron kesayangannya, dan bapakku mungkin sedang menunggui warung. Sementara adikku yang perempuan, mungkin sedang mengeloni anaknya tidur. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrvpufhIlI/AAAAAAAAAC8/TpY4AA6WFn0/s1600-h/IMG_0487.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123671026221261394" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrvpufhIlI/AAAAAAAAAC8/TpY4AA6WFn0/s200/IMG_0487.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Masih pada jam yang sama. Mutamba, seorang imigran ilegal di Afrika Selatan, mungkin masih mengantri berdesakan, berjubal meminta swaka pada pemerintah setempat karena hidup yang terlunta di Zimbabwe sana. Sebuah negara miskin di Afrika yang diperkirakan oleh para ahli sebagai negara yang paling terpuruk di dunia dengan tingkat inflasi mencapai 7000 persen.&lt;br /&gt;Apa yang membuat Mutamba tahan mengantri berhari-hari adalah karena sebuah harapan. Harapan untuk bisa tinggal di negara setempat. Harapan untuk dapat memperbaiki hidup yang hampir mustahil dicapai di negeri asalnya. Harapannya barangkali hanya tinggal harapan. Ia tahu itu. Tapi ia tidak punya pilihan. Ia hanya punya harapan. Meskipun Ia tahu, harapannya kecil untuk bisa terwujud. Sebab, pemerintah Afrika Selatan, tetap akan mendeportasi para imigran ini, karena status kepengungsian mereka adalah karena faktor ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap harinya, ratusan Zimbabwean tiba di Afrika Selatan untuk mengadu nasib. Mereka sebagian besar berstatus ilegal. Pemerintah setempat tentu saja tidak punya kapasitas untuk menampung mereka. Sebagian besar para imigran yang datang ini berusia produktif antara 20-an. Mereka yang beruntung bisa tinggal pun, hanya bekerja pada pekerjaan-pekerjaan kasar, atau berjualan di perempatan atau pertigaan lampu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih pada jam yang sama, Melody, perempuan ramah berkebangsaan Filipina langganan Blueberry Cheese Cake di restoranku itu, barangkali sedang shopping di Mall o&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrrFufhIiI/AAAAAAAAACk/8BfN7tlDxNE/s1600-h/IMG_0383.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123666009699459618" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrrFufhIiI/AAAAAAAAACk/8BfN7tlDxNE/s200/IMG_0383.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;f Emirate. Salah satu diantara mall yang diperkirakan termegah di dunia. Mungkin saat ini ketiga anaknya yang lucu blesteran Filipina Inggris turut serta juga bersama suaminya. Setiap saat mereka datang, selalu tampak kebahagiaan dan keharmonisan diantara sesamanya. Ia memanggil sang suami "my love" yang kadang masih sungkan bila ada kami di sekitar mereka. begitu pun sang suami memangggilnya dengan sebutan yang sama saat Ia hendak menyuapinya sesendok Salmon Quiche yang juga makanan langganan yang biasa mereka pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dengan Roy, seorang lelaki baya 60-an berkebangsaan Irlandia yang hidup bersama keponakannya Sean. Hari ini mereka tidak datang ke restoranku. Mungkin saat ini seperti biasa Roy sedang berjalan-jalan tanpa tujuan sambil merenungi nasibnya. Keluarganya di Thailand, tidak sudi menemaninya tinggal di Dubai. Mereka lebih memilih menetap di tanah kelahiran sang isteri. Sementara Roy tidak punya pilihan. Diusianya yang tidak lagi produktif, hanya dubai yang membuatnya bisa memperbaiki taraf hidupnya secara materil. Tapi Roy kesepian. berkali-kali Ia mengutuki kehidupannya dan orang-orang di Dubai secara umum. Cara Ia memandang sekeliling sangat sinis. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Sean. Setiap saat ada kesempatan bercakap-cakap, Sean mengatakan hal yang senada. Senyum dan tawanya satir. Sebagaimana di ketahui, selama beratus-ratus tahun, Irlandia tidak pernah selesai berkonflik. Saat Sean masih belia, Setiap hari Ia menyaksikan korban-korban mati di depan matanya. Beberapa keluarganya ikut raib diantaranya. Betahun-tahun, Roy dan Sean hidup dan tinggal dari satu negara ke negara lain. Keahlian mereka di bidang IT lah yang membuat mereka cukup punya akses mendapat pekerjaan yang cukup baik pada setiap negara yang mereka kunjungi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxrw2ufhImI/AAAAAAAAADE/UhKA-2EZ7_I/s1600-h/IMG_0460.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123672349071188578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxrw2ufhImI/AAAAAAAAADE/UhKA-2EZ7_I/s200/IMG_0460.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Roy, Sean juga sempat menikah dan memilki seorang anak perempuan dari seorang berkebangsaan Thailand. Kadang aku melihat, Sean adalah prototype pamannya, Roy. Saat ini keduanya mempunyai pacar. Tapi malang, kedua pacarnya kembali ke negara asalnya, Filipina. Mungkin mereka akan kembali ke Dubai, mungkin juga tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan Melody, Roy, dan Sean, lain lagi dengan Hamida dan kekasihnya. Hamida adalah langganan soup di restoranku. Perempuan seksi ini entah berasal dari negara mana. Dengan aksen Britishnya yang dibuat-buat, sangat kontras dengan wajah Asianya. Aku tidak pernah mempunyai kesempatan berbincang dengannya. hanya sesekali dengan kekasihnya. Itupun tampak sekali wajah tidak senang yang memancar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah apa yang dilakukannya pada jam-jam ini. Barangkali perempuan yang bekerja sebagai managing director di sebuah perusahaan design grafis ini sedang bercinta dengan kekasihnya, yang belakangan setiap saat mereka berkunjung ke restoranku sudah mulai terang-terangan menunjukkan kemesraannya. Meskipun aku melihat kekasihnya masih bersikap biasa saja.&lt;br /&gt;Berbeda saat pertama kali aku mengenal Hamida; Anggun, tidak banyak bicara, meskipun agak &lt;em&gt;jaim.&lt;/em&gt; Lain halnya sekarang, agak cerewet dan angkuh. Mungkin pada saat-saat kemunculan pertamanya di restoranku, mereka berdua masih saling menjajagi. Sang kekasih sedang pendekatan, dan Hamida sedang malu-malu kucing. he.. Aku juga baru mengetahui nama dan pekerjaannya ketika membaca sebuah koran yang memampang profile besar tentang diri dan profesinya. Awalnya aku respek, tapi ketika terjadi perubahan sikap dari hari ke hari yang cenderung memandang remeh profesi kami, serta merta respekku menjadi hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, temank&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrunufhIkI/AAAAAAAAAC0/8TU9uFVR47w/s1600-h/evi,bugi,zola.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123669892349895234" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrunufhIkI/AAAAAAAAAC0/8TU9uFVR47w/s200/evi,bugi,zola.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;u, orang tuaku, sodara perempuanku, Mutamba, Melody, Roy, Sean, Hamida dan kekasihnya, serta manusia-manusia lainnya, adalah sama. Manusia ciptaan Tuhan yang harusnya punya kesempatan menikmati hidup sebagaimana layaknya. Tapi tidak demikian kenyataannya. Ada banyak orang-orang yang beruntung seperti Melody dan Hamida. Ada banyak orang yang kesepian seperti Roy dan Sean. Ada banyak orang yang melihat dunia dan kehidupannya hanyalah rutinitas yang itu-itu saja, seperti orang tuaku, adikku, dan mungkin juga teman-temanku. Tapi ada jauh lebih banyak orang yang tidak mempunyai pilihan sama sekali dalam hidupnya seperti Mutamba. Ada banyak Mutamba-Mutamba lain yang bertebaran di muka bumi ini. Apa yang keliru? Apa mungkin dunia dan kehidupannya memang sudah seharusnya begini. Kalau ada yang kaya, sebagai relasi kuasanya sudah pasti harus ada yang miskin. Kalau ada orang yang senang harus ada orang yang sedih. Kalau ada orang yang berkuasa harus ada orang yang dikuasai. Kalau ada yang menjajah harus ada orang yang terinjak. Karena itulah sunnatullah. itulah oposisi biner. Apa iya begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Friedman bilang bahwa dunia ini datar karena batas ruang yang sudah samar melalui penemuan demi penemuan canggih dari teknologi yang mengglobal, bagiku, dalam beberapa hal, dunia ini tetap bundar. Sebab di banyak bagian wilayah, manusia-manusia tertentu tidak pernah bisa menikmati hasil yang nyata dari kecanggihan teknologi ini bagi keberlangsungan hidup mereka yang lebih baik, Dan barangkali malah sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Hamida yang angkuh itu sejenak merenung tentang sukses duniawi yang didapatnya? pernahkah Ia berpikir tentang para Mutamba-Mutamba? Apa yang selama ini Ia banggakan sebagai kesuksesan materil, bukankah itu fana? Pernahkah Hamida memikirkan bahwa barangkali perdaban ini kelak akan punah, mengulang sejarah yang sama karena tibanya efek terbesar dari global warming. Pernahkah Ia berpikir bahwa Ia tidak mungkin bisa menghindari usia yang beranjak tua? Pernahkah Ia belajar dari orang-oarng seperti Roy yang hidupnya kesepian di hari tua? Ataukah baginya hidup hanya bagaimana bisa tampil seseksi mungkin, bisa berbicara bahasa Inggris sefasih mungkin, bisa mencapai karir sesukses dan hidup sepopuler mungkin dimana semua itu bisa ia banggakan dengan leluasa dengan memandang rendah orang-orang yang tidak seberuntung dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 50 tahunan yang lalu, seorang perempuan muda dipanggil theresa r&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrykOfhInI/AAAAAAAAADM/GhOd8g6EGsQ/s1600-h/IMG_0485.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123674230266864242" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrykOfhInI/AAAAAAAAADM/GhOd8g6EGsQ/s200/IMG_0485.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ela melepaskan kesenangan pribadi seumur hidupnya. Ia rela melakukan perjalanan jauh untuk menemani orang-orang berpenyakit yang miskin di Calcutta India. Pada akhirnya dedikasinya itu dihargai melalui Nobel Peace Prizenya, adalah persoalan lain. Tapi niat tulusnya untuk menemani orang-orang sekarat yang tidak memiliki harapan hidup apalagi memperbaiki keadaan ekonominya ini, adalah sesuatu yang patut menjadi renungan untuk ditauladani. Bagiku, kapasitas dari kita yang terbatas untuk dapat berbuat yang serupa dengannya tentu bukan menjadi masalah. Namun, paling kurang, bagaimana cara kita memandang hidup, manusia yang beragam, bagaimana cara kita menghargai dan memperlakukan hidup, alam dan manusianya, itulah yang patut jadi perhatian masing-masing untuk direnungkan. Sebuah senyuman tulus dari seorang Hamida, tanpa membeda-bedakan siapa dan apa pekerjaan orang yang ditemuinya, bagiku itu saja sudah merupakan pencapaian awal yang baik. apalagi lebih dari itu.&lt;br /&gt;bersambung .... : )&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-892393639484941672?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/892393639484941672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/hidup-manusia-dan-segala-tingkah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/892393639484941672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/892393639484941672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/hidup-manusia-dan-segala-tingkah.html' title='Hidup, Manusia dan Segala Tingkah Polahnya ( bag I )'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxrqJufhIhI/AAAAAAAAACc/l5BB_Hm6aBY/s72-c/IMG_0333.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-5128233705195737784</id><published>2009-05-19T22:52:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T22:54:26.374-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Perjalanan hidup Menemukan "Cinta"</title><content type='html'>9 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr0HOfhIoI/AAAAAAAAADU/dbVmYQXeSGw/s1600-h/Image036.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123675931073913474" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr0HOfhIoI/AAAAAAAAADU/dbVmYQXeSGw/s320/Image036.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apa itu Cinta, aku pun tidak tahu pasti. Erich Fromm bilang, mencinta adalah &lt;em&gt;menjadi &lt;/em&gt;bukan &lt;em&gt;memiliki&lt;/em&gt;. Tapi aku, bukan hanya tidak &lt;em&gt;memiliki&lt;/em&gt;, tapi juga tidak &lt;em&gt;menjadi&lt;/em&gt;. Hidup yang ku jalani saat ini pun tanpa itu. Kalaupun ini kulakukan, bukan cinta yang melandasinya, tapi kata hati. Itulah satu-satunya yang selalu jadi petunjukku.&lt;br /&gt;Terkadang aku membayangkan hidup bersama teman-teman yang turut mendewasakanku di Jakarta sana. Tapi aku pun tidak pernah merasa berada dalam naungan cinta yang kumau. Merasa terasing dan tetap sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kugambarkan ini bukan dalam kerangka aku merasa paling menderita di dunia ini. Tentu saja bukan. Bunda Theresa bilang, tebarkanlah cinta, maka kamu akan dicintai. Gandhi pun mengajarkan hal yang serupa. Cintailah meskipun berbeda.&lt;br /&gt;Saat ini dan seperti sebelumnya, tidak ada cinta itu dalam hatiku. Aku merasa dingin. Tak punya hasrat untuk mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya yang menjadi alasanku untuk berkunjung ke negara ini karena aku jenuh dengan keriuhan di kotaku. Di negaraku. Aku bosan dengan semua itu. Dan tawaran perjalanan inilah yang menawarkan alternatif padaku. Aku pun mengangguk. Tentu saja anggukan ini tak begitu saja dengan mudah dilakukan. Sama sekali tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di sini, aku mencoba membuat jarak dengan gaya hidup yang bersifat konsumtif dan hedonis, dimana rata-rata orang bergaya hidup serupa. Aku membuat ruang yang sangat besar untuk mempelajari diriku sendiri dimana itu tidak bisa leluasa kulakukan di Jakarta sana. Aku terlalu disibukkan dengan hal-hal yang menyiksa. Aku tidak punya ruang untuk diriku sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121087182485922082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxHBqOfhISI/AAAAAAAAAAk/S9AD_2CX3PQ/s320/IMG_0198.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Dubai memang sebuah negara muslim yang cukup menghormati kebebasan individu. Di sini aman. Tapi Dubai adalah Dubai. Semua orang yang datang dan hidup di dalamnya sangat syarat dengan beragam kepentingan dan tujuan. kasarnya, di sini, orang tidak perduli dengan orang lain. Setiap orang umumnya hanya saling memanfaatkan satu sama lain untuk kesenangan-kesenangan yang semu. Di sini, tidak bisa dengan mudah mempercayai orang. Betapapun mereka adalah orang yang kita kenal sehari-hari. Karena yang tampak di permukaan, seringkali tidak seperti apa yang ada di dalamnya. Di Dubai, tidak ada "cinta". Kehidupan yang berjalan di sini amat kering dan sangat materialis. Tapi paling tidak, aku punya ruang untuk diriku sendiri. Karena pada dasarnya betapapun pilihan-pilihan yang ada sangat beresiko, tapi masih ada pilihan yang membuat kita aman. Semua hanya bersifat pilihan saja di sini. Maka, jangan sekali-kali mencoba memilih yang penuh dengan resiko yang menjerumuskan. Seperti aku. Di sini aku tetap seorang pitri. Perempuan yang lahir di Sukabumi sana yang sangat biasa saja. Ia akan tetap menjadi pitri yang semakin matang, dan tetap sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta sana, dulu aku hanya memiliki sedikit pilihan. Dan pilihan-pilihan itu pun sangat sulit. Kedatanganku ke Dubai juga karena aku ingin menambahkan pilihan dalam daftar jalan hidupku. Hingga pilihan demi pilhan itu akan semakin membebaskanku. Sebab fitrah itulah yang berhak kuraih. Betapapun aku terseok menggapainya. Itu bagian dari resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta memang spirit. Tanpa itu, hidup yang berjalan terasa hambar. Tapi aku berusaha untuk mempunyai spirit sekalipun tidak ada cinta. Sebab tujuanku hanya menyelamatkan diriku dari belenggu. Entah cinta yang mana yang membawa spirit. Aku tidak pernah menemukannya. Bagiku, keduanya selalu terpisah. Cinta yang biasa ditawarkan, hanya membawa belenggu-belenggu baru. Dan bagiku, itu bukan cinta. Berbahagialah bagi mereka yang kini sudah menemukannya. Selamat dan rawatlah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R9gINhOpigI/AAAAAAAAALM/D_VTk67VeQk/s1600-h/IMG_1051.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/R9gINhOpigI/AAAAAAAAALM/D_VTk67VeQk/s200/IMG_1051.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176896800013519362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oh Cinta, bilamanakah engkau menghampiriku….?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-5128233705195737784?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/5128233705195737784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/sebuah-perjalanan-hidup-menemukan-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/5128233705195737784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/5128233705195737784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/sebuah-perjalanan-hidup-menemukan-cinta.html' title='Sebuah Perjalanan hidup Menemukan &quot;Cinta&quot;'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr0HOfhIoI/AAAAAAAAADU/dbVmYQXeSGw/s72-c/Image036.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-4538231642756243494</id><published>2009-05-19T22:44:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T22:54:56.087-07:00</updated><title type='text'>I Miss U, Girls ... !!!</title><content type='html'>25 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxo4LOfhIgI/AAAAAAAAACU/M0LPvi_1uAo/s1600-h/Ã¬n_pitri.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123469291607368194" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxo4LOfhIgI/AAAAAAAAACU/M0LPvi_1uAo/s200/%C3%ACn_pitri.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Aku Kangen sama teman-teman ku yang perempuan di Ciputat. Linda, Indri, Nunik, Biyah dan Tati. (Maaf kalau ada yang belum kesebut hee...). Linda dan Nunik sebentar lagi sekolah ke Australia. Mengambil gelar master. Sementara Indri dan Tati masih berkutat dengan skripsinya. Dan Biyah tetap aktif sebagai aktivis perempuan di Kapal yang &lt;em&gt;concern&lt;/em&gt; dengan pendidikan alternatifnya buat ibu-ibu pinggiran Jakarta dan para buruh migran di tanah air. Sementara aku, aku mengaku sebagai petualang. Sebagai kutu loncat. Aku terlahir dibawah naungan zodiak Libra yang terlalu banyak pertimbangan dan bershio kera yang senang loncat dari satu pohon ke pohon lain; dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu bidang ke bidang yang lain. dan tak lupa dari satu pria ke pria lain hee...(ga kali, ga salah) cape sih. Akulah pastinya yang akan menentukan kemana endingnya mau aku bawa. tapi, tidak bisa seperti itu juga sih. aku hanya mengikuti kata hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SI3-FfXFm3I/AAAAAAAAAOI/UyHi-Yo569k/s1600-h/IMG_2107.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SI3-FfXFm3I/AAAAAAAAAOI/UyHi-Yo569k/s200/IMG_2107.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228114112718150514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya aku adalah orang yang senang belajar. Minatku luas. Apapun ingin aku pelajari dan kuketahui. Tapi aku punya cara sendiri untuk belajar. Pada dasarnya aku senang dengan tantangan. Berkunjung ke tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, bergelut dengan bidang yang baru. Memang di usiaku yang mulai beranjak dewasa ini, aku merasa terlambat untuk bisa mengenali apa yang jadi kemauanku. Selama bertahun-tahun aku selalu melakukan hal-hal yang orang lain mau. Sejujurnya aku menolak. Namun keadaan rasanya seakan terus menggiringku untuk melakukan hal-hal serupa seperti yang sekelilingku lakukan. Hingga akhirnya aku belajar untuk berani berbeda. Meskipun barangkali hingga saat ini pun masih banyak yang belum memahami jalan pikiranku. Pada awalnya ini sangat mengganggu. Tapi aku belajar untuk mengelolanya. Dan ternyata aku menikmati jalan ini. Aku percaya, semua hal yang kupelajari akan saling berkaitan dengan apa yang kubutuhkan ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SI38eX1rEZI/AAAAAAAAAN4/S5-jYb2jCD0/s1600-h/IMG_2090.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SI38eX1rEZI/AAAAAAAAAN4/S5-jYb2jCD0/s200/IMG_2090.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228112341172425106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ah Linda, aku kangen curhat ma kamu hee...Nunik, aku iri dengan ketekunanmu, Neng In..budak goreng...sing ludeungan atuh..hee..Biyah yang tomboy, lebih matang kamu yah? Terakhir aku dengar Babe wafat yah? biarkan beliau tenang dengan kepergiannya. Babe pasti bangga punya anak kayak kamu dan calon menantu seorang penyair intektual sekaligus. hee.. and Tati....jangan sering-sering ngitung bintang di langit atuh hee...sukses buat kita semua. aku membayangkan suatu saat nanti, kita kumpul bareng, rujakan, ngerumpi, tidur bareng, ketawa sepuas-puasnya, mau..? lupakan dulu idealisme dan rutinitas kita sementara, dan kita jadi seperti anak kecil yang jujur, polos, dan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hu..hu..hu....kangeenn.... : (&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-4538231642756243494?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/4538231642756243494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/i-miss-u-girls.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4538231642756243494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4538231642756243494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/i-miss-u-girls.html' title='I Miss U, Girls ... !!!'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxo4LOfhIgI/AAAAAAAAACU/M0LPvi_1uAo/s72-c/%C3%ACn_pitri.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-9012072153797825127</id><published>2009-05-19T22:40:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T22:40:51.662-07:00</updated><title type='text'>Tempat Kos Baru dan Orang-orangnya</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123682678467535506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr6P-fhIpI/AAAAAAAAADc/R7Zq0Oqj5qg/s320/IMG_0161.jpg" border="0" /&gt;Al Muraqabat Road, 12 Mei 2007, 13 : 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua bulan setengah aku lalui hari-hari di Dubai ini. Sudah 3 Flat yang aku tempati. Dan kini aku tinggal bersama dua orang Srilangka dan dua orang Indonesia. Ruangan sempit yang berukuran kurang lebih 4x4 meter ini, kami tempati berlima, dengan kamar mandi di luar, untuk kamar kami dan kamar sebelah. Serta ada satu ruangan dapur terpusat untuk seluruh kamar yang berjumlah 6 kamar yang berukuran kurang lebih sama. Di dalam satu flat yang berjumlah 6 kamar itu, semua penghuninya berkewarganegaraan filipina. Hanya kamar kami yang bukan. Entahlah, bagaimana asal muasalnya sehingga di seluruh sudut wilayah di Dubai ini hampir selalu kujumpai warga filipina. Sangat banyak. Terkadang aku seperti merasa berada di negara filipina saja. Selain itu, jumlah warga filipina yang begitu massif ini, membuat mereka pun cenderung mengeksklusifkan diri. Contohnya di setiap flat sewaan, selalu di dominasi oleh mereka. Mereka hanya mau menerima yang biasa mereka panggil terhadap sesama warganya "kabayan" dan kebanyakan cenderung enggan menerima warga negara lain. Meskipun untuk menerima warga negara yang memiliki wajah yang kurang lebih sama dengan mereka. Seperti aku yang dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada se&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr7JufhIqI/AAAAAAAAADk/a7Kx9UCFbBk/s1600-h/IMG_0577.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123683670604980898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr7JufhIqI/AAAAAAAAADk/a7Kx9UCFbBk/s200/IMG_0577.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;macam kepercayaan diri dimana secara apriori setiap kali mereka menjumpai orang yang berwajah sama dengan mereka, maka secara otomatis mereka langsung berbicara dengan bahasa tagalognya. Seakan semua orang yang memiliki garis wajah serupa sudah dapat dipastikan berasal dari negara yang sama. Hal itu juga terjadi padaku. Setiap kali aku berada di tempat umum, mereka langsung berbicara panjang dengan tagalongnya tanpa ada prolog terlebih dahulu. Akan tetapi herannya, ketika dikonfirmasi bahwa aku bukan kabayan atau filipino (orang filipina) , mereka hanya bilang sorry dan tidak jadi berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah negara multikultural memang tampaknya kecenderungan orang untuk mementingkan kelompoknya akan semakin kental. seperti contoh kecil tadi. orang filipina, hanya mau bersama orang filipina lagi. Orang Libanon, hanya akan mendahulukan orang Libanon lagi. Ditempatku bekerja, seluruh petingginya, rata-rata Libanese, yaitu orang yang berasal dari negar Libanon. Bila ada dua orang yang memiliki kopetensi sama, maka yang akan didahulukan adalah yang Libanese itu untuk dipromosikan. Inilah tantangan terbesar yang sulit untuk dihindari ketika aku juga mungkin ada kemungkinan mempunyai kesempatan berkompetisi untuk meraih posisi lebih baik di tempatku bekerja. Sementara, orang indonesia sangat jarang di sini. apalagi yang mempunyai pengaruh dan posisi di perusahaan-perusahaan. lebih jauh mengenai ini akan ku gambarkan secara khusus. Nah, di tempat kos yang baru ini, aku juga punya cerita tentang teman-temanku yang kurasa menarik juga untuk di simak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, namanya Dalangka. Bisa dibilang Ia pemilik kamar ini. berkebangsaan Srilangka. Rata-rata teman-teman sekamar kurang suka dengannya. sebab belakangan mereka tahu bahwa Ia membuat bisnis dengan menyewakan kembali kamar yang di sewanya. Ia menyekat sedikit lahan untuknya dengan tiga lembar gorden yang besar. Ia juga menyediakan ranjang dan tempat tidur untuk kami. Ia mengurus perabotan dan membayarkan listrik dan air dari uang sewa kami setiap bulannya sebesar @ Dhs 550. Ia sendiri tidak perlu membayar setiap bulannya. karena uang itu sudah dapat menutupi biaya sewa kamar yang hanya Dhs. 1600 saja diluar biaya listrik dan air. bisa dikatakan genap Dhs. 2000 dengan itu semua. tapi memang Ia akan terpaksa menombok kalau kamar itu kurang orang. Tapi Ia juga akan mempunyai laba kalau kamar itu full 4 orang. 5 orang plus dirinya. Ruangan kami berlima ini cukup sempit. Bayangkan bila masing-masing membawa barang-barang dan pakaian. hanya sekitar 4x4 m2 saja. hanya Ia sendiri yang punya lemari. sementara, sehari-hari pakaian kami simpan di koper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang temanku Tere dan Mary, _ yang nanti juga kan ku ceritakan_ ada&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr76ufhIrI/AAAAAAAAADs/u_jMKMr5uRw/s1600-h/IMG_0279.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123684512418570930" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr76ufhIrI/AAAAAAAAADs/u_jMKMr5uRw/s200/IMG_0279.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;lah yang paling banyak memilki barang dan pakaian. terkadang mereka bisa menaruhnya di tempat tidur siapa saja. Sumpek ! he.. tapi, it's ok lah. karena aku bisa pindah kapanpun aku mau. kalau ada yang lebih murah dan lebih nyaman, kenapa tidak? Dalangka ini umurnya sekitar 25 tahun. Ia mengaku sudah menikah. Tapi, ada satu orang temanku yang mengatakan bahwa laki-laki yang sering datang ke kamar kami itu hanya pacarnya. dan bukan suaminya sebagaimana yang sering diakuinya. tapi bagiku tidak masalah. Baik pacar maupun suami, toh urusan mereka. Konon, Dalangka ini hanya pembantu rumah tangga paruh waktu. Hal itu mungkin saja benar adanya, karena aku sering melihatnya pulang pada jam-jam sibuk, dan kemudian tidak lama akan pergi lagi. terkadang jadwalnya juga tidak tentu. kadang bisa seharian tidak pergi. kalaupun pergi, bisa sering pulang. Pernah sekali aku tanya mengenai jadwal kerjanya. Ia hanya bilang lagi break, dan akan pergi lagi. Atau kalau sedang seharian di kamar, dia bilang lagi off. aku sendiri belum sempat menanyakan pekerjaannya secara spesifik. Ia hanya pernah bilang, saat pertama kali kami berkenalan, kalau Ia bekerja di hotel. dan aku lupa di bagian apa dia pernah menyebutkan. konon lagi, Dalangka ini adalah pekerja imigran ilegal. Dia tidak memiliki dokumen yang lengkap dan sah. Sebagaimana beberapa teman lainnya yang mempunyai kasus yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, adalah tahun ketiga Ia tinggal dan hidup di Dubai. Entah sudah berapa banyak uang yang sudah berhasil dikumpulkannya. Baik sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu, maupun sebagai ibu kos ha..ha.. Dalangka ini cukup responsif kalau ada keluhan. kalau AC rusak, ia segera menghubungi pengelola gedung. dan untuk sementara, dia membelikan kipas angin yang cukup besar. meskipun buat aku pribadi, kipas angin itu malah membuat ruangan semakin sumpek dan juga membuat perut semakin kembung karena masuk angin. Sebelumnya tidak ada mesin cuci. Beberapa hari setelah aku masuk, dia membeli mesin cuci baru. Meskipun pada saat itu, dia sendiri bingung dimana harus menaruhnya. karena lorong-lorong yang menghubungkan kamar kami dengan kamar-kamar yang lain dan juga dengan kamar mandi sudah cukup padat terisi, baik oleh rak-rak sepatu, jemuran, cucian kotor, dan juga mesin-mesin cuci yang dimiliki kamar tetangga. Meskipun sudah ada mesin cuci sendiri, tetapi kami tidak pernah menggunakannya sama sekali. karena tidak cukup menghemat waktu dan cukup &lt;em&gt;ribet.&lt;/em&gt; hanya dia sendiri yang kadang menggunakannya. Sementara, pakaian kotor cukup kami cuci manual saja. dianggap lebih praktis. padahal biasanya justru dengan mesin cuci harusnya bisa lebih praktis ya ? hee...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Eva. Ia berasal dari Indonesia. Sama seperti aku, Tere dan Sara atau Ani (Yang terakhir ini adalah penghuni baru yang nanti juga akan kuceritakan). Ia berasal dari Jawa Tengah. Eva ini sangat antik buatku. Ia bisa berbahasa arab sehari-hari, Ia juga bisa berbahasa inggris sehari-hari dengan aksen jawanya yang &lt;em&gt;medok &lt;/em&gt;itu. Ia sangat mandiri. Ia juga anak yang manis, ramah, cerdas, imut, dan care pada kami. Ia anak yang jujur, ceria dan berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu, merangkap sebagai baby sitter paruh waktu pula di dua keluarga yang berbeda. Dari dua pekerjaan itu, Ia bisa memperoleh penghasilan sekitar kurang lebih 1300 dhs setiap bulannya. Kalau sedang ada tambahan, Ia bisa mengantongi kurang lebih 1500 dhs setiap bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua tahun ini Ia hidup dan tinggal di Dubai. Sebelumnya, selama beberapa bulan pertama, Ia sempat bekerja sebagai pembantu juga tetapi full Time, dimana ini adalah tempat bekerja yang disalurkan oleh sebuah agen tempat dia melamar pertama kali di Indonesia. Sebagaimana yang diceritakannya padaku, Ia tidak merasa kerasan bekerja di tempat atau keluarga tersebut. Karena personaliti dari anggota keluarga yang kasar. Dengan penuh semangat dan berapi-api, ketika bercerita padaku, akhirnya Ia berhasil melarikan diri dari rumah itu. Dan dengan bantuan teman-temannya, tidak lama setelah itu Ia sudah mendapatkan pekerjaan yang baru lagi sebagaimana yang dijalaninya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva ini luar biasa bagiku. Kenalannya banyak. Ia tidak takut pada siapa-siapa. Padahal, beberapa kejadian cukup membahayakannya. Seperti saat-saat dimana majikannya terdahulu mencarinya beberapa kali lewat jasa sebuah media cetak. Dan saat ini pun, sama halnya dengan Dalangka, Ia tidak punya dokumen yang sah dan lengkap sebagai pekerja imigran legal. Visanya juga sudah hampir kadaluarsa. Sementara passportnya entah dimana. Ia hanya menduga, mantan majikannya mengembalikan passport miliknya ke kantor keimigrasian. Sementara itu, untuk memperpanjang visa, biaya yang dikeluarkan sangat tinggi, antara 6000-10.000 dhs untuk masa berlaku 3 tahun. Atau 1000-1500 dhs untuk visa visit yang hanya berlaku per 2 bulan. Dengan gaji yang sangat minim, mana mungkin Ia sanggup membiayai perpanjangan visanya yang sangat mahal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, Eva ini umurnya juga 25 tahun. Bersambung ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-9012072153797825127?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/9012072153797825127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tempat-kos-baru-dan-orang-orangnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/9012072153797825127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/9012072153797825127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tempat-kos-baru-dan-orang-orangnya.html' title='Tempat Kos Baru dan Orang-orangnya'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/Rxr6P-fhIpI/AAAAAAAAADc/R7Zq0Oqj5qg/s72-c/IMG_0161.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-4155584436283604072</id><published>2009-05-19T22:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T22:37:36.983-07:00</updated><title type='text'>Tempat Kerja Yang Baru</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123700214819005250" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsKMufhI0I/AAAAAAAAAE0/RIvhlvYTfOA/s320/IMG_0235.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Deira, Shalahuddin 13 April 2007&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini hari ke-13 bulan ke-dua aku bekerja. Memasuki bulan ke-dua ini aku dipindahkan ke cabang lain di kawasan Up Town Mirdiff. Tentu saja aku senang. Bagiku, Mirdiff ini tempat yang romantis. Sepi, tata kotanya tidak terlalu padat, dan lokasi tempatku bekerja adalah sebuah kawasan apartemen mewah yang cukup tenang. selain itu, jarak tempuh Up Town Mirdiff dengan Deira hanya 10-15 menit saja. 30 menit kalau macet. Berbeda dengan tempat sebelumnya di Mall of Emirates (MoE), di Mirdiff penduduk lokalnya cukup banyak. Bisa dikatakan 50-50 perbandingannya dengan para ekspatnya. Entahlah kenapa aku lebih suka di sini. Padahal, customer yang datang ke restoranku tentu saja tidak seramai di MoE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari aku mencoba belajar banyak hal. Mulai dari karakter dan aksen Inggris dari orang-orang yang punya latar belakang yang berbeda-beda, hingga menu-menu yang harus dihafal. Mulai dari bahan-bahannya, asal negara yang memproduksinya, cara meracik dan membuatnya, hingga cara penyajiannya. Sedikit demi sedikit, pelan-pelan, aku mulai terbiasa dengan itu semua. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsIlOfhIyI/AAAAAAAAAEk/o6npmKcOWD0/s1600-h/IMG_0220.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123698436702544674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsIlOfhIyI/AAAAAAAAAEk/o6npmKcOWD0/s200/IMG_0220.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hhmm..di minggu-minggu awal, sungguh aku seperti orang yang paling bodoh. Banyak hal-hal bodoh yang aku lakukan. Dan parahnya lagi, para pimpinanku di tempat kerja, baik yang di MoE maupun yang di Mirdiff, seringkali tidak bisa toleran dengan itu semua. Dan mereka selalu mengancam bahwa aku akan dipulangkan. Atau minimal dapat warning letter. Padahal, kesalahanku sekitar salah sebut. Atau kurang cepat bergerak. Maklumlah tidak terbiasa. Lagipula mereka tidak sedikitpun memberikan training atau pengarahan dulu untuk aku dan satu orang temanku yang sama-sama tidak berpengalaman sebelum benar-benar dipekerjakan. Sementara mereka menuntut kita seperfect mungkin dan secepat mungkin. Singkatnya, kita dicemplungin, silahkan belajar sendiri, dan kalau salah, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Begitulah watak orang-orang tempatku bekerja. Mereka berkebangsaan libanon dan filipina. Kalau diambil hati, memang makan hati. Tapi aku selalu berfikir bahwa ini semua merupakan bagian dari dinamika dan resiko bekerja ; dibentak atasan, dikritik, dimarahi, atau paling kurangnya ditegur secara halus.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxHCnOfhITI/AAAAAAAAAAs/oe8iI06NqOs/s1600-h/IMG_0216.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Secara anak baru, teman-temanku juga terkadang tidak banyak membantu. Malah aku melihat kesan ada semacam nuansa arogansi senioritas yang terasa sangat kuat. Mereka juga berkelompok. Entahlah, kenapa itu yang terasa. mungkin, selain memang bawaan personal masing-masing, hal ini parahnya juga semakin dikuatkan oleh pengelolaan dan sikap dari managemen yang sulit. Gaya manajemen yang sulit ini jalin menjalin dengan karakter personalnya tadi. tapi aku secara pribadi, tertantang untuk bisa mengatasi keadaan ini minimal untuk diriku sendiri dimana tentu aku akan semakin tertantang bagaimana bis&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsJW-fhIzI/AAAAAAAAAEs/okeBvEu7CPY/s1600-h/IMG_0346.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123699291401036594" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsJW-fhIzI/AAAAAAAAAEs/okeBvEu7CPY/s200/IMG_0346.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a mengelola konflik yang kadang timbul dalam diri aku ketika berada terus-menerus dalam situasi ini tanpa bisa berbuat sesuatu. yah, tanpa bisa merubah sesuatu. paling tidak saat ini. sebab statusku masih percobaan. selain itu, aku hanya outsider, partikel yang paling terkecil dalam struktur tempat aku bekerja. tantangan pengelolaan diri ini adalah step awal dan pondasi yang harus aku kuatkan hingga paling tidak aku bisa berada pada titik aman. titik aman bahwa mereka bisa mengandalkanku dan aku bukan berstatus percobaan lagi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-4155584436283604072?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/4155584436283604072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tempat-kerja-yang-baru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4155584436283604072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/4155584436283604072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tempat-kerja-yang-baru.html' title='Tempat Kerja Yang Baru'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsKMufhI0I/AAAAAAAAAE0/RIvhlvYTfOA/s72-c/IMG_0235.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-3110765618935518626</id><published>2009-05-19T22:32:00.001-07:00</published><updated>2009-05-19T22:32:58.759-07:00</updated><title type='text'>Dubai dan Kehidupanku di dalamnya ( bag I )</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxHDJefhIUI/AAAAAAAAAA0/8fyDB3hXbyc/s1600-h/IMG_0158.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121088818868461890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxHDJefhIUI/AAAAAAAAAA0/8fyDB3hXbyc/s320/IMG_0158.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Deira, 20 Maret 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah negara pertama yang aku kunjungi dimana aku tinggal dan hidup dalam kurun waktu paling sebentar mungkin dua tahun. Di sini aku bekerja sebagai server di sebuah restoran Belgia. Sebuah restoran alternatif yang menawarkan jenis makanan berbahan dasar roti dengan tidak menggunakan bahan pengawet ( no preservatif). Semua makanannya didesain berbahan alami dan sehat. Direstoranku tidak diperbolehkan merokok. Hingga saat ini baru ada dua cabang yang beroperasi di Dubai. Restoran ini bernama Le Pain Quotidien. Bahasa perancis yang kalo diartikan ke bahasa Inggris yaitu the daily bread. Customer di restoranku sekitar 85% nya ekspat. Masyarakat lokal yang datang tidak sebanyak ekspatnya. Para ekspat ini rata-rata adalah orang-orang eropa yang kebetulan singgah dan menetap di Dubai. Karyawan di tempatku bekerja di dominasi oleh warga Libanon dan Filipina. Tapi ada juga yang berasal dari Nepal, India, Srilangka, dan Indonesia tentunya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123691800978072290" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsCi-fhIuI/AAAAAAAAAEE/hu3AjLmzzPI/s320/IMG_0159.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal di kawasan Deira. Sebuah kota lama yang cukup ramai dan sibuk. Di semua kawasan Dubai, memang selalu tampak ramai dan sibuk bahkan hingga 24 jam. Paling cepat toko-toko tutup jam 12 malam sampai jam 2 malam. Sementara kantor-kantor, bank-bank, banyak yang masih beropersai hingga jam 9 sampai jam 10 malam. Kalau ada yang berkesempatan berkunjung ke Dubai, maka kamu akan saksikan Dubai sedang melakukan pembangunan infrastruktur dimana-mana. Gedung-gedung perkantoran, apartemen, perhotelan, pusat perbelanjaan, arena wisata dan hiburan, jalan tol, jalan layang, dan sebagainya. Meskipun begitu, di sini suasananya cukup tenang, tidak sesemrawut Jakarta. Meskipun berdebu, tapi bukan karena debu polusi kendaraan atau pabrik-pabrik melainkan debu pasir. Karena lahan sekitar memang berbahan dasar pasir. Semua pembangunan tersebut tentunya cukup direncanakan dengan baik oleh pemerintah Dubai. Dan pada jam-jam berangkat kerja dan pada saat pulang kerja, akan juga tampak kemacetan lalu-lintas di mana-mana. Untuk yang satu ini, Dubai hampir sama dengan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di seluruh pelosok dunia yang masih bermasalah dengan kemacetan lalu lintasnya. Meskipun begitu, tingkat kemacetan di sini tidak separah Jakarta. Dimana kita akan selalu dibuat stress karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak antara tempat tinggalku dengan tempatku bekerja cukup jauh. Hampir satu jam tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi. Sebagai sarana transportasi umum, di sini terdapat beberapa bis umum dan taksi. Namun, Rata-rata orang di sini memiliki kendaraan pribadi atau sewa. Kendaraan taksi di sini seringkali tidak selalu mudah kita berhentikan meskipun di dalamnya tidak terdapat penumpang. Entah apa yang membuat para sopir taksi itu enggan berhenti. Apalagi pada pagi hari ketika orang-orang bergegas menuju tempat kerja. Hal ini berbeda sekali dengan taksi-taksi yang bisa kita dapatkan dengan mudah di Jakarta. Baik harga sewa kendaraan maupun sewa taksi relatif mahal bila dibandingkan dengan memiliki kendaraan pribadi atau sewa. Tidak heran untuk orang yang sudah menetap di Dubai dan punya penghasilan menengah ke atas, mereka lebih memilih untuk membeli kendaraan. Kendaraan di Dubai cukup murah. Tentunya untuk ukuran kurs dirham. Antara 40 sampai lebih dari 100 ribu dirham. itupun dengan mencicil selama kurang lebih 4 tahun, dimana setiap bulannya cukup menyicil sebesar 400 dhs sampai lebih dari 1000 dhs. Bila dibandingkan dengan rate salary di sini, seorang pelayan restoran seperti akupun sangat mungkin untuk memiliki kendaraan mobil baru yang lumayan. Namun meskipun begitu, justru biaya pembuatan lisensi kendaraannya bisa dua sampai 3 kali lipat. Tapi, itupun masih bisa di anggap murah untuk kurs dirham. Sebab rata-rata untuk pekerja professional, sekurang-kurangnya bisa berpenghasilan 5 sampai 6 ribu dirham perbulan. Seorang manager operasional yang membawahi restoran 4 buah sekaliber Le Pain Quotidien saja minimal bisa mengantongi 20 sampai 50 ribu dirham setiap bulannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123692419453362930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsDG-fhIvI/AAAAAAAAAEM/KHHFMBcSnAQ/s320/IMG_0534.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kebutuhan sehari-hari di sini bisa diperoleh dengan mudah dengan harga yang juga cukup terjangkau. Biaya yang cukup mencekik adalah pada harga sewa flat. Di bulan-bulan pertama saat baru tiba di sini, perusahaan tempatku bekerja memberikan fasilitas akomodasi. Gambarannya sangat berubah 180 derajat pada saat fasilitas tempat tinggal itu habis dan kita terpaksa harus angkat kaki mencari tempat tinggal sendiri. Fasilitas apartemen yang lumayan mewah, berubah menjadi sebuah flat yang sangat-sangat sederhana dengan jumlah orang tiap kamar lebih dari 4 sampai 10 orang untuk ruangan berukuran 4x3 sampai 5x6 saja. Dengan bentuk tempat tidur yang bertingkat. Untuk kondisi tersebut, biaya yang dikeluarkan sekitar 500 sampai 700 dirham sudah termasuk listrik. Namun jika ingin yang sedikit lebih nyaman dengan hanya 2-3 orang saja dalam satu kamar berukuran kecil, maka biaya yang dikeluarkan sekitar 1000-1250 tiap orangnya. Namun, diluar semua itu, semua harga kebutuhan sehari-hari, termasuk sandang, cukup murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dubai adalah sebuah Negara baru yang multikultural. Ia bisa dikatakan sebagai melting pot yang memberikan ruang bagi para pencari kerja di seluruh dunia untuk bekerja dan menetap di sini. Hampir semua kebangsaan ada di sini. Bagiku Dubai Negara yang pada beberapa hal bisa mengakomodir nilai-nilai liberal di dalamnya. Seperti halnya contoh dalam menerapkan aturan tata kesusilaan di masyarakatnya, masyarakat di sini diperbolehkan tinggal satu atap bersama pasangannya tanpa terikat sebuah pernikahan. Memang hal ini tidak diatur secara resmi, akan tetapi telah menjadi common sense yang dilegalkan secara diam-diam. Namun, hal ini bukan berarti kita bisa leluasa bermesraan, berciuman, ataupun hanya sekedar bergandengan tangan di tempat-tempat umum. Para petugas yang menemukan hal ini terjadi akan memberikan minimal punishment berupa denda paling kurang 500 dirhams. Jumlah yang lumayan yang bila di tukar ke dalam rupiah sekitar 1,3 juta rupiah. Begitulah yang kuamati sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tet&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsEbOfhIwI/AAAAAAAAAEU/a0e6qkgd9Ok/s1600-h/IMG_0543.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5123693866857341698" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxsEbOfhIwI/AAAAAAAAAEU/a0e6qkgd9Ok/s200/IMG_0543.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;api, Dubai adalah tempat yang aman. Meskipun ada juga tindakan kriminal, tapi sangat jarang. Aku juga bisa saksikan kendaraan yang parkir di tempat-tempat terbuka tanpa mereka merasa takut kendaraannya dicuri atau dikerjai orang. Namun, bagi para perempuan yang berjalan sendirian terutama pada larut malam, bersiap-siaplah paling kurang digoda, atau diikuti orang tak dikenal, atau juga diikuti kendaraan. Tapi, tidak usah takut karena hal itu tergantung bagaimana kita menanggapinya. Sebab, di Dubai ini banyak juga para perempuan yang bekerja sebagai wanita penghibur. Di wilayah tertentu seperti Deira atau Bur Dubai misalnya, mulai jam delapan malam, akan banyak dijumpai para perempuan ini bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Hal ini sudah menjadi lumrah. Keadaan ini juga tidak jarang terjadi padaku. Sebab, seringkali aku berjalan sendirian pada larut tengah malam melewati pertokoan yang sebagiannya sudah tutup. Mobil-mobil yang hampir semua dikendarai oleh warga berkebangsaan arab atau india dan pakistan berhenti, menyamai langkahku, membukakan pintu, menyodori sejumlah uang, atau hanya sekedar menyapa atau bersiul. Sedikitpun aku tidak pernah menanggapinya. Maka mereka pun akan berlalu begitu saja. Mereka tidak pernah sampai mengganggu secara fisik, dan membuat kita merasa tidak aman. Sejauh yang kualami yang terjadi adalah mereka hanya cukup tahu bahwa aku bukan bagian dari perempuan penghibur, atau perempuan yang bisa mereka kencani. Dan mereka pun akan berlalu dengan sendirinya. selain itu, para petugas keamanan juga sangat responsif dalam menangani kekurangnyamanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-3110765618935518626?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/3110765618935518626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-dan-kehidupanku-di-dalamnya-bag-i.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/3110765618935518626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/3110765618935518626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/dubai-dan-kehidupanku-di-dalamnya-bag-i.html' title='Dubai dan Kehidupanku di dalamnya ( bag I )'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/RxHDJefhIUI/AAAAAAAAAA0/8fyDB3hXbyc/s72-c/IMG_0158.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22265028814277235.post-7199798897364315505</id><published>2009-05-19T22:26:00.000-07:00</published><updated>2009-05-19T22:27:12.529-07:00</updated><title type='text'>TentangKu</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SNIVKdfaeXI/AAAAAAAAAQg/gOSDWYOqWOk/s1600-h/1_774233669l.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SNIVKdfaeXI/AAAAAAAAAQg/gOSDWYOqWOk/s200/1_774233669l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247279785299310962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Namaku pitri. Pitri Handayani. Aku lahir di Sukabumi 26 tahun yang lalu. Kedua orang tuaku asli sunda. Ibuku berasal dari Bogor,sedang bapakku dari Ciamis. Saking sundanya tanpa sadar mereka memberiku nama di akte lahir Pitri. Bukan Fitri seperti nama-nama Fitri biasanya. Tapi itu semua tidak penting. Masa kecilku ku habiskan di Sukabumi. Masa kecil yang cukup menyenangkan tapi juga tidak terlalu memuaskan. Lulus Tsanawiyah aku dimasukkan ke pesantren di Sukabumi. Padahal, bukan cita-citaku masuk pesantren. Sehari sebelum masuk pesantren, Ibuku memberikan hukuman karena aku pulang telat. Padahal saat itu masih jam 6 petang. Dan esoknya, secara terpaksa, akupun jadi seorang santri. Lulus Aliyah, aku bingung. Aku ingin keluar dan berada jauh dari pantauan orang tua. IAIN satu-satunya pilihan yang diberikan orangtuaku untuk kumasuki. Dan selain itu, alasan ekonomi pun jadi pertimbangan. Karena pada saat aku masuk kuliah di IAIN, barangkali inilah satu-satunya perguruan tinggi negeri termurah di dunia. (he..) dan bagi mereka, orangtuaku, selama itu ada identitas agama, maka orangtuaku pasti mengijinkan. Awalnya aku memilih Bandung, tanpa tahu alasan kenapa Bandung yang kupilih. Tapi kemudian aku memilih Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat memasuki awal kuliah, tepatnya pada saat ingin menentukan jurusan, aku seperti anak hilang. Aku tidak tahu ingin masuk jurusan apa. Dan akhirnya aku memilih tarbiyah karena alasan yang sangat sederhana dan pragmatis. Bahwa aku hanyalah seorang perempuan yang profesinya tidak jauh dari mengajar seandainya suatu saat aku dituntut harus bekerja. Sangat sederhana waktu itu. Jurusan bahasa arabpun kupilih. Dan itupun untuk alasan yang sangat sederhana pula. Bahwa dengan bahasa arab, aku bisa memahami islam dengan detail berdasarkan rujukan klasik yang dimilikinya. that's it. tapi jalan hidup berbicara lain. Aku tidak suka dengan rutinitas perkuliahan yang membosankan. Aku tidak begitu dekat dengan teman-teman sekelas. Aku jarang kuliah. Hingga memasuki semester 6, aku mengalami titik dimana aku merasa sangat jenuh. Hingga aku berkenalan dengan sebuah forum studi di Ciputat bernama FORMACI. Disinilah turning point aku mengalami euphoria dalam menjalani fase hidupku yang kedua. Aku seakan lahir kembali menjadi seorang Pitri yang berbeda. Pitri yang baru. Aku begitu bangga dengan FORMACI saat itu dan sangat berterimakasih tuhan telah memberiku jalan bisa mengenalnya. Bagaimana lika-liku aku bergulat didalamnya, akan kuceritakan khusus nanti di Blog ini. Saat ini dan seperti sebelumnya, aku tidak pernah punya pekerjaan tetap. Aku pernah menjadi volunteer sebuah LSM hukum dan HAM di kawasan cikini kurang lebih 3 sampai 4 bulan. Aku juga pernah ikut menjadi surveyor untuk beberapa penelitian di Pusat Pengembangan Islam dan Masyarakat (PPIM) IAIN Ciputat dan juga untuk lembaga Survey Indonesia (LSI). Dan yang paling terbaru, sebagai guru bahasa Inggris selama kurang lebih dua setengah tahun di sebuah lembaga swasta untuk pelatihan bahasa inggris dan komputer. Selain sebagai staf pengajar di sana, aku juga pernah dua kali dipercaya sebagai koordinator program bahasa Inggris di dua cabang yang berbeda. Dan terakhir, saat ini aku bekerja sebagai server di sebuah restoran Belgia di Dubai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya aku senang berpetualang. Aku tidak bisa menetap dalam satu tempat atau bidang yang sama dalam kurun waktu yang panjang tanpa adanya sebuah tantangan. Aku senang berpindah dari satu tempat ke tempat baru yang lain. Belajar mengenal dunia satu dengan dunia yang lain. Bagiku, waktu terlalu berharga bila setiap hari hanya diisi dengan aktivitas yang itu-itu saja. Dan dengan semakin mengenal dunia dengan berbagai macam orang, aku berharap aku akan semakin bisa mengenal diriku dengan baik. Hanya itu pointnya dari sekian perjalanan yang mungkin kurencanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang dengan kebebasan. Meskipun untuk meraihnya, aku harus selalu membayar mahal untuk itu semua; jauh dari keluarga, ditinggal pacar, dan tetap sendirian serta kadang kesepian. Meskipun, aku tidak pernah merasa hampa karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, bertahun-tahun aku merasa hidupku hanya seperti sebuah boneka. Diatur, dibentuk, dan dikendalikan oleh sebuah lingkungan dan juga orang-orang yang justru kita cintai. Hingga pada satu titik aku sadar bahwa bukan itu yang aku mau. Bukan itu yang aku cari. Dan jadilah aku begini. Loncat dari satu titik ke titik lain, lari dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan sebetulnya hingga saat ini pun, aku masih belum merasa bahwa 'inilah' yang aku mau untukku jalani. Dan aku pun cukup dibuat penasaran, kemana ending ini akan ku bawa….&lt;br /&gt;Selamat menikmati blog-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22265028814277235-7199798897364315505?l=phandayani80bahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/feeds/7199798897364315505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tentangku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/7199798897364315505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22265028814277235/posts/default/7199798897364315505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://phandayani80bahasa.blogspot.com/2009/05/tentangku.html' title='TentangKu'/><author><name>Pitri Handayani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06335722481374925838</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_waqE0C_aE04/SbZYrzS9leI/AAAAAAAAADs/XGJ2BVmuUbw/S220/IMG_3259.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_KQy-SKwQ4Ds/SNIVKdfaeXI/AAAAAAAAAQg/gOSDWYOqWOk/s72-c/1_774233669l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
